Jumat, 1 Juli 22

Nganjuk Penyangga Stabilitas Pasokan dan Harga Menjelang Natal

Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi mengatakan, potensi pengembangan bawang merah di Kabupaten Nganjuk cukup besar. Maka alangkah baiknya, capaian hasil panen dengan seluas 12.000 hektar di kabupaten tersebut. Bisa dijadikan sebagai penyangga stabilitas pasokan dan stabilitas harga menjelang Natal dan tahun baru.

“Karena itu kami optimistis ketersediaan bawang merah dari Natal sampai tahun baru aman dan tercukupi. Ini baru dari Nganjuk, ditambah Probolinggo, Malang, Sampang, Bojonegoro. Saya yakin ketersediaan aman,” kata Suwandi, Selasa (27/11/2018).

Masih kata Suwandi, apabila produktivitas rata-rata 10 ton per hektar, maka potensi produksi dalam setahun bisa mencapai 120.000 ton. Karena itu dalam proses ini, produksi bawang merah di Nganjuk , terutama. Ia meminta dari hulu hingga hilir supaya lebih ditingkatkan pengelolaannya.

“Oleh karena itu saat ini sudah bagus dan cukup baik. Maka tinggal dimantapkan dan diperkuat hilirisasi hingga pengembangan industri olahan dan ekspor, “ tutur Suwandi.

Suwandi mempertegas hal ini, terkait penekanan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Yang menekankan pentingnya menjaga stabilisasi pasokan dan harga dalam menyambut Natal dan Tahun Baru tahun depan. Ketersediaan bahan pokok tersebut, penting khususnya cabe dan bawang merah harus aman sehingga membuat konsumen tersenyum dan petani untung.

Berangkat dari itu pula, Suwandi melakukan pendampingan di 14 kabupaten penyangga nasional, termasuk melakukan kunjungan ke Nganjuk Jawa Timur sebagai penyangga utama bawang merah.

Sementera itu, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur Irita menyebutkan, luas panen sentra utama di Jawa Timur dalam setahun mencapai 38.000 hektare.

Terdiri dari Kabupaten Nganjuk, seluas 12.000 hektare dengan produktivitas 12 ton, Probolinggo 5.500 hektare produktivitas 7,27 ton, dan Malang 4.200 hektare produktivitas 8,31 ton. Sementara Sampang 3.800 hektare produktivitas 7,91 ton, Pamekasan 2.400 hektare produktivitas 7,48 ton, dan Bojonegoro 2.800 hektare produktivitas 5,35 ton serta Kediri 1.800 hektare produktivitas 5,55 ton, “

“Jadi luas panen satu tahun 38.168 hektar, produksi bisa mencapai 301.825 ton dengan konsumsi 107.875 ton sehingga surplus 193.950 ton. Ini bisa menjaga suplay dan pasokan nasional,” sebut Irita.

Kadis Pertanian Kabupaten Nganjuk Istanto Winoto mengatakan, dalam perekonomian Kabupaten Nganjuk sektor pertanian memiliki peran yang sangat penting. Karena hal itu memiliki kontribusi yang besar terhadap pendapatan regional bruto (PDRB) Kabupaten Nganjuk. Salah satu komoditas unggulan yang menyumbangkan nilai PDRB di sektor pertanian adalah bawang merah.

“Potensi pertanian yang dominan dengan wilayah pertanian sebesar 43.026 hektar dan memiliki jumlah rumah tangga tani sebesar 75 persen dari total rumah tangga di Kabupaten Nganjuk. Peranan pertanian yang dominan dapat dilihat dari struktur PDRB Kabupaten Nganjuk yakni sebesar 28,14 persen,” kata Istanto.

Ketua Kelompok Tani Rejeki Lancar Dusun Sumbersari Kecamatan Gondang Kabupaten Nganjuk Puji Santoso. Kelompok tani yang dipimpinnya telah mengembangkan komoditas bawang merah dengan varietas dominan Tajuk ” Bauci”, Manjung, Trisula Katumi, Philip dan Sanren. Rata-rata produktivitas bawang merah varietas Tajuk dan Bauci bisa mencapai 15 hingga 20 ton per hektar.

“Break Event Point (BEP) atau titik impasnya Rp 9.500 dan harga saat ini pada kisaran Rp 11.000 hingga 13.000 di konsumen. Jadi petani saat ini meraup keuntungan. Bidang usaha lainnya yang kami lakukan adalah produsen benih bawang merah,” ungkap Puji.

Hal sama disampaikan peneliti dan breeder di wilayah Gondang Cahya Yudi Widianto. Ia mengatakan di wilayahnya juga di kenal adanya brambang putih. Jenisnya Bawang Merah (brambang) namun fenotipnya memang berwarna putih. Ditemukan di Gondang Nganjuk Jawa Timur oleh Pak Yudi dan Pak Puji. Selama ini oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai sarana ritual tolak bala.

“Rasanya jauh lebih enak dan harum sehingga potensial dikembangkan . Rencananya, untuk pengembangan baru mau ditanam benih 100 kg pada bulan ini di Nganjuk dan Jombang,” ujar Yudi.

Yudi menambahkan saat ini Brambang putih ini sementara di uji DNA di Laboratorium UGM untuk melihat kandungan dan prospektif pengembangan Brambang Putih ke depan. Hasil survei dari pihak pemerhati bawang merah dari Korea dan Malaysia menyatakan kesanggupan untuk mau membeli Brambang putih tersebut seharga Rp. 150.000 per kilogram untuk dijadikan bahan dasar obat.

“Ini tentunya menjadi sangat prospektif untuk dikembangkan ke depan,” tandas Yudi.

Photo : Dirjen Holtikultura Suwandi bersama petani bawang di Kabupaten Nganjuk (istimewa)

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait