Rabu, 30 November 22

Organisasi Sayap PDIP Minta Polri Usut Kasus Pengusiran Djarot dari Mesjid

Organisasi sayap partai PDI Perjuangan, Banteng Muda Indonesia (BMI) mengecam keras pengusiran Djarot Syaiful Hidayat, calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut 2, usai melaksanakan sholat Jumat di Mesjid al-Atiq, Tebet, Jakarta Selatan.

Sekjen DPP BMI H. Antoni Wijaya,S.H menyatakan, pengusiran terhadap Djarot Syaiful Hidayat dari mesjid adalah perbuatan yang sudah tidak bisa ditolerir. Menurutnya, perbuatan itu adalah perbuatan yang sangat tidak mencerminkan nilai-nilai islami.

“Itu perbuatan yang sangat biadab. Kami minta polri mengusut tuntas kasus pengusiran paksa terhadap Pak Haji Djarot di mesjid al-Atiq, Tebet, karena pengusiran itu adalah bentuk intimidasi kepada Pak Haji Djarot,” kata Antoni Wijaya di Jakarta, Sabtu, 15 April 2017.

Ia juga menduga pengusiran paksa terhadap mantan walikota Blitar itu didalangi oleh pendukung pasangan calon Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

“Kami sangat yakin, pasti ada aktor intelektual dibalik pengusiran itu. Karena motif pengusiran itu bukan baru kali ini terjadi, dan ini tidak bisa dibiarkan. Bentuk intimidasi yang dilakukan secara berulangkali adalah ancaman yang sangat serius,” ujarnya.

Ia menambahkan, kasus pengusiran Djarot Syaiful Hidayat itu adalah salah satu bentuk provokasi yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu untuk memperkeruh suasana damai dalam pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta 19 April mendatang. Dalam kesempatan yang sama Ia juga meminta pendukung Djarot untuk menahan diri.

“Kami juga mengimbau seluruh warga Jakarta, khususnya pendukung Ahok-Djarot untuk menahan diri dari provokasi-provokasi jelang pemilihan ini,” pungkasnya.

Selain itu, Ia pun mendesak kepada calon gubernur nomer urut 3, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno untuk memberitahukan atau mengajarkan kepada seluruh tim sukses serta simpatisannya tentang kompetisi yang sportif, adil dan jujur dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta ini. Sebab, lanjut Antoni, demokrasi yang sehat dalam pemilihan calon pemimpin yang sehat tidak pernah membenarkan intimidasi seperti pengusiran paksa yang dilakukan oleh pendukung Anies-Sandi itu.

“Kami minta Pak Anies dan Pak Sandiaga juga turun tangan dalam kasus ini. Kami minta mereka untuk mentertibkan para pendukungnya di lapangan, ini penting untuk menghindari benturan di lapangan. Mereka harus ajarkan kepada pendukungnya tentang demokrasi, tentang kebhinekaan, tentang hak warga negara Indonesia untuk bebas menentukan pilihan politiknya,” tegas Antoni.

Seperti diketahui, kasus pengusiran Dajrot dari Mesjid A-Tiq setelah yang bersangkutan menunaikan shalat Jumat, merupakan kejadian kedua. Bulan lalu saat haul Soeharto di Mesjid A-Tin Taman Mini, Djarot diusir oleh jemaah peserta haul, padahal Djarot diundang secara resmi oleh panitia penyelenggara haul tersebut.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait