Perlawanan masyarakat menolak reklamasi Teluk Benoa di Bali, kini kian menggema ke seluruh pelosok negeri ini. Pada hari minggu 25 September 2016, dalam momentum hari Maritim Dunia, dan sebagai peringatan Puputan Badung ke 110, Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi melakukan Kirab Bendera Merah Putih.
Pada hari yang sama, Jakarta ForBALI melakukan aksi solidaritas terhadap Gerakan Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa tersebut.
Kegiatan ini dilakukan demi menyelamatkan Bali, terutama daerah Teluk Benoa yang akan dilakukan reklamasi oleh pemerintah. Teluk Benoa merupakan kawasan konservasi, yang menyangga berbagai keragaman hayati, sumber penghidupan bagi masyarakat, serta kawasan suci bagi masyarakat Hindu di Bali.
Mereklamasi kawasan Teluk Benoa berarti juga menimbun perairan yang dihidupi berbagai spesies yang merawat keanekaragaman hayati, juga menjarah hak sipil masyarakat setempat untuk memiliki lingkungan hidup yang sehat, serta menjalankan keyakinannya dengan aman dan nyaman.
“Jakarta ForBALI sudah melakukan aksi solidaritas dan terus mendukung semangat Rakyat Bali yang melindungi Teluk Benoa dari ancaman reklamasi tanpa gentar. Pesan dari aksi solidaritas ini tegas dan jelas. Kami menyerukan dicabutnya Perpres No. 51 Tahun 2014!”, ujar Saras Dewi dari ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa) simpul Jakarta di Jakarta (25/9).
“Aksi solidaritas ini merupakan dukungan terhadap aksi-aksi yang telah dilaksanakan di Bali yang dipimpin oleh Pasubayan Desa Adat Bali Tolak Reklamasi. Aksi solidaritas ini bermaksud untuk menggemakan suara masyarakat di Bali”, lanjutnya.
Hingga saat ini, lebih dari 4 tahun Rakyat Bali meminta pemerintah untuk membatalkan proyek reklamasi Teluk Benoa dan mengembalikan status konservasi daerah tersebut dengan mencabut Peraturan Presiden No. 51 Tahun 2014.
Jakarta ForBALI memberi penghargaan setinggi-tingginya bagi gerakan penyelamatan lingkungan hidup dan wilayah hidup rakyat yang konsisten dan terus membesar ini.
“Gerakan Rakyat Bali saat ini menjadi contoh gerakan sosial yang berjiwa nasionalisme. Gerakan ini seperti mercusuar gerakan perlindungan pesisir Nusantara saat ini. Kami banyak belajar dan terinspirasi oleh Rakyat Bali akan makna nasionalisme sesungguhnya. Dalam rangka peringatan hari Maritim Dunia ini, Bali memberikan contoh bagi banyak daerah lain dan mengingatkan bangsa Indonesia tentang bagaimana rakyat melindungi Tanah Airnya dari keserakahan. Kalau dulu dari keserakahan kolonial, hari ini dari keserakahan pemodal,” ujar Saras yang sehari-harinya adalah Dosen Filsafat UI.
Menanggapi aksi Kirab Bendera Merah Putih yang dilaksanakan di hari yang sama, Saras kembali menekankan, “Semangat Puputan dan nasionalisme sejati Rakyat Bali yang kental dalam perjuangan Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa ini kami dukung penuh sebagai bagian dari Bangsa Indonesia, NKRI. Kami sadar bahwa Kirab Bendera Merah Putih ini dilakukan Pasubayan Desa Adat dengan semangat melindungi Maritim Indonesia, melindungi Pesisir Nusantara, demi komitmen kita sebagai Bangsa yang tidak boleh lagi memunggungi pesisir dan perairannya”, pungkasnya.