Kamis, 7 Juli 22

OTT KPK di Hotel di Pejompongan, Tersangka Menjadikan Kata “Pengajian” Sebagai Kode Transaksi

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Anggota DPR RI Komisi XI Aditya Anugrah Moha dan Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Manado, Sulawesi Utara, Sudiwardono sebagai tersangka.  Wakil Ketua KPK Laode M Syarif memaparkan bahwa keduanya ditetapkan sebagai tersangkat setelah yang bersangkutan terjaring operasi tangkap tangan atau OTT KPK di hotel di Pejompongan, Jakarta Pusat, Jumat (6/10/2017).

Dalam OTT tersebut juga diamankan sejumlah uang. “Dari OTT ini tim KPK mengamankan total uang sebagai barang bukti itu SGD 64 ribu,” ungkap Laode di gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (7/10/2017).

Keduanya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap terkait penanganan putusan banding ibu dari Aditya, Marlina Moha Siahaan.

Menurut Laode, Uang tersebut ditemukan di dua tempat. Pertama, dikamar hotel tempat Sudiwardono menginap bersama istrinya inisial Y ditemukan amplop warna putih berisi uang senilai 30 ribu dolar Singapura dan amplop cokelat berisi uang 23 dolar Singapura.

“Selanjutnya dilanjutkan pengeledahan di mobil Aditya Anugrah Moha dan ditemukan senilai 11 ribu dolar Singapura yang diduga kuat berkaitan dengan uang pelicin yang diberikan kepada Sudiwardono yang sedang menjadi ketua majelis banding atas perkara banding Ibundanya,” imbuh Laode.

Kronologi OTT KPK di Pejompongan

Jumat, 6 Oktober 2017 Pukul 23.15 WIB

Setelah kembali dari acara makan malam dengan keluarga, SDW kembali ke hotel. Saat itu dilakukan penyeratahan uang dari AAM ke SDW.

Setelah penyerahan terjadi, KPK amankan AAM dan ajudannya di lobi hotel. Di kamar SDW ditemukan uang sebesar 30 ribu dolar Singapura dalam amplop putih serta 23 ribu dalam amplop cokelat.

Uang di amplop cokelat diduga dari pemberian sebelumnya. Selain itu, ditemukan uang 11 ribu dolar Singapura di mobil AAM.

Dan dari OTT ini ditemukan uang sebagai barang bukti total uang 64.000 SGD

Laode juga mengungkapkan bahwa kedua tersangka menggunakan kata “Pengajian” sebagai kode dalam transaksi suap mereka.

Dalam kasus ini, sebagai pihak penerima, Sudiwardono disangkakan pasal 12 huruf c atau pasal 12 huruf a atau huruf b, atau pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sedangkan Aditya, selaku pihak pemberi disangkakan pasal 6 ayat (1) huruf a atau pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait