Kamis, 6 Oktober 22

Pengamat: Ahok Sementara Tetap Unggul, Tapi Peta Pilgub Jakarta Masih Bisa Berubah

Pilgub DKI Jakarta

Jakarta – Warga Jakarta lebih mempertimbangkan variabel kepemimpinan, kinerja, dan bebas korupsi sebagai hal terpenting dalam memilih gubernurnya, dibandingkan latar belakang etnis. Hal itu setidaknya terekam dalam hasil survey Populi Center pada Februari 2016 lalu.

Dalam tiga variabel ini, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, untuk sementara masih unggul jauh dibanding sejumlah kandidat lain seperti Yusril Ihza Mahendra, Sandiaga Uno, Abraham Lunggana, dan lain-lain. Popularitas Ahok mencapai 99.2% dan elektabilitas 49.5%.

“Itu pilihan top of mind responden. Namun, awalnya, popularitas maupun elektabilitas calon petahana memang seperti itu, cenderung tinggi. Jadi kondisi ini wajar dan umum di beberapa pemilihan kepala daerah,” ujar Saeful Akhyar, Direktur Riset Populi Center kepada indeksberita.com melalui telepon, Senin (14/3/2016).

Keunggulan Ahok antara lain terdongkrak oleh kinerjanya yang dinilai memuaskan oleh mayoritas responden. Survey mencatat sebanyak 67.5% responden menyatakan puas dengan kinerja Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sementara 6% menyatakan sangat puas.

“Itu sebetulnya merupakan tantangan berat bagi Ahok sebagai petahana. Karena ia dituntut untuk terus membuktikan kinerja dan kepemimpinan yang dianggap baik, serta integritasnya yang dikenal bersih selama ini di sisa periode kepemimpinannya,” ujar Saeful.

“Namun, jika ternyata kemudian pemilih tidak melihat hal tersebut maka peta bisa berubah. Calon lain pasti akan mengeksploitasi hal itu. Apalagi kalau figur itu cukup kuat di masyarakat,” tambahnya.

Hal lain yang bisa mengubah peta pemilihan, menurut Saeful antara lain, pasangan calon wakil gubernurnya, kualitas dan kompetensi lawan, dan dukungan partai politik.

Sebagaimana diketahui, kemungkinan Ahok maju sebagai calon independen terus bergulir. Meskipun komunikasi dengan sejumlah petinggi partai politik terus intensif dilakukan. Sejauh ini, baru Partai Nasdem yang sudah menyatakan dukungannya kepada Ahok.

Belakangan, Ahok disebut masuk dalam bursa kandidat Partai Amanat Nasional (PAN), selain Sandiaga Uno.

“Menjadi calon independen itu baik dan sah dalam demokrasi. Tapi, dukungan mesin partai politik cukup signifikan menentukan hasil akhir pemilihan. Bagaimanapun kondisinya, partai politik terlalu berharga untuk diabaikan,” kata Saeful.

Temuan penting lain dari survey itu, sebanyak 75% rsponden menyatakan tidak terlalu memperhitungkan latar belakang etnis calon gubernurnya. Dari 25% responden yang masih mempertimbangkan, latar belakang etnis Betawi menjadi yang tertinggi dengan 11%.

“Saya kira pilihan responden seperti ini dapat diartikan bahwa warga Jakarta tergolong sebagai pemilih rasional,” ungkap Saeful.

Sebagai catatan, survey tersebut dilaksanakan pada 13 – 17 Februari 2016 lalu, dengan jumlah responden 400 orang yang tersebar di enam wilayah DKI Jakarta dan memiliki tingkat kepercayaan 5%. Biaya survey berasal dari kas mandiri lembaga Populi Center.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait