Kamis, 11 Agustus 22
Beranda Featured “OM TELOLET OM” Dan Kelatahan Masyarakat

“OM TELOLET OM” Dan Kelatahan Masyarakat

0

Dalam berbagai kesempatan saya sering menyampaikan bahwa masyarakat kita sekarang  begitu mudah menenggelamkan diri pada sikap latah. Kita mudah melakukan sesuatu tanpa menelaah dulu tentang apa yang dilakukanya. Bahkan kita juga kurang memiliki sikap, dan terkesan mudah digiring dengan mobilisasi pembentukan opini.

Termasuk yang lagi trending saat ini, postingan video sejumlah anak muda  bediri di pinggir jalan, meminta sejumlah bis yang lewat membunyikan kelaksonnya. Permintaan mereka disampaikan secara tertulis, dan atau diteriakin dengan kalimat: ‘Om Telolet Om’. Video itu menjadi viral, dan sekarang diikuti oleh masyarakat lain di segala lapisan.

Menurut saya, ini sebuah sikap latah yang justru semakin memperlihatkan kekurangan bangsa kita pada bangsa lain. Memperlihatkan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat dengan ideologi pasar, yang latah dengan trend yang berkembang. Hal tersebut merupakan bentuk kebiasaan malas berpikir. Kebiasaan yang tak mau memverifikasi terlebih dahulu, apakah suatu informasi dan kebiasaan, itu sudah benar atau salah. Atau apakah mendalami apakah informasi dan kebiasaan itu, bermanfaat atau tidak.

Di sisi lain kita malas meluangkan waktu untuk proses verifikasi, namun di. sisi lain kita punya banyak waktu dengan kesibukan mengomentari rumor. Dalam tinjauan Islam, umat dengan fenomena demikian di asiosasikan sebagai “buih” ditengah lautan.

Seperti fenomena umat Islam di Indonesia bahkan mayoritas dunia, jumlahnya banyak namun tak menentu dan justru gemar terombang-ambing dalam gelombang dan keinginan arus. Ironinya kadang kita sering mengelu-elukan jumlah yang banyak. Padahal dalam Al-Quran, fenomena keburukan selalu didiskripsikan dengan jumlah yang banyak, sebaliknya kualitas kebaikan selalu dengan jumlahnya sedikit. Mengutip kritik keras Cak Nun berkaitan dengan fenomena latah masyarakat, Cak Nun menyatakan bahwa: “hanya sampah dan ikan mati yang ikut arus”.

Buktinya? Ayo kita buktikan..

Lagi trending isu Bela Islam akibat tuduhan penistaan agama. Segera banyak orang ramai membicarakan Ahok sebagai tertuduh. Padahal alih-alih bela agama, pondasi Islam paling dasar seperti Tauhid saja masih kacau, dan sholat syukur-syukur senin kamis. Kenapa demikian? Karena anda latah.

Lanjut..?

Mendekati Natal, saat umat Kristiani penuh hikmat persiapkan merayakannya, kebanyakan mereka yang latah sibuk berdebat soal boleh tidaknya mengucapkan selamat hari Natal.  Bahkan karena merasa sedang berada dalam posisi sebagai yang dituakan, sebagai “wakil” umat, lantas dengan gampang ulama mengeluarkan Fatwa.

Begitu pula, saat ramai-ramai perhatian media mainstream barat memberitakan konflik Syria, masyarakat kita langsung latah dan menghujat Basyir Al As’d, tak peduli apakah sumber informasi itu fakta atau hoax. Atau mungkin karena semata-mata supaya kesannya tak ke tinggalan informasi, mereka langsung sebarkan postiongan-postingan tentang situasi di Alepo, seolah peduli sesama, dan segera mendadak peduli Aleppo. Padahal konflik Syria sudah berlangsung 4 tahun, dan  masyarakat kita tanpa mau bertabayyun langsung begitu saja mudah mempercayai pemberitaan tentang Alepo. Padahal bisa jadi propagada tersebut pertama kali dihembuskan oleh para Pemberontak, Milisi Jabat Nusra dan ISIS, yang tidak rela atas direbutnya kembali kota Aleppo oleh Pemerintah Syuriah.

Masih banyak isu yang silih berganti yang tak mungkin dapat saya jelaskan disini satu per satu seperti isu Komunis, Teroris, sentimen China dan lain-lain. Semua tindih menindih, belum mendapatkan satu jawaban secara tuntas, muncul lagi isu lain. Pola pikir dan sikap kebanyakan masyarakat pun ikut serta berubah seiring berlalunya isu demi isu.

Lalu apa yang lagi trend saat ini?

Otak publik kini lagi beralih mengidap suatu kanker aneh “Om Telolet Om”. Apaan itu? Saya tak berminat mengomentari makna, kata dan fenomena ini secara keseluruhan. Bagi saya penolakan sama dengan penerimaan, yang justru akan membuat fenomena ini akan tambah menjadi trend. Dan itu sangat membuang energi saya.

Namun efek viral fenomena aneh ini di media sosial, membuat isu yang telah disebutkan di atas surut seketika. Semakin jelas bukan? Inilah kira-kira contoh masyarakat dengan ideologi pasar dan berkarakter buih itu.

Entah apakah ini pengalihan isu atau natural, yang jelas persepsi publik sedemikian latah, bergerak mengikuti mekanisme pasar. Dan tentu mekanisme pasar itu bukan interaksi natural demand dan suplai semata, juga sangat ditentukan pengaruhnya oleh tangan-tangan tak kentara lainnya, yakni kekuatan atau kepentingan modal.

Satu hal lagi, kembali saya ingatkan, dalam situasi seperti ini, kata teman saya fenomena “tipping point”, modal dan media merupakan kunci. Maka kita jangan mau dibohongi pakai media. Kita sebagai masyarakat kudu kritis. Dan lebih dari itu, dibutuhkan pula gerakan “jurnalis warga” sebagai bentuk kesadaran dalam mengembangkan media alternatif.

Ala kulli hal? Kapan Indonesia membicarakan soal kemajuan peradaban? Ilmu pengetahuan?

Dengan begitu, maka jangan pernah menaruh harapan lebih, pada generasi dengan ideologi pasar seperti fenomena masyarakat yang latah. Di tengah perang pemikiran dan ideologi di dunia modern kini, kita butuh ideologi dan pemikiran yang berbeda. Namun jika realitanya seperti demikian, boro-boro bicara peradaban dan ilmu pengetahuan, sampai lebaran kuda SBY pun, kalau mindset kita masih mengikuti pasar bukan menjadi pelaku pasar alias masih latah, praktis Indonesia hanya akan diposisikan sebagai target pasar, atau sebagai konsumen. Bukan sebagai pelaku, apalagi menjadi disegani.

*Edy Santri-wartawan, aktivis dan anggota Ansor