Sabtu, 10 Desember 22

PENA 98 Desak Pemerintah Tuntaskan Kasus Kerusuhan Mei 1998

Masih ngambangnya proses hukum penuntasan kasus kerusuhan Mei 1998 dan sampai saat ini belum belum ada titik terang, menjadi perhatian serius dari Perhimpunan Nasional Aktivis (Pena) 98. Wadah dari sebagian  Aktivis  yang terlibat langsung pada peristiwa Pra dan pasca Reformasi 1998 itu mendesak Pemerintah agar segera merealisasikan komitmenya terkait penuntasan kasus yang sempat menjadi perhatian Dunia itu.

Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal PENA 98 ,Adian Napitupulu saat menutup Refleksi 19 Tahun Reformasi Melawan Kebangkitan Orde Baru di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Senin (15/5/2017) . Adian menuturkan bahwa hinga sampai saat ini, tidak juga ada pihak yang bertanggung jawab atas kerusuhan yang menelan hingga ribuan nyawa manusia tersebut.

“Indonesia ini menjadi negara yang aneh menurut saya, Terkait kerusuhan masal (Mei 1998-red) Hingga sampai peringatan 19 tahun ini belum juga ada pihak yang bertanggung jawab. Padahal ada peristiwa dan ada Korban,” ujar pria yang juga Anggota DPR RI itu.

Padahal, menurut Adian, tidak sedikit nyawa manusia yang melayang dalam kerusuhan itu. Seperti Gatot Kaca di Yogyakarta,  Empat Mahasiswa Trisakti, Sembilan orang di Semanggi dan dan ribuan lainya meninggal selama dalam proses pra dan pasca Reformasi.

Terkait refleksi perjalanan Reformasi yang sudah mencapai memasuki waktu 19 tahun, Adian mengakui walau saat ini mengemukakan pendapat lebih bebas ketimbang dimasa Orde Baru, namun tak sedikit juga pihak-pihak penikmat Reformasi yang memanfaatkan kebebasan berpendapat tersebut sebagai pemaksaan kehendak yang tentu saja sangat kontra dengan cita-cita Reformasi itu sendiri.

“Walaupun dalam berpendapat dan berserikat saat  lebih bebas dibanding Orde Baru, tapi saat ini Reformasi sedang menghadapi ancaman dalam bentuk yang lebih besar.Karena para penikmat reformasi memanfaatkan kebebasan yang diperjuangkan bersama, bukan untuk memperjuangkan hak rakyat, tapi untuk mengancam orang lain dengan isu SARA, mengancam orang lain dengan atas nama agama,” paparnya.

Seharusnya, lanjut Adian, Reformasi yang telah diperjuangkan bersama-sama oleh para Aktivis dan Mahasiswa tersebut, dapat diisi dengan ekspresi yang posistif dan berdemokrasi yang sehat.

Melalui Refleksi 19 perjalanan Reformasi tersebut Adian mengajak semua komponen Bangsa agar dapat memaknai arti Reformasi yang sesungguhnya. dengan demikian lanjut Adian,Bangsa ini bukan hanya menjadi sebuah Bangsa tertulis dalam sejarah,namun juga menjadi pelaku demi terciptanya kesejahteraan.

“Apabila Bangsa ini dapat memaknai arti Reformasi yang sesungguhnya, saya yakin Indonesia 10 hingga 20 tahun ke depan, tak hanya tertulis dalam sejarah, namun juga  mampu untuk  menjadi Negara maju dengan masyarakatnya yang sejahtera,” pungkasnya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait