Sabtu, 10 Desember 22

PERAN ASRAMA MAHASISWA DI YOGYAKARTA

Yogyakarta telah mulai dikenal sebagai kota pendidikan sejak lama.  Sejak tahun 1970-an Yogyakarta sering mendapat sebutan sebagai kota pelajar, pelajar dalam hal ini mencakup pelajar dan mahasiswa, (Kurniawati, 2012: 128). Sebutan ini diubah menjadi kota pendidikan pertama kali oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Jusuf  dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional di Yogyakarta yang menyatakan gembira, karena semakin lama semakin terbukti bahwa Yogyakarta menjadi kota pendidikan, pelajar dari pelbagai penjuru tanah air menuntut ilmu pengetahuan, (2012: 129).

Citra Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan cukup kondang di berbagai wilayah Indonesia.  Kota ini dikenal cukup nyaman dan menjadi impian anak muda untuk meneruskan pendidikannya. Citra ini diperkuat realitas sosial yang ada dengan berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan dan maraknya kegiatan mahasiswa (Kurniawan, 2012: 139).  Hal ini diikuti dengan sikap ramah dan peduli  dari Sri Sultan HB IX yang  membuka kraton bagi penyelenggaraan pendidikan yakni, pagelaran kraton untuk dimanfaatkan sebagai ruang kuliah fakultas ilmu politik  Ndalem Mangkubumi untuk ruang kuliah fakultas kedokteran, Ndalem Yudhoningrat untuk fakultas sastra,  dan Ndalem Notoprajan untuk asrama mahasiswa sebelum Universitas Gadjah Mada memiliki gedung sendiri.  Kepedulian  HB IX ini mencerminkan  sikap kepedulian masyarakat Yogyakarta terhadap  pentingnya pendidikan untuk mempersiapkan calon pemimpin bangsa. Sultan Yogyakarta itu juga mempersilakan siapa pun tinggal dan belajar di Yogyakarta.

Saat ini di Yogyakarta  berdiri lebih dari 120 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Tahun 2013 tercatat sekitar 310.860 mahasiswa dari 33 provinsi di Indonesia belajar di Yogyakarta. Dari jumlah itu, 244.739 orang atau 78,7 persen adalah mahasiswa perantau dari luar daerah (Kompas, 9 April 2013). Seiring dengan makin banyaknya mahasiswa dari luar daerah, bermunculan pula asrama mahasiswa dari berbagai  provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia.  Menurut catatan pemerintah, saat ini ada 30 provinsi se-Indonesia yang memiliki asrama mahasiswa di DIY. Jumlah asrama daerah bahkan lebih dari angka itu, sebab beberapa kabupaten dari provinsi tertentu juga ikut mendirikan asrama sendiri. Di Kota Yogyakarta sendiri ada 73 asrama mahasiswa dari sejumlah daerah, (Republika.com: 2013).

Pada awalnya kehadirannya,  asrama-asrama daerah di Yogyakarta dimaksudkan sebagai sarana pemerintah daerahnya untuk membantu  para mahasiswa daerah masing-masing yang belajar di Yogyakarta.  Tujuannya agar mereka, mendapatkan tempat tinggal yang jelas dan pantas selama masa belajar, (Zudianto, 2008: 82).   Asrama mahasiswa ini  memang sangat membantu mahasiswa. Calon pemimpin dan intelektual itu bisa tinggal tanpa membayar sewa di asrama. Mereka hanya diwajibkan memelihara fasilitas, menjaga ketertiban, lama tinggal dan syarat ringan lainnya. Mahasiswa dikondisikan untuk belajar lebih tekun dan diharapkan lulus tepat waktu, sehingga putra-putri daerah yang berikutnya bisa memanfaatkan fasilitas yang ditinggalkan.

Menyusul kejadian tindak kekerasan yang berbau atau dikaitkan etnis beberapa waktu, lalu memunculkan wacana untuk membatasi izin pendirian asrama daerah di Yogyakarta. Pernyataan  Gubernur DIY, Sri Sultan HB X  agar pemerintah daerah memperketat penambahan asrama mahasiswa, (Kedaulatan Rakyat. com).    Salah satu alasannya, keberadaan asrama tersebut menghambat pembauran mahasiswa penghuninya dengan masyarakat. Mahasiswa yang datang ke Yogyakarta seharusnya tidak sekadar menuntut ilmu, tetapi juga belajar mengenal dan berbaur dengan masyarakat dan budaya lokal.  Sesuai dengan pernyataan yang disampaikan Herry Zudianto, kehadiran asrama daerah semakin lama semakin menimbulkan kesan eksklusif dan dalam konteks tertentu terkesan angker, orang luar tidak berani masuk ke dalam asrama tersebut, (2008:82).

Asrama daerah sebenarnya bisa berperan lebih dari sekadar tempat pondokan bagi mahasiswa perantau. Asrama bisa menjadi etalase dalam mengenalkan budaya daerah asal, sekaligus tempat mahasiswa beradaptasi dengan budaya lokal, bahkan lebih jauh bisa menjadi pusat informasi bisnis dan wisata daerah. Kecenderungan terjerumusnya asrama daerah ke dalam eksklusivisme etnik karena berjarak dengan warga sekitar harus dihindari.

Eksklusivisme menjadikan para mahasiswa secara tidak sadar memagari diri dengan identitas daerah dan etnik. Di asrama, mereka setiap hari bertemu dengan teman sedaerah, kemudian berkomunikasi  menggunakan bahasa daerah. Topik perbincangan tidak lepas dari isu yang berkembang di daerah asal. Bisa dimaklumi apabila ego-daerah atau etnik terus mengental, sementara ketertarikan pada budaya lokal tak juga menebal.

Wacana pengetatan pemberian izin dari Pemerintah Kota Yogyakarta untuk pendirian asrama daerah perlu dicermati oleh seluruh penghuni asrama daerah,  pemerintah provinsi dan kabupaten/kota se Indonesia, juga warga Kota Yogyakarta. Wacana itu tak akan menjadi realita jika terjalin komunikasi lintas budaya yang baik antara warga kota dan mahasiswa penghuni asrama.

Pada hakekatnya Pemerinta kota  Yogyakarta sejak jamannya Hery Zudianto telah menggulirkan kebijakan Menyapa Anak Kos dan kebijakan ini menurut Haryadi, saat ini  program sambang kos masih berjalan. Instansi pemerintah yang ada di wilayah atau kecamatan diminta menjalin koordinasi dengan perangkat RT dan RW. Sambang kos tersebut, ungkapnya, sudah menjadi program rutin untuk menjalin hubungan persuasif antara penghuni kos, warga sekitar dan tokoh masyarakat, (Kedaulatan Rakayat.Com).

Untuk itu, saat ini perlu ditingkatkan peran asrama mahasiswa dalam menjalin interaksi dengan masyarakat.  Asrama-asrama mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa daerah (IKMD) secara rutin mendapat dana bantuan dari KesBangPor (Kesatuan Bangsa Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta).  Namun, program ini tampaknya belum memberikan dampak  interaksi yang harmonis antara masyarakat dan asrama mahasiswa.  Seharusnya, interaksi antara asrama mahasiswa dan masyarakat dapat terjalin efektif secara formal dan informal sehingga tidak ada kesenjangan antara pendatang dengan masyarakat Yogyakarta.

Berkaitan dengan ini penting  perlu adanya penelitian tentang peran dan fungsi  asrama mahasiswa dalam upaya untuk menjalin interaksi dengan masyarakat kota Yogyakarta.  Interaksi yang positif  akan mendukung harmonisasi antara masyarakat dengan asrama mahasiswa.  Persepsi dan stereotyp negatif dari masyarakat  terhadap budaya tertentu tentunya akan semakin berkurang bila asrama mahasiswa membuka diri. Image masyarakat yang baik terhadap asrama mahasiswa juga menjadikan pendatang dari luar daerah akan membuat betah sehingga akhirnya citra kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan yang nyaman juga akan semakin meningkat.  Hal ini tentunya akan berimbas pada kehidupan ekonomi masyarakat kota Yogyakarta.

Apakah asrama mahasiswa mampu berperan untuk menjadi ruang perwakilan daerah dalam menjalin komunikasi lintas budaya dengan masyarakat Yogyakarat? Bagaimanakah caranya mengembangkan peranan asrama mahasiswa untuk menjalin interaksi dengan masyarakat Yogyakarta dalam rangka terwujudnya kualitas kehidupan masyarakat Kota Yogyakarta yang harmonis? Kota Yogyakarta adalah kota yang multikulturalisme, pendatang dari berbagai daerah masuk ke kota ini  bahkan telah  menetap menjadi warga masyarakat Yogyakarta.  Sebagai salah satu kota pendidikan,  Yogyakarta memang menjadi salah satu tujuan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia.

Komunikasi antarbudaya akan terjadi apabila seseorang dari budaya yang berbeda.  Menurut Dood (1991), komunikasi antarbudaya bukan hanya antarpribadi tetapi juga kelompok, sehingga ketika mahasiswa dari luar daerah berinteraksi dengan masyarakat Kota Yogyakarta yang berlatarbelakang budaya Jawa maka terjadilah komunikasi antarbudaya. Kegiatan komunikasi yang dilakukan mahasiswa dari berbagai daerah dengan masyarakat  tidak selamanya  berlangsung efektif.  Ada beberapa mahasiswa dari daerah tertentu merasa mudah untuk berinteraksi dengan masyarakat namun di sisi lain ada mahasiswa yang mengalami hambatan dalam berinteraksi.

Para mahasiswa luar daerah yang tidak kesulitan dalam berinteraksi menganggap  masyarakat Kota Yogyakarta adalah masyarakat yang ramah serta sangat terbuka dengan pendatang. Sedangkan mahasiswa yang mengalami hambatan dalam berinteraksi  merasa masyarakat Kota Yogyakarta sebagai masyarakat yang kaku dan feodal.  Masyarakat Kota Yogyakarta dianggap sebagai masyarakat yang tidak hangat karena mereka  mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga  seringkali mereka merasa dilecehkan.

Mahasiswa dari berbagai daerah memiliki latar belakang budaya dan bahasa yang bervariasi.  Seringkali masyarakat dapat mudah menerima pendatang dari daerah tertentu namun kadangkala mereka juga dengan mudah menolak kehadiran pendatang dari daerah lain. Perbedaan ini muncul sesuai dengan konsep Gudykunst dan Kim, seseorang berkomunikasi dengan orang lain maka dihadapkan dengan bahasa-bahasa, aturan-aturan dan nilai-nilai yang berbeda.  Perbedaan yang terlampau besar dan upaya dari pihak pendatang untuk tidak mengurangi perbedaan dengan lebih bersikap memahami budaya setempat akan mengakibatkan hambatan komunikasi semakin besar.

Upaya untuk mengurangi perbedaan dapat dilakukan bila seseorang tidak bersikap etnosentrisme.  Kemauan seseorang untuk membuka diri dan mempelajari budaya orang lain akan mengurangi sikap etnosentrisme.  Hambatan komunikasi juga seringkali terjadi ketika muncul stereotype dari masyarakat.  Sterotype ini mucul  karena  adanya tindakan dari rekan se-daerah yang buruk pada lingkungan sehingga masyarakat memberikan persepsi yang buruk terhadap semua mahasiswa yang berasal dari daerah mereka. Stereotype dalam komunikasi antarmanusia akan menghambat keefektivan komunikasi bahkan pada gilirannnya akan menghambat integrasi bangsa, (Mulyana: 1996).  Masyarakat menjadi curiga akan kehadiran mereka, dan mahasiswa sendiri menjadi takut untuk memulai berkomunikasi. Upaya untuk menghilangkan stereotype akan dapat dilakukan oleh dua pihak yakni dengan menciptakan iklim komunikasi yang positif.

Semakin banyak pendatang dari luar daerah masuk ke kota Yogyakarta maka keberadaan asrama mahasiswa di Kota Yogyakarta tiap tahun selalu bertambah.  Ada pun merebaknya asrama mahasiswa di Kota Yogyakarta berdasarkan observasi peneliti dipicu oleh beberapa alasan:  1) Yogyakarta merupakan salah satu kota tujuan pendidikan putra daerah mereka sehingga dengan adanya asrama maka akan mudah dalam menjalin komunikasi antara  daerah dengan warganya; 2) Asrama memberikan kepastian putra daerah untuk mendapatkan tempat tinggal yang nyaman dan kondusif untuk belajar sehingga kemungkinan keberhasilan mereka akan dapat dipastikan; 3) Adanya dana APBD masing-masing yang cukup besar untuk alokasi peningkatan SDM sehingga memberikan peluang untuk membuat asrama di Kota Yogyakarta dan 4) Ada beberapa stereotype yang melekat pada masyarakat Kota Yogyakarta terhadap perilaku budaya suku tertentu yang dianggap kurang memberikan kenyamanan lingkungan sehingga  masyarakat menolak kehadirannya untuk kost di lingkungan mereka.

Beberapa mahasiswa dari daerah yang mengalami hambatan dalam berkomunikasi dan berinteraksi  dengan  masyarakat  akhirnya memilih untuk menutup dan menarik diri dari masyarakat.  Mereka cenderung memilih  berkomunikasi dengan komunitasnya.  Pilihan inilah yang membawa mereka untuk memilih tinggal di asrama.   Lingkungan asrama yang homogen mendorong mereka untuk semakin eksklusif.

Sikap menutup diri dan mencoba tidak memahami budaya masyarakat setempat akan semakin membuat hambatan berkomunikasi. Sikap individu untuk tidak  belajar memahami budaya setempat sehingga menutup informasi dirinya dari masyarakat setempat akan memperkuat stereotype yang melekat dalam masyarakat. Masyarakat akan tetap curiga dan berprasangka buruk terhadap kelompok yang menutup diri.

Yogyakarta sebagai salah satu kota yang memiliki kondisi multikulturalisme sangat penting untuk mewujudkan kota pluralis, yakni kota yang dapat menghargai berbagai budaya.  Asrama mahasiswa memiliki peran yang strategis dalam membuka ruang komunikasi dengan masyarakat setempat.  Untuk itu salah yang harus dilakukan adalah meningkatkan peran asrama mahasiswa sebagai ruang perwakilan daerah untuk menjalin komunikasi antarbudaya.

Beberapa upaya yang harus dilakukan: 1) Asrama mahasiswa memiliki program kegiatan yang merupakan ruang untuk berkomunikasi dengan masyarakat misalnya, mengadakan pengajian bersama dengan masyarakat, panggung kesenian terbuka dengan mengundang masyarakat untuk hadir; 2)  Perlu adanya aturan yang berupa tata tertib untuk semua penghuni asrama, yang salah satunya mengharuskan anggota untuk menghormati budaya dan norma yang ada dalam masyarakat; 3) Asrama mahasiswa memiliki kegiatan bersama dengan asrama lain yang terprogram untuk mengenal lebih jauh tentang budaya masyarakat Yogyakarta.

Dengan beberapa upaya yang harus dilakukan asrama mahasiswa maka instansi pemerintah Kota Yogyakarta juga wajib memantau keberadaan asrama di wilayahnya.  Kegiatan pemantauan ini dapat dilakukan dengan mengadakan kunjungan rutin ke beberapa asrama atau mengundang asrama-asrama dalam waktu tertentu.  Pemerintah Kota Yogyakarta perlu mengeluarkan kebijakan yang berupa aturan atau tata tertib yang wajib ditaati  asrama-asrama.  Apabila ada pelanggaran yang dilakukan oleh penghuni asrama maka pemerintah kota wajib untuk memberikan sanksi bahkan bila perlu memberikan tembusan ke daerahnya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan secara garis besar sebagai berikut:

  1. Asrama mahasiswa memiliki peran yang strategis dalam membangun komunikasi interaksi dengan masyarakat
  2. Asrama mahasiswa perlu adanya kepengurusan yang jelas dan memiliki aturan yang wajib ditaati penghuni
  3. Asrama mahasiswa perlu memiliki program yang merupakan ruang interaksi antar mahasiswa dengan masyarakat
  4. Pemerintah perlu tegas dalam memberikan sanksi bila ada asrama mahasiswa yang tidak jelas penghuninya.

 

Penulias: Tri Agus Susanto dan Fadjarini Sulistyowati

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait