Minggu, 14 Agustus 22

Perpustakaan Bemo Keliling

Sutino yang akrab disapa Kimong, sudah lebih dari 30 tahun menjadi pengemudi bemo. Setiap pagi dan sore hari, pria lulusan Sekolah Dasar (SD) ini mengemudikan bemonya mengantar penumpang yang kebanyakan karyawan dan mahasiswa di kawasan Karet, Jakarta Pusat.

Tak jarang bemo miliknya mogok di tengah jalan dan terpaksa didorong oleh sesama rekan pengemudi bemo. Penghasilan dari mengemudikan bemo memang tak seberapa, namun kecintaannya pada kendaraan yang sudah ada sejak tahun 70-an dan menjadi identitas kota Jakarta ini membuat Kimong tetap bersemangat.

“Dapet duit dari bemo rata-rata seratus ribu sehari asal nggak mogok,” kata pria berkumis tebal sembari tertawa.

Disela-sela kegiatannya sebagai mengemudi bemo, berbekal ratusan buku hasil sumbangan, setiap senin sampai jumat Kimong menyulap bemo kesayangannya menjadi perpustakaan keliling dan menyambangi sekolah demi sekolah dengan membawa buku-buku edukatif koleksinya. Kedatangan perpustakaan bemo keliling yang dijalankan Kimong selalu disambut antusias. Selain itu, sekitar seminggu sekali, di malam hari, Kimong memanfaatkan bemonya sebagai sarana untuk menggelar bioskop layar tancap, film yang diputarnyapun hanya film Indonesia hasil anak negeri.

Kimong bercerita awal kegiatannya “berbakti sosial” dengan bemonya ini, terjadi sekitar tahun 2010 silam. Ketika itu, kondisi penghasilan yang diperoleh dari menarik bemo tengah terpuruk.

“Bemo nongkrong, bensin nggak bisa beli, penumpang sepi, tadinya bemo mau saya jual terus datang dosen dari sebuah universitas mau beli bemo buat internet keliling tapi kemudian mereka tertarik buat nyewa bemo saya untuk dijadiiin perpustakaan. Lama-lama saya jadi tertarik buat bikin sendiri,”cerita Kimong.

Bagi pria berusia 57 tahun yang memiliki 7 orang anak ini, rasa lelah berkeliling langsung terbayar saat murid-murid berlari mengejar bemonya yang memasuki halaman sekolah untuk membuka perpustakaan keliling atau saat dirinya masuk ke perkampungan padat untuk membuka hiburan layar tancap keliling.

“Saya kecilnya terombang-ambing di jalan yang ngerasa haus hiburan…kurang pendidikan nah saat saya umur udah segini ada kesempatan buat saya berbuat baik, biar anak-anak sekarang nggak kayak saya dulu, biar mereka yang nggak mampu bisa dapat pendidikan dan hiburan,” jelas Kimong

Meski seluruh biaya operasional untuk membuka perpustakaan keliling dan layar tancap keliling ini dibiayainya sendiri dari hasil mengemudikan bemo, Kimong tidak merasa keberatan. Tidak ada motivasi lain, menurut Kimong, selain memberikan pendidikan dan hiburan bagi anak-anak kurang mampu. “Kegiatan seperti ini suatu kebanggaan buat saya, karena diusia setua ini masih berguna bagi orang banyak” ujar Kimong.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait