Rabu, 30 November 22

Pemilihan Presiden Perancis Dalam Bayang-Bayang Populisme

Pemilihan presiden Perancis putaran pertama dimulai Sabtu (23/4/2017) untuk pemilih di luar negeri, dan hari ini untuk pemilih di daratan Perancis. Pada pilpres putaran pertama ini, akan memilih dua dari 11 kandidat, yang masuk dalam putaran berikutnya, untuk memilih presiden Prancis yang baru.

Pilpres di Perancis menarik untuk diamati, bukan hanya karena Perancis negara dengan ekonomi terbesar kelima di dunia, tetapi juga munculnya semangat populisme, yang ditandai kemenangan Trump dan Brexit, yang membayangi pemilihan presiden Perancis saat ini. Jika populisme menguat di Perancis, maka bukan hanya keanggotan Perancis di Uni Eropa yang akan menjadi tanda tanya, bahkan keberadaan Uni Eropa itu sendiri juga dipertanyakan keberlanjutannya. Dan ini tentu akan berpengaruh pada globlisasi politik dan ekonomi.

Peta kandidat presiden Perancis, menurut polling yang dilakukan Pollsters, ada empat kandidat yang paling kuat. Presiden Perancis saat ini Holande, yang belum lama berkunjung ke Indonesia, tidak berkeinginan untuk maju lagi. Mungkin hal ini yang menyebabkannya tidak masuk dalam 4 besar.

Jajak pendapat menunjukan Emmanuel Macron yang pro-Eropa menjadi favorit, tapi dia tidak memiliki partai kuat.Tiga saingan dekatnya, menurut survey, adalah pemimpin Front Nasional anti-imigrasi, Marine Le Pen, yang akan membuang mata uang €uro dan menghidupkan kembali Franc Prancis. Kandidat lainnya dari sayap kiri : Jean-Luc Melenchon. Ia ingin ingin Perancis merobohkan perjanjian perdagangan internasional dan keluar dari NATO. Sementara kandidat Francois Fillon, dianggap sangat konservatif, dan sering diterpa isu nepotisme.

Meskipun polling dari pollsters yang dilansir Reuters, menempatkan Le Pen di posisi kedua di belakang Macron di dalam pilpres putaran pertama, tetapi Le Pen terlihat tidak mungkin dapat menduduki posisi kedua, agar masuk putaran berikutnya. Melenchon yang dalam polling di urutan ke tiga, sebaliknya, Ia bisa mengambil kepresidenan sesuai dengan beberapa skenario.

Jajak pendapat pada menjelang kampanye tersebut menunjukan kekuatan kandidat hampir seimbang, dengan perbedaan suara kurang dari lima persen. Ini mendekati margin error, yang bisa mengubah urutan. Kita tunggu hasilnya, apakah populisme di Perancis akan menang, yang menambah deretan kemenangan populisme, setelah Brexit, dan Trump, yang akan membuat ketidakpastian. Atau sebaliknya,Emmanuel Macron yang pro-Eropa yang menang dalam pemilihan presiden Perancis, yang membuat situasi politik dan ekonomi lebih bisa terprediksi.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait