Sabtu, 10 Desember 22

Ormas Pro Pancasila Di Bogor Demo Menolak HTI

Puluhan  massa gabungan dari lintas elemen menyuarakan pernyataan yang sama, menolak gelaran safari dakwah berkeliling Kota dan Kabupaten Bogor yang akan digelar Hisbut Tahrir Indonesia (HTI). Demo menolak HTI tersebut diadakan pada hari Sabtu (22/4/2017) hingga Minggu (23/4/2017).

Pernyataan sikap ormas Baraya, HMI, PMII, GMKI, PMKRI, Ansor, serta Front Pembela Indonesia tersebut kemarin sudah disampaikan kepada Wakapolres Bogor Kota, AKBP Rantau Isnur Eka di Mapolres Bogor Kota. Mereka meminta agar Polri tidak memberi ijin kegiatan HTI tersebut.

“Kami sudah minta agar kepolisian tak memberi ijin kepada HTI yang akan menggelar safari dakwah berkeliling Kota dan Kabupaten Bogor,” tukas Ketua Front Pembela Indonesia, Sugeng Teguh Santoso kepada indeksberita.com saat menggelar aksi bersama menolak HTI di Tugu Kujang, Kota Bogor, Sabtu (22/4/2017).

Dikatakan pria yang akrab dipanggail STS, HTI bukanlah ormas keagamaan, melainkan wadah politik yang terus mempengaruhi masyarakat dengan doktrin syariah Islam. Demo menolak HTI menurutnya, wujud dari upaya mempertahankan ideologi Pancasila.

“HTI itu lembaga politik. Agar tercapai tujuannya merubah ideologi negara Indonesia dari Pancasila ke syariat Islam, mereka bungkus dengan simbol agama. Kami minta semua kegiatan HTI di Bogor, tak diberi ijin oleh polisi,” ujarnya.

Sementara, perwakilan Baraya, Irvan Noor di tempat yang sama  menyampaikan ajakan agar seluruh elemen Bogor menyatakan sikap yang sama menolak organisasi pengusung isme anti Pancasila.

“Mari kita sampaikan sikap yang sama kepada saudaraku organisasi nasionalis untuk menolak HTI dan jangan ada isme yang berupaya mengganti Pancasila. Sebab, hal itu merupakan ancaman persatuan dan kebhinekaan yang selama ini sudah harmonis di bumi pertiwi,” tuturnya.

Masih menurut Irvan, HTI disebutnya sebagai sebuah organisasi transnasional yang mencita-citakan seluruh dunia ini berada dalam satu pemerintahan global, yang mereka sebut ‘khilafah’.

“Salah satu jargon utama mereka adalah antidemokrasi, yang mereka anggap sebagai sumber dari segala kerusakan. Mereka sangat biasa berargumen apapun masalahnya, khilafah solusinya. Dan, ini jelas merusak persatuan bangsa dengan potensi SARA. Jika menolak Pancasila, jangan ada HTI di Indonesia,” tandasnya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait