Sabtu, 3 Desember 22
Beranda Featured Pesan dari Copenhagen, Jadikan Perempuan Sebagai Arus Utama Pembangunan

Pesan dari Copenhagen, Jadikan Perempuan Sebagai Arus Utama Pembangunan

0

Copenhagen, Denmark – Sebanyak 4.547 peserta terdiri dari birokrat, pekerja kesehatan, anggota legislatif, aktivis LSM, dan jurnalis tercatat menjadi peserta Konferensi Global Women Deliver ke-4, di Copenhagen, Denmark.

Tujuan utama konferensi adalah mencari strategi bersama untuk memastikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs nomor lima tentang Kesetaraan Gender bisa segera diwujudkan.

Konferensi yang akan berlangsung pada 16 -19 Mei 2016 itu, dibuka dengan menghadirkan keynote speakers Putri Mahkota Denmark, Marry Elizabeth dan PM Denmark Lars Lokke Rasmussen pada Senin sore (16/5/16).

Dalam kata sambutannya, Putri Mahkota Marry Elizabeth menyesalkan masih banyaknya kasus kematian ibu-ibu saat hamil dan saat melahirkan, serta kematian balita di bawah umur 2 tahun di seluruh dunia.

Hampir 90% dari kasus kematian yang terjadi adalah karena tak ada tindakan-tindakan pencegahan yang memadai, termasuk  salah satunya adalah karena masih maraknya perkawinan para gadis di bawah usia 18 tahun.

Sementara itu, PM Lars Lokke Rasmussen, mengingatkan bahwa ada hubungan sebab akibat dari pembangunan berkelanjutan dan kesetaraan gender.

Menurutnya, yang kedua merupakan penyebab yang pertama. Sehingga, tidak bisa tidak, perempuan harus menjadi sentral atau subyek dalam proses pembangunan demi tercapainya pembangunan berkelajutan.

Selanjutnya, Ketua panitia, Jill Sheffield, yang tampil mengenakan batik Indonesia, dalam pidato pembukaannya mengingatkan bahwa Konferensi diharapkan untuk menemukan cara berpikir baru, kemitraan baru, dan solusi baru.

Hal itu disebabkan karena masih banyak tantangan yang harus dikerjakan bersama-sama secara global agar tujuan pembangunan berkelanjutan kelima bisa diwujudkan.

Arus Utama Pembangunan

Delegasi peserta konferensi dari Indonesia, Eva K. Sundari mengatakan, isu gender tidak sepatutnya menjadi topik tersendiri, tema terpisah, atau isu sektoral, melainkan harus menyatu dan menjadi arus utama dalam pembangunan.

Delegasi Indonesia Eva K. Sundari bersama dengan Ketua Panitia Global Women Deliver Conference ke-IV, Jill Sheffield (tengah, berbaju batik), dan peserta konferensi dari Pakistan, Copenhagen, Denmark, Senin, 16 Mei 2016. (foto: istimewa)
Delegasi Indonesia Eva K. Sundari bersama dengan Ketua Panitia Global Women Deliver Conference ke-IV, Jill Sheffield (tengah, berbaju batik), dan peserta konferensi dari Pakistan, Copenhagen, Denmark, Senin, 16 Mei 2016. (foto: istimewa)

“Isu gender harus terintegrasi dan menjadi mainstream dalam siklus pembangunan mulai perencanaan hingga evaluasi atau monitoringnya,” ujar Eva di sela konferensi.

Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan itu menambahkan, strategi itulah yang dipraktekkan di Denmark sehingga negara tersebut memperoleh reputasi sebagai negara paling aman, dan paling ramah terhadap perempuan dan kanak-kanak sekaligus paling sejahtera.

Human Development Index (HDI) Denmark masuk dalam kelompok tertinggi di dunia.

“Strategi demikian tentu amat menantang untuk dijadikan barometer penyelesaian bagi situasi Indonesia yang sedang dalam status darurat kejahatan seksual dan angka kematian Ibu terburuk di ASEAN,” kata Eva menambahkan.

Terkait itu, Eva menyesalkan putusan Mahkamah Konstistusi (MK) yang menolak tuntutan pembatalan pasal usia menikah perempuan yang masih berusia16 tahun di UU Perkawinan. Padahal, ketentuan itu terbukti jauh lebih banyak menimbulkan ekses negatif dalam kehidupan sosial di Indonesia.

Seperti diketahui,  dokumen Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs) 2015-20230, telah disahkan oleh PBB di New York pada September 2015.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ini menggantikan Millennium Development Goals (MDG) yang berakhir pada 2015.

Dokumen itu terdiri dari 17 tujuan (goals) yang terbagi menjadi 169 target dan sekitar 300 indikator. Tujuan ke-5 SDGs (dengan 9 target) adalah menjamin kesetaraan gender serta memberdayakan seluruh perempuan.