Jumat, 9 Desember 22

Pandangan Mukidi Tentang Petani Mandiri dan Konsep Kemandirian

Mukidi adalah ikon anak muda petani mandiri di Temanggung, Jawa Tengah. Sebagai anak petani Mukidi mencoba membuang stigma bahwa petani itu miskin dan kumuh. Bahkan ia mempunyai anggapan petani itu kaya, dan bersih. Tentu ini sah–sah saja. Persoalannya, Mukidi banyak menemukan kasus anak petani tidak mau jadi petani.

Ada beberapa faktor: hilangnya semangat bertani, kepemilikan lahan, pengkaderan, bahkan pasar tak kalah penting. Dari beberapa persoalan tadi merupakan modal utama dan lebih penting dibandingkan dengan modal finansial. Inilah pandangan nominator Liputan6 Award SCTV 2013 itu.

Semangat Bertani

Mari kita lihat kebelakang, bagaimana orang tua kita ketika memberikan semangat kepada anaknya. Mereka selalu bilang “ojo koyo aku rekoso, sesuk dadi pegawai wae yoo”. Kata-kata itu wajar biar tidak seperti orang tuanya, ini merupakan hal yang menghilangkan petani-petani muda.

Mukidi teringat ketika jaman sekolah dasar ditanya mau jadi apa, jawaban orang sukses. Namun pada kelas 3 SMP, ia selalu melontarkan cita-cita ingin menjadi petani berdasi. Ketika libur sekolah ia sering ke ladang dengan orang tua. Hal itu membuat ia berfikir bagaimana bertani tapi beda dengan orang tua. Beda olah lahan, beda cara budidaya, sampai beda cari permodalan.

Seharusnya anak petani setelah sekolah dan kembali ke desa menekuni pertanian hasilnya akan lebih baik. Kenapa ? Secara keilmuan dia lebih dari bapaknya. Namun kenyataannya beda mereka bertani masih mengikuti jejak orang tuanya. Bahkan ketika mencari permodalan masih sama dengan sistim ngelimolasi, ini menjadi bumerang sehingga ada anggapan sekolah tidak berguna.

Mereka tidak mempunyai mimpi untuk mengubah pola bertani dengan baik dan benar. Semangat mereka hilang, bagaimana menumbuhkannya harus ada bertemu dan ada sang motivator sekaligus pelaku tidak hanya berteori saja.

Pengkaderan

Generasi penerus petani sangat penting, jangan sampai negeri agraris ini kehilangan kader tani. Pengkaderan  bisa dimulai dengan proses pembelajaran melalui pendidikan formal melalui SMK Pertanian. Pembelajaran non-formal bisa melalui kursus kilat pertanian, atau diskusi-diskusi kecil pada kelompok tani maupun di sekolah pada kegiatan ekstrakulikulernya.

Guru pengkaderan yang membimbing harus pelaku. Artinya seorang yang mau membuat kader penerus petani harus pelaku pertanian. Dia harus paham tentang olah tanah, budidaya, olah hasil serta mampu dalam pasar pertanian.

Sang motivator harus kuat secara finansial, ini riel sekali dan menjadi tolak ukur bagi masyarakat. Secerdas apapun, namun jika kekuatan finansialnya lemah, masyarakat pedesaan pada umumnya memandang sebelah mata. Motivator harus mampu secara finansial, dan hasilnya tersebut dari bertani tidak menggantungkan gaji bulanan baru pertani akan percaya. Selama ini kader–kader muda tani selalu diberi harapan oleh motivator pertanian dengan mencari bantuan. Inilah yang membuat gagal dalam menciptakan kader tani, mereka menghilangkan kemampuan internal kader.

Kepemilikan Lahan Sempit

Ini sering menjadi alasan tidak maunya bertani, dan menjadi anggapan bahwa lahan sempit sehingga petani itu miskin. Hal ini merupakan tantangan bagi pemuda tani, bagaimana dengan lahan sempit namun bisa menghasilkan lebih. Lahan yang sempit  membuat berfikir bagaimana mengolah lahan yang sesuai kaedah konservasi. Olah lahan sesuai kaedah konservasi ini akan mengurangi terkikisnya lahan subur oleh air hujan. Artinya ini juga mengurangi erosi permukaan tanah.

Komoditas yang menghasilkan tahunan adalah tanaman keras. Tananam ini berfungsi untuk mengikat tanah ketika terjadi hujan. Sekaligus sebagai penyerap air hujan. Tanaman keras akan menghasilkan tiap tahun dan mempunyai nilai ekologinya.

Tanaman semusim merupakan penghasil bulanan, dan penguat teras bisa dengan tanaman yang nantinya bisa menghasilkan harian. Inilah strategi menyelamatkan pendapatan petani, selama ini mereka lupa dengan lahan sempit dengan hasil maksimal.

Olah Hasil Pertanian

Petani mandiri harus mampu dan mau mengolah hasil pertanian jadi produk pertanian. Mungkin ini sangat sulit dan dibutuhkan keberanian sendiri. Namun ini harus dilakukan ketika ingin memberikan nilai tambah dari hasil pertanian.

Menurut Mukidi, banyak petani yang menjual langsung produk mentah ke pasar. Padahal produk mentah itu bisa diolah menjadi aneka cemilan yang bisa mempunyai nilai tambah 100 persen. Mungkin keahlian membuat produk olahan hasil pertanian belum mereka dapatkan, atau mereka tidak mau mengolahnya.

Petani mandiri harus memberi contoh mengolah hasil pertanian dari lahannya sendiri jadi sebuah produk. Inilah yang namanya pola contoh, tidak sekedar berwacana. Pola contah adalah mengajak sekaligus berbuat, jangan sampai dikatakan jaskoni (biso ngajak ora iso ngelokoni). Kebanyakan masih melakukan jaskoni, sehingga sangat banyak petani yang tidak mau melakukan yang mengajak.

Pola contoh ini ketika membuahkan hasil, pasti tidak usah harus mengajak. Karena semua orang sekitar melihat bahwa yang dilakukan itu menghasilkan dari sisi finansial dan meningkatkan kesejahteraan keluarga pasti lainnya akan mengikutinya.

Kemampuan Memasarkan

Kemandirian petani tidak sekedar membuat produk jadi dengan kemasan yang menarik. Namun kemampuan memasarkan hasil pertanian merupakan ujung tombak dari olah produk pertanian. Ini seharusnya dilakukan oleh generasi petani yang lulusan SMA/SMK.

Menurut Mukidi, ini harus dilakukan oleh anak penerus petani. Karena anak-anak petani lulusan SMA/SMK tidak mau diajari bertani dengan berbasis lahan. Bertani berbasis lahan selain hasilnya menunggu lama, juga ego gengsi masih menonjol karena anak muda. Usaha pertanian non-lahan salah satunya adalah wirausaha pertanian. Ini merupakah profesi yang harus ditekuni sehingga petani tidak hanya sebatas membuat produk, namun bisa menjualnya.

Bila lulusan SMA/SMK sebagai tenaga pemasaran sangatlah mungkin secara ilmu menjual barang sudah mendapatkan pengalaman di sekolah. Tidak hanya itu dari sisi finansial anak sekarang lebih senang mendapat hasil yang cepat, artinya di dunia pasar ada sirkulasi keuangan tiap hari.

Faktor ekonomi yang rutin ini akan menumbuhkan semangat kepada generasi penerus petani untuk mengeluti wirausaha pertanian. Keprihatinan dalam wirausaha pertanian lebih pendek ketimbang pada budidaya pertanian. Sebagai petani tua seharusnya mengarahkan untuk belajar tentang wirausaha pertanian.

Kekuatan Ekonomi Mandiri

Kekuatan ekonomi mandiri intinya mengumpulkan modal dari kemampuan masing–masing petani. Ekonomi mandiri bisa dirintis dengan mengumpulkan simpanan masing–masing petani. Kumpulan simpanan setiap petani bisa menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa. Kuncinya adalah pemahaman bersama tentang pentingnya membangun kekuatan ekonomi mandiri.

Belakang memang sudah banyak terbentuk koperasi, namun riil di lapangan masih banyak yang tidak mengakomodir kepetingan anggotanya. Mereka banyak pinjam uang tapi lemah dalam menyimpannya, sehingga tidak berjalan.

Dalam ekonomi mandiri ditekankan semua anggota harus menabung sekaligus peminjam. Bentuk jaminan ketika anggota meminjam adalah besarnya tabungan, artinya pinjaman tidak boleh melebihi dari jumlah tabungan. Ketika banyak anggota yang pinjam dan menabung maka sudah tentu akan semakin maju kekuatan ekomomi mandiri. Dalam hal jasa pinjaman jelas seuai kesepakatan anggota dan tidak memberatkan.

Kesimpulan

Konsep kemandirian petani sangatlah sederhana, bagaimana petani bisa mengolah lahannya dengan baik dan benar. Olah lahan disini tentunya yang sesuai dengan aturan yang benar. Membuat tanah semakin sehat tentunya akan bisa menambah kesuburan tanah.

Bagaimana berpola tanam pada lahan yang sempit namun bisa menghasilkan lebih. Tentunya aneka jenis tanaman mulai dari hasil tahunan, bulanan dan harian dipadukan.

Tidak berhenti di situ, kemampuan untuk mengolah hasil pertanian menjadi produk siap jual dan bersaing di pasar harus dilakukan. Kemampuan memasarkan produk olahan pertanian menjadi ujung akhir.

Membuat kekuatan ekonomi mandiri dari kumpulan beberapa petani harus diwujudkan. Kekuatan ekonomi mandiri ini akan bisa mengatasi atau bisa menjadi dana talangan ketika terjadi panen jelek serta dapat untuk menambah permodalah untuk wirausaha pertanian.

Proses tahapan ini harus dilalui dengan semangat dan pantang menyerah dengan penuh keyakinan. Ketekunan kuncinya akan bisa mewujudkan mimpi petani mandiri menata lingkungan dan ekonomi.

(Baca: Mukidi, Petani Kopi yang Menginspirasi )

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait