Minggu, 14 Agustus 22

Pengabdian Etnis Cina di TNI

Melalui media sosial baru-baru ini beredar profil salah seorang penerbang tempur legendaris TNI AU, yakni Marsda Purn Rudi Taran. Kemampuan Rudi Taran amat langka, dia seolah generasi penghubung antara era pesawat supersonik produk Rusia (keluarga MiG), hingga ke era produk AS, seperti F-5E Tiger. Rudi Taran adalah generasi terakhir penerbang TNI AU yang mengoperasikan MiG-21, dan langsung dilatih di salah satu negara Eropa Timur pada awal 1960-an.

Ketika pesawat F-5E Tiger tiba pada tahun 1980, Rudi sudah berpangkat kolonel, dengan jabatan sebagai Komandan Wing 300. Namun begitu Rudi masih bersedia bergabung dengan para yuniornya, yang masih di level perwira pertama, untuk bersama-sama berlatih mengemudikan F-5E. Dengan besar hati Rudi Taran bersedia dilatih para perwira bawahannya di Lanud Iswahjudi (Madiun), seperti Mayor Pnb Lambert Silooy, Mayor Pnb Suprihadi dan Kapten Pnb Zaki Ambadar. Rudi berhasil lulus dalam latihan mengoperasikan F-5E hingga memperoleh call sign Eagle 08 atau Tarantula.

Satu hal yang belum jelas bagi publik adalah apa etnis Rudi Taran. Betul sekali, secara kebetulan Rudi Taran beretnis Cina. Rudi Taran membatalkan asumsi selama ini, bahwa etnis Cina identik dengan kegiatan niaga. Rudia Taran hanyalah salah satu contoh, sebagai perwira etnis Cina yang sukses meniti karier di TNI. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan, di tengah sempitnya kesempatan bagi warga keturunan Cina untuk masuk strata perwira tinggi, khususnya di masa Orde Baru.

Perwira Kesehatan

Di matra udara jauh sebelum generasi Rudi Taran, sudah ada pemuda  keturunan Cina yang dididik sebagai penerbang atau navigator, salah satunya adalah The Tjing Ho. Seorang pemuda asal Malang (Jatim), yang masuk dalam jajaran generasi pertama penerbang TNI AU, yang dilatih di luar negeri, tepatnya di California (AS). The Tjing Ho bersama sejumlah pemuda lain, belajar terbang di lembaga TALOA.

Generasi TALOA termasuk generasi emas, karena beberapa alumninya sempat menjadi KSAU, seperti Omar Dani, Sri Mulyono Herlambang, dan Saleh Basarah. Selain nama penerbang tempur legendaris, seperti Leo Watimena dan Ignatius Dewanto. Keemudian hari The Tjing Ho berganti nama menjadi Steve Kristedja. Seingat saya di generasi TALOA ini, masih ada satu lagi siswa keturunan Cina, yaitu Sugandi (nama marga Gan).

Di masa Orde Baru, ada kebijakan tidak tertulis, untuk membatasi karier perwira keturunan Cina dalam TNI (ABRI). Sebenarnya ini memang kurang fair, tapi begitulah keadaan zaman itu, siapa yang bisa menentang, bila Soeharto sudah berkehendak. Karena kebijakan ini, bagi warga keturunan Cina yang ingin mengabdi di TNI (termasuk kepolisian), umumnya terkonsentrasi pada dinas kesehatan, bukan di satuan tempur.

Adalah hal biasa bila kita menyaksikan dokter-dokter muda (keturunan Cina) yang kemudian berseragam tentara.  Sementara sangat langka perwira etnis Cina yang berdinas di satuan tempur.  Salah satu perwira kesehatan dimaksud adalah dokter Daniel Thjen. Yang di awal karirnya bertugas di lingkungan Brigif Linud 17/Kujang I Kostrad, satuan legendaris TNI. Dokter Daniel terakhir tercatat sebagai Kepala Pusat Kesehatan TNI, pos untuk bintang dua.

Perwira kesehatan yang berasal dari etnis Cina memiliki tradisi yang panjang. Sejak masa KNIL, sudah banyak terdapat perwira kesehatan asal etnis Cina. Saat sesepuh Siliwangi dan mantan perwira KNIL Didi Kartasasmita, keliling Jawa, menemui mantan koleganya sesama perwira KNIL, meminta paraf mereka sebagai tanda setia pada RI yang baru saja merdeka, beberapa di antaranya adalah perwira kesehatan, seperti dokter Darma Setiawan.

Di masa Orde Baru, meskipun sangat langka perwira etnis Cina di TNI yang tergabung dalam kecabangan infanteri, namun terselip satu nama yang sangat menonjol, yaitu Letjen Purn Kuntara (Akmil 1963). Saat masih aktif dulu, Kuntara sempat menjabat Danjen Kopassus dan Pangkostrad.

Akmil 1965

Dari sekian banyak generasi lulusan Akademi Militer, lulusan Akmil tahun 1965  sangat khas, baik dari segi jumlah lulusan maupun munculnya beberapa figur yang menonjol. Untuk korps infanteri saja jumlah lulusannya mencapai 225 perwira, artinya lebih besar dari rata-rata lulusan Akmil (secara keseluruhan) di era sekarang, yang berkisar 200 perwira per tahunnya.

Di masa puncak karir lulusan Akmil 1965 pada sekitar tahun 1993-1995, mereka pernah menjadi Panglima pada tujuh Kodam secara bersamaan, kecuali Pangdam Jaya yang diisi oleh Mayjen Hendro Priyono (Akmil 1967). Beberapa figur yang menonjol dari angkatan ini antara lain: Yunus Yosfiah, Syamsir Siregar, Tarub, Soejono, Theo Sjafei, dan seterusnya.

Generasi ini juga menarik, karena jumlah lulusannya yang berasal dari etnis Cina lumayan banyak, setidaknya bila dibandingkan angkatan lainnya. Sebagian dari mereka sudah beralih nama, namun nama marga masih tercatat. Beberapa nama itu antara lain: Djunaedi (Tan), Gunawan (Go), RE Robby Thio, Setiadi (Lie Pik Djien); keempat nama ini berasal dari kecabangan infanteri. Dari kecabangan lain, terdapat nama Kusuma Hidayat (Kwee, armed), Daniel Sofjan (Lie, angkutan), dan Agung Sidharta (Yap, intendans).

Dua lulusan Akmil 1965 dari etnis Cina kemudian  lebih memilih pensiun dini, dan alih profesi di bidang swasta, mereka adalah Mayor CAM (Purn) Himawan dan Kapten CKU (Purn) Iid Hidayat. Tampaknya mereka sudah bisa membaca, bahwa situasi politik di masa Orde Baru kurang kondusif bagi etnis Cina bila ingin terus berdinas di TNI. Karena pada kenyataannya memang hanya satu orang lulusan Akmil 1965 (etnis Cina) yang bisa menembus strata pati, yaitu Brigjen TNI (Purn) Teddy Jusuf.

Peran etnis Cina dalam kemiliteran memiliki riwayat panjang sebenarnya. Dalam Perang Diponegoro misalnya, salah satu panglimanya yaitu Raden Tumenggung Sasradilaga, membawahi sejumlah prajurit keturunan Cina. Kemudian pada 1 Oktober 1940, menjelang Belanda menyerah pada Jepang, secara terburu-buru Belanda membuka sekolah calon perwira, yaitu KMA Bandung, sebagai “cabang” dari KMA Breda. Beberapa tarunanya tercatat berasal dari etnis Cina, seperti Tjwa Siong Piek dan Lim Kay Hoen. Namun di masa pasca Kemerdekaan, nama mereka tidak diketahui lagi. Bisa jadi memang tidak melanjutkan karir sebagai tentara. Sementara taruna KMA Bandung yang lain, di kemudian hari menjadi figur TNI yang terkenal, seperti AH Nasoetion, TB Simatupang, AE Kawilarang, dan AJ Mokoginta.

Aris Santoso, selama ini dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait

1 KOMENTAR