Senin, 27 Juni 22

Pengunjung Wajib Sopan dan Dilarang Bicara Sompral

AURA mistis juga lekat dengan Curug Nangka. Curug yang dikelilingi lembah terjal menambah kengerian suasana di sana. Apalagi saat musim hujan, umumnya arus airnya yang sangat deras.

Bukan berwisata namanya kalau tidak menggali informasi seputar objek wisata. Pedagang warung kopi setempat, Gusti Awer bercerita mengenai Curug Nangka.

Menurutnya, nama wisata Curug Nangka diambil dari pohon nangka yang buahnya sebesar gulungan kasur, dan pohon tersebut konon satu-satunya pohon yang dekat dengan Curug (red. air terjun – dalam bahasa Sunda).

“Dari situlah orang-orang, akhirnya menyebut lokasi wisata dengan nama Curug Nangka,” tukas pria yang mengenalkan diri kelahiran Warungloa, Desa Sukaluyu, Bogor, kepada indeksberita.com, Minggu (20/3/2016).

Dia melanjutkan, di curug tesebut, dipercaya ada lubang yang bisa tembus ke Lokasi Cipatuhunan Kute Maneh Sukabumi, dan di Curug tersebut ada juga tempat, atau ruangan untuk bersemedi.

“Ada juga yang mengatakan, Curug Nangka merupakan tempat ziarah, konon sesepuh yang menempatinya, antara lain: Raden Surya Kencana, Bah Haji Gempor, Bah Jamrong dan sebagainya,” ucapnya.

Terkait Curug Daun yang masih berada di kawasan wisata tersebut, sambung Gusti, juga ada kubangan untuk orang mandi. Dari sisi sejarah nama Curug Daun muncul, karena dahulunya ada orang yang melihat, bahwa di Curug tersebut ada daun yang sebesar pintu, maka sampai sekarang orang-orang menyebutnya Curug Daun.

Diatas Curug Daun ada juga sebuah Curug yang disebut Curug Kawung, nama tersebut dikarenakan dahulunya ada pohon Kawung / Aren di dekat Curug tersebut, skarena legenda tersebut, maka sampai sekarang, pohon kawung tersebut tidak ada orang yang berani menebangnya.

“Nah, selain itu ada juga Curug Belong. Menurut kisah dari mulut ke mulut, dulunya, curug tersebut tempat mandi orang-orang Belanda, dan tempat tersebut sekaligus tempat penggilingan batu. Karena itu, disebut Curug Belong,” tuturnya.

Pria itu melanjutkan, setiap pengunjung yang datang dilarang bicara sompral, bicara tidak sopan dan berbuat asuila. Sebab, konon, hal itu kerap membuat penghuni gaib murka.

“Disini sering ada kejadian tiba-tiba. Misalnya, terjadi banjir bandang atau kecelakaan. Tapi, kalau kita sopan dan tidak sombong, tidak akan terjadi apa-apa. Banyak yanag percaya, zaman dulu di lokasi ini tempat yang difavoritkan Prabu Siliwangi. Tapi, ada juga yang bilang, di curug ini hingga Gunung Salak sebagai tempat persembunyian Prabu Siliwangi Pakuan Pajajaran,” ungkap penjaga warung yang diamini Ado yang juga warga setempat.

Curug Nangka dibuka oleh Perhutani tahun 1991 jadi Wana Wisata Curug Nangka dengan luas 17 ha petak 40a RPH Sukamantri BKPH Bogor KPH Bogor, termasuk dalam wilayah administrative Desa Sukajadi dan Desa Gunung malang Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor. (eko)

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait