Kamis, 7 Juli 22

Perhelatan Jokowi dan Titik Balik Jenderal Gatot

Salah satu fenomena menarik dalam perhelatan Presiden Jokowi awal November lalu, adalah kehadiran dua jenderal yang selama ini dianggap dekat dengan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, yakni Jenderal Purn Moeldoko dan Letjen Edy Rahmayadi (Pangkostrad). Moeldoko memberikan sambutan pada resepsi malam hari, atas nama Keluarga Besar Jokowi.

Sementara Edy Rahmayadi memimpin rombongan keluarga besar Afif Nasution (calon menantu Jokowi) dari Medan, dalam resepsi pagi menjelang akad nikah puteri Jokowi, kebetulan Edy juga berasal dari Medan. Peran khusus Moeldoko dan Edy Rahmayadi dalam perhelatan Jokowi, telah memberikan efek cooling down hubungan antara Jokowi dan Jenderal Gatot yang sebelumnya sempat bermasalah.

Bersiap Pensiun

Komunitas warganet (netizen) mulai ramai membicarakan jadwal pensiun Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (Akmil 1982). Bisa jadi publik mulai lelah mengikuti manuver  politik Jenderal Gatot, yang sudah jauh keluar dari domainnya selaku pimpinan TNI. Kira-kira bahasa sederhananya begini, di tengah kehidupan yang makin kompleks, narasi Gatot justru menambah beban pikiran, ketimbang sebuah pencerahan.

Hampir semua langkah Gatot kurang direspons  publik, terakhir soal gagasan nobar (nonton bareng) film “G30S/PKI”. Masih ada waktu bagi Gatot untuk merebut kembali simpati publik sebelum jabatannya berakhir. Secara administratif Gatot akan pensiun  pada Maret 2018, rasanya tidak ada percepatan atau perpanjangan. Bahasa tubuh Presiden Jokowi sudah bisa menjelaskan, bahwa tidak ada rencana perpanjangan masa jabatan bagi Gatot.

Jenderal Gatot sendiri tampaknya sudah siap memasuki masa pensiun, karena itu dia menyebut upacara peringatan Hari TNI baru-baru ini sebagai yang terakhir baginya. Mungkin karena dianggap yang terakhir, upacara tempo hari dibuat kolosal, semacam pesta perpisahan.

Setelah resmi berpamitan pada Hari TNI,  belum muncul lagi kontroversi yang muncul. Dan semakin sejuk saja usai perhelatan Presiden Jokowi di Solo, baru-baru ini. Semoga ini akan berlanjut terus sampai hari terakhir pengabdiannya nanti. Ini sebagai upaya terakhir merebut kembali simpati publik, sebagai modalitas bila ingin turun ke gelanggang politik pasca-purnawirawan.

Titik Balik

Tentunya Gatot tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada pada pendahulunya, yakni Jenderal (Purn) Moeldoko (Akmil 1981), yang nyaris dilupakan publik ketika menjalani pensiun. Memang akhirnya Moeldoko sedikit terselamatkan dengan menjadi Ketua Umum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), namun dalam pandangan Gatot, posisi itu tidak sepadan sebagai mantan Panglima TNI. Gatot ingin posisi yang lebih menentukan di negeri ini.

Soal apa yang bisa dilakukan dalam sisa waktu yang tersisa, salah satunya Gatot bisa meniru apa yang dulu pernah dilakukan Jenderal Wismoyo Arismunandar (Akmil 1963), saat akan mengakhiri jabatannya selaku KSAD, seputar tahun 1995. Wismoyo melakukan kunjungan secara acak pada satuan-satuan di penjuru Tanah Air.

Dengan keliling seperti itu, Wismoyo bisa bermetamorfosis, dari tokoh antagonis di masa awal sebagai KSAD, kemudian menjadi protagonis di masa akhir jabatannya. Disebut antagonis,  sebab Wismoyo bisa menjadi KSAD  berkat hubungan kekerabatan dengan (Presiden) Soeharto.

Selain itu, pesaing utamanya untuk posisi KSAD, yakni Mayjen Sintong Panjaitan (Akmil 1963),  sudah tersingkir,  melalui rekayasa politik tingkat tinggi terkait Peristiwa Santa Cruz (November 1991). Terlebih penggantinya selaku KSAD, yakni Jenderal Hartono (Akmil 1962), melakukan blunder dengan mendorong TNI AD lebih merapat pada Golkar, yang berujung menurunnya citra Hartono, dan menjadikan sosok Wismoyo semakin unggul.

Kontroversi selama Gatot menjadi Panglima TNI, tentu menjadi rujukanbagi generasi milenial. Dalam imajinasi generasi milenial, daya tarik menjadi perwira TNI tidak lagi sekuat generasi-generasi sebelumnya. Bagi generasi milenial, menjadi perwira TNI, sama menariknya saat mereka ingin menjadi pejabat publik atau menjalankan bisnis rintisan (start up). Pada titik inilah arti penting manuver Gatot, karena dia sanggup mempengaruhi persepsi generasi baru terhadap profesi militer.

 

Penulis Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Saat ini menjadi editor buku

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait