Jumat, 1 Juli 22

Meski Pencalonannya Berat, Yusril Dinilai Bisa Gantikan Sosok Ridwan Kamil

Pilgub DKI Jakarta 2017

Jakarta – ┬áSalah satu figur yang disebut-sebut akan maju pada Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang, Yusril Ihza Mahendra, dinilai berpeluang menarik pemilih yang sebelumnya mendukung Ridwan Kamil. Namun, kemungkinan dirinya untuk mencalonkan diri masih berat, karena partai-partai politik masih memperhitungkan peluangnya untuk menang pada Pilkada tersebut.
Analisis itu disampaikan Direktur Riset Populi Center Saeful Akhyar kepada indeksberita.com, di Jakarta, Selasa (22/3/2016). Saeful menilai, terdapat sejumlah faktor yang kemungkinan bisa menambah suara Yusril antara lain, isu deparpolisasi, Ridwan Kamil mundur dari pencalonan, serta faktor yang selama ini dianggap merupakan kelebihan Yusril sebagai tokoh publik.
Saeful menuturkan lebih lanjut, kendati soal suku maupun agama tidak menjadi pertimbangan pemilih, sebagaimana hasil survey lembaganya pada Februari 2016 lalu, sebagian pemilih tetap ada yang menimbang soal itu, walaupun persentasenya tidak terlalu signifikan.
“Pemilih yang menginginkan sosok lain selain Ahok diperkirakan akan mendukung Yusril, terutama setelah Ridwan Kamil mundur dari pencalonan. Faktor lain seperti kedekatan kultural dan agama, juga mungkin akan menjadi pertimbangan sebagian pemilih,” ungkap Saeful.
Menurut Saeful, sebagian pemilih tetap akan menangkap kesan yang berbeda tentang figur Yusril dan Ahok, walaupun keduanya berasal dari daerah yang sama.
“Artinya, jika ada dua pilihan yang sama tegas, cerdas, bersih, berkinerja baik, tentu hal lain yang akan menjadi penentu, seperti kedekatan latar belakang kultural tadi,” ujarnya.
Namun, di mata Saeful, terdapat hal yang bisa disebut sebagai kekurangan Yusril, terutama penonjolan aspek primordialnya yang terlalu kental, khususnya mengenai agama.
Aspek itu, menurutnya, kadang menjadi keuntungan dihadapan karakter yang tepat, tapi juga bisa “digoreng” oleh lawan politiknya. Dan secara sosiologis mungkin tidak akan laku bagi warga Jakarta yang demikian plural dan rasional.
Hal lain, Yusril memang pernah punya pengalaman jadi menteri, tapi belum pernah terbukti berhasil memimpin terutama memimpin daerah otonom seperti kepala daerah provinsi atau kabupaten dan kota.
“Di sinilah nilai plus Ahok, ia dinilai sebagai orang yang berhasil memimpin Jakarta. Sementara yang lainnya pasti tidak bisa memberi bukti apapun terkait aspek itu,” tutur Saeful.
Sementara, saat ditanya apakah “jasa” pad pilpres lalu bisa menjadi modal Yusril menggalang dukungan dari partai-partai politik yang dulu tergabung di Koalisi Merah Putih (KMP), Saeful mengatakan, politik Indonesia itu sangat dinamis dan temporer. Jadi pertimbangan soal KMP mungkin ada, tapi sangat kecil.
“Politik kita jangka pendek, jadi dalam hal ini mesti dilihat kepentingan temporer apa yang menjadi penghubung antara Yusril dan parpol. Menurut saya, itu antara lain kepentingan parpol melawan independen, kepentingan yang terganggu oleh kebijakan Ahok, serta ideologi sama. Tapi sejauh ini hal itu tidak terlihat menjadi agenda bersama,” pungkas Saeful yang juga akrab dipanggil Usep itu.
- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait