Sabtu, 24 Februari 24

Pesawat N219 Uji Terbang 14 kali. Butuh Dana Besar dan Dukungan Pemerintah

Pesawat N219, sudah memasuki tahap test flight atau uji coba yang ke-14 kalinya, dengan sukses di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, pada Hari Jumat, mulai pukul 09.00 sampai dengan 10.00 wib (2/2/18). Disaksikan sejumlah jurnalis yang datang dari berbagai kota di Indonesia, termasuk jurnalis ‘Indeks Berita’, pesawat berpenumpang 19 orang, yang uji terbang pertamanya sejak Agustus 2107 ini, masih membutuhkan 300 jam terbang lagi.

Hal ini sebagai syarat utama, untuk mendapatkan sertifikat laik terbang, setelah melalui analisa berbagai data yang diperoleh, secara berkesinambungan. Captain Pilot Esther mengungkapkan perasaan bahagianya, setelah mendarat dengan selamat usai berputar mengililingi wilayah Jawa Barat selama kurang lebih 1 jam.

“Kondisi pesawat sangat bagus
ini uji coba yang ke empat belas kali. Masih membutuhkan ratusan jam terbang lag, sebelum terbang bersama penumpang,” ungkap Esther, sesaat setelah mendarat dengan N219 proto type pertama ini, yang digerakkan oleh 2 enggine, setara Mesin Cesna atau Twin Otter tersebut.

Pesawat N219 di Hanggar Husain Sasranegara
Pesawat N219 di Hanggar Husain Sasranegara

“Proses sertifikasi adalah proses yang rumit dan panjang. Tak hanya 300 jam terbang sebagai target untuk sertifikasi, tapi masih ada uji kelayakan lainnya yang akan dilakukan diwilayah lainnya, seperti diwilayah Kalimantan dan Papua, serta wilayah lainnya di Indonesia,” jelas Ade Yuyu Wahyuna, Vice President Sale dan Director of Commerce PT Dirgantara Indoensia (Persero), perusahaan yang siap memproduksi pesawat jarak tempuh pendek ini, sebanyak 50 unit setiap tahunnya.

Menurutnya, yang paling subtansial selama masa uji coba tersebut, adalah menyempurnakan fungsi elevasi pesawat N219, sebagai variabel utama, dari banyaknya variael penting yang menentukan layak tidaknya sebuhmah pesawat komersiak terbang bersama penumpangnya.

Dan yang tak kalah pentingnya dalam Flight testing tersebut adalah kebutuhan akan biaya operasional yang cukup besar, khususnya untuk tes flight ke luar wilayah Bandung.

Menurut Ade Yuyu Wahyuna, potensi komersial N219 sangat besar di 34 wilayah provinsi di Indonesia. Sementara dalam konteks global, harus bersaing dengan 2.000 unit pesawat sejenis

“Saat ini kami sedang melakukan negosiasi dengan calon operator penerbangan dari Mexico dan China yang memiliki banyak sekali wilayah terpencil , jelas Ade, yang menyebutkan bahwa Pesawat N219, dibuat sebagai Bush Plane, bukan Air Craft.

IMG-20180203-WA0025

Prinsip dasar produksi N219, dijelaskan oleh Ade, adalah bagaimana memproduksi pesawat yang kelak menguntungkan operator sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman pada penumpang.

“Operator sipil seperti Trigana Air, Avia Star, Pelita Air menjadi target kami untuk menjual N219. Khusus dengan pihak Pelita Air, negosiasi telah berlangsung ketahap yang serius,” terang Ade, sembari menjelaskan bahwa atas permintaan Kementerian BUMN, Operator Prlita Air, sebagai first lounge customers.

Salah satu tantangan pemasaran yang akan dihadapi oleh N219, adalah kompetitor dari luar negeri, menjual pesawat sejenis dengan bunga bank hanya 3 persen. sementara bunga bank dalam negeri mencapai angka 6 persen.

Karenanya ia mengharapkan, pemerintah turut mendukung upaya PT Dirgantara Indonesia, yang selama ini memproduksi oesawat militer. agar harga jual pesawat yang diperkirakan sebesar 6 juta US Dollar per unit, bisa dibeli dengan bunga bank rendah, dibawah 3 persen.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait