Rabu, 6 Juli 22

Pengamat : Tahun Politik 2018, Momentum Untuk Pembenahan Politik yang Sehat dan Berkeadaban

Direktur Eksekutif Parameter politik Indonesia, Adi Prayitno mengatakan, memasuki tahun politik 2018, tentu publik bakal dijejali dengan ragam aktivitas dan persiapan politik, mulai dari pilkada serentak 2018 sampai persiapan pemilu serentak 2019. Tetapi walau hinggar-binggar politik yang semakin meningkat, tetapi tahun 2018 adalah momentum untuk pembenahan politik yang lebih Sehat dan lebih berkeadaban

Ia juga memperkirakan bahwa tensi politik akan terus tinggi, yang diwarnai dengan semakin menguatnya politik identitas. “Tensi politik akan terus memanas seiring menguatnya politik identitas berbasis sentimen SARA. Ini merupakan efek dari pilkada Jakarta,” kata Pengamat Politik UIN Jakarta ini, kepada media di Jakarta, Senin (1/1).

Bahkan kata Adi, di tahun politik 2018 ini pembentukan faksi politik sudah mulai solid. Hal ini tampak dari koalisi yang dilakukan oleh partai Gerindra, PKS dan PAN yang solid di 5 pilkada. Dan ia bependapat, Pilkada kali ini menurutnya adalah pemanasan menghadapi pilpres 2019 mendatang.

“Bukan sekedar ingin mengulang sukses pilkada Jakarta 2017 lalu, faksi Gerindra, PKS dan PAN ini mesti dibaca sebagai upaya menjajal kemungkinan koalisi menghadapi pilpres 2019,” jelasnya.

Apapun itu, lanjut Adi, elit dan aktor-aktor politik yang bakal bertarung harus belajar banyak dari pilkada Jakarta. Pertama, siapapun calon yang diusung, jangan pernah menyinggung apalagi ‘menista’ agama orang lain. Bukan hanya fatal tapi juga akan memancing kegaduhan.

“Sebab agama merupakan sesuatu yang asasi yang dibawa sejak lahir. Banyak orang rela mati demi membela agamanya. Itulah yg terjadi di pilkada Jakarta,” paparnya.

Kedua, meski terjadi fragmentasi yang ekstrim, konflik harus dihindari. Konflik hanya akan merusak tatanan demokrasi kita yang sudah mapan. kuncinya terletak pada kedewaan elit politik kita.

“Sebab itu, memasuki tahun baru politik 2018, para elit itu harus memberi contoh teladan bahwa segala pertikaian, konfrontasi dan hal lain yg mendostorsi substansi demokrasi harus ditinggalkan. Tak ada lagi fitnah, tak ada lagi hoax, dan no more hate speech,” jelas Adi.

Adi berharap kedepannya, seluruh stakeholder harus mampu menjadi lebih baik lagi. Tahun 2018 harus menjadi momentum untuk melakukan perubahan-perubahan tersebut.

“Tahun politik 2018 harus jadi momentum berbenah diri untuk menyonsong politik kita yang lebih sehat dan berkeadaban,” tandasnya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait