Kamis, 1 Desember 22

Niko Adrian : Teror Bom Kejahatan Kemanusiaan, yang Menyebarkan Berarti Ikut Mendukung Kinerja Pelaku Teror

Rabu malam,  tepatnya tanggal 24 Mei 2017, Indonesia kembali diguncang serangan teror bom bunuh diri yang menewaskan 5 orang termasuk pelaku dan 19 orang lainya luka-luka. Teror Bom yang kembali melanda Ibu Kota Jakarta, tepatnya di Terminal Kampung Melayu Jakarta timur ini menuai keprihatin dari Dewan Etik Asosiasi Penasihat Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia, Niko Adrian SH.

Melalui pesan singjatnya kepada indeksberita.com, Kamis (25/5), mengatakan, bahwa pelaku teror atau teroris sesungguhnya adalah pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity). Akan tetapi, sambung Niko, bagi pelaku lapanga yang sudah mengalami proses brainwashing, tidak sadar bahwa perbuatannya bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

“Secara umum teroris meyakini bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah “misi suci”, saya menyebutnya sebagai “doktrin yang keblinger,” ujar Niko.

Niko juga menyayangkan prilaku masyarakat merespon peristiwa Bom Kampung Melayu yang secara spontan melalui WA atau laman sosial memviralkan foto-foto korban. “Masyarakat harus faham taget utama tindakan teror, sudah barang tentu adalah efek dari teror yang dilakukannya yakni, menimbulkan rasa ketakutan yang mencekam secara luas, ikut mengedarkan foto korban secara masif melakui pesan instan dan media sosial itu sama saja membantu kinerja pelaku teror ” ujarnya.

Dalam kaitan ini Niko, yang juga dosen FH UKI, berharap media massa bisa cermat dalam memberitakan peristiwa terorisme. Sebab menurutnya, melawan teror ini tanggung jawab segenap komponen bangsa.

“Saat ini cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan media massa dan medsos untuk menyebarkan informasi dan mengedukasi publik untuk tidak takut melawan kelompok-kelompok organisasi teror,” kata Niko.

Niko mencotohkan, prilaku masyarakat lewat media sosial dalan menanggapi teror bom sarinah perlu diapresiasi. “Dulu saat peristiwa Bom Sarinah masyarakat membuat meme-meme, hastag, dan lain-lain. Harusnya itu yang dilakukan saat ini bukan malah ikut meviralkan foto-foto jenazah korban bom,” tutup Niko.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait