Kamis, 11 Agustus 22

Sikap Politik NU : Silahkan Pilih Nomor Berapa Saja, Asal Bertanggungjawab

Sikap Politik NU semakin jelas. Menurut NU, pilihan masyarakat dalam Pilkada serentak nanti merupakan pilihan pribadi dan bertanggungjawab. Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum PB NU, mendekati hari pencoblosan Pilkada yang serentak di gelar di  7 provinsi, 76 kabupaten dan 18 kota pada 15 Februari 2017 mendatang. Sikap politik NU ini merupakan panduan bagi warga nahdliyin, dalam menghadapi dinamika politik yang saat ini terjadi.

Sebagai anak bangsa yang mempunyai hak pilih tentu dituntut untuk menggunakan hak pilihnya berdasarkan hati nurani dan bukan karena tergiur kepentingan sesaat. Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum PB NU ,KH. Said Aqil Siradj dalam siaran tertulis pada Jumat (10/2/2017). Said Aqil mengungkapkan bahwa ia akan menggalang dukungan warga NU untuk menggunakan hak pilihnya secara bertanggungjawab.

“Tanggung jawab itu ya cari-cari informasi, pakai perenungan dan terus berdoa agar kita diberi pemimpin yang tidak zalim. Ini pertimbangan yang sifatnya pribadi sekali, jadi silahkan pilih nomor berapapun asalkan bertanggung jawab,” tulis Kiai yang akrab dipanggil Kiai Said tersebut.

Disamping itu, Kyai Said juga menegaskan bahwa apabila ada dukungan yang melalui PBNU, Lembaga Lajnah, Badan Otonom dari tingkat pusat hingga ke daerah, itu bukan mereprentasekan suara NU sebagai Jamiyah (organisasi), namun semata-mata tak lebih dari pernyataan pribadi.

Kyai Said juga menegaskan bahwa siapapun yang terpilih nanti hendaknya dapat menjunjung tinggi amanah dan kedaulatan rakyat. Dan ini bukan hanya semata-mata tugas pemimpin terpilih saja. Namun tugas seluruh rakyat Indonesia, termasuk warga NU, untuk dapat terus mengawal pemerintaan yang akan terpilih.

“Kalau warga NU doanya begini, Ya Allah Ya Tuhan Kami, jangan kuasakan atas kami, karena kesalahan-kesalahan kami, penguasa yang tak takut kepadaMu dan tak berbelas kasihan kepada kami,” imbuhnya.

Namun lanjut Kiai Said, sekarang ini one man one vote telah berubah menjadi one envelope-one vote, yakni logikanya pemilih yang ngawur akan memilih pemimpin yang keliru. Maka menurutnya perenungan lewat hati nurani teramat penting, karena memilih pemimpin sejatinya bukan hanya saat ketika mencoblos namun juga pasca pencoblosan.

Disisi lain, Kiai Said juga menyinggung bahwa saat ini ada orang mengaku beragama namun menafikan Indonesia dengan segala kelengkapanya (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 ). Menurutnya itu adalah hal yang tidak benar,karena kokohnya Indonesia juga tak lepas dari 4 pilar tersebut.

“Saat ini memang ada ormas-ormas yang tidak setuju dengan 4 pilar itu. Bagi mereka yang tak setuju, saya menghimbau untuk ngaji dan belajar, jika masih ngotot, ya cari aja negara atau planet lain, jangan tinggal di Indonesia,” tegasnya.

Lebih lanjut Kiai Said juga berpesan bukan hanya untuk warga NU semata namun pada seluruh rakyat Indonesia agar menjadikan perbedaan sebagai sebuah jalan kecerdasan. Ia menghimbau agar perbedaan bukan menjadi ajang fitnah dan saling menjatuhkan.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait