Sabtu, 10 Desember 22

Pemuda Muhammadiyah : Kami Tidak Terlibat Apapun Dalam Reuni 212

Rencana dari para peserta demonstrasi 212 yang kemudian tergabung dalam Alumni 212,  yang akan menggelar reuni 212

 

pada tanggal 2 Desember 2017 mendatang di Monas, mendapat beragam tanggapan dari banyak pihak. Salah satunya adalah Pemuda Muhammadiyah. Melalui Ketuanya, Dhanil Azhar Simajuntak, Pemuda Muhammadiyah justru mempertanyakan tentang urgensi acara tersebut digelar.

“Kalau dulu aksi 212 kan ada persoalan Ahok. Sekarang apa urgensinya?” ujar Dhanil kepada awak media , Selasa (28/11/2017) di Jakarta.

Dhanil menghawatirkan bahwa Reuni yang rencananya akan diikuti ribuan orang tersebut berpotensi ditunggangi pihak-pihak tertentu yang mempunyai kepentingan terhadap politik praktis. Apalagi menurut Dhanil, tahun depan 2018 akan ada pilkada serentak yang diikuti 171 Daerah. Untuk itu ia berharap aksi semacam itu tak dimanfaatkan pihak-pihak yang akan menggiring isu Pilkada.

“Harapan saya jangan sampai reuni tersebut dipolitisasi sehingga menciptakan stigma-stigma miring dan bikin gaduh,” katanya.

Atas alasan tersebut, Dahnil memastikan secara organisasi Pemuda Muhammadiyah tidak akan terlibat dalam reuni 212 tersebut sebagaimana posisi PP Muhammadiyah selaku organisasi induk.

“Kami tidak terlibat dalam bentuk apapun dalam reuni tersebut. Namun sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar soal kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat, acara tersebut juga tidak bisa dilarang,” pungkas Dhanil.

Sebelumnya, pada Jumat (24/11/2017), Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir juga mengungkapkan hal yang sama, yakni menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak akan turut serta dalam reuni tersebut.

Menurut Haedar, kegiatan tersebut tidak termasuk dalam konteks dan kebiasaan jamaah Muhammadiyah. Lebih baik, imbuh dia, umat Islam melakukan hal-hal lebih produktif seperti merayakan hari Kemerdekaan Indonesia.

“Muhammadiyah tidak akan melakukan kegiatan-kegiatan seperti itu (demo), kita lebih baik produktif,” katanya kepada wartawan kala itu di Aula PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat.

Sementara itu Ketua Presidium 212, Slamet Maarif, membantah tudingan bahwa reuni alumni 212 sebagai acara politis. Ia mengatakan bahwa tujuan utama dari acara ini semata mempererat persaudaraan antar umat Islam (ukhuwah islamiyah) sekaligus memperingati maulid Nabi Muhammad.

“Kalau ada yang berprasangka miring, kami sudah biasa. Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Kami kafilahnya,” kata Slamet sebagaimana dikutip dari Tirto.id ,Selasa (28/11/2017).

Slamet juga mengungkapkan bahwa acara tersebut adalah bentuk syukur kepada Allah bahwa umat Islam telah dipersatukan 2 Desember 2006 tahun lalu. Sementara kalau ada anggapan-anggapan miring terkait acara ini, Slamet mengaku bahwa pihanya tidak peduli.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait