Rabu, 30 November 22

Menjawab Surat Kartini

“Karena saya yakin sedalam-dalamnya, perempuan dapat menanamkan pengaruh besar ke dalam masyarakat, maka tidak ada sesuatu yang lebih baik dan lebih sungguh-sungguh yang saya inginkan kecuali dididik dalam bidang pengajaran, agar kelak saya dapat mengabdikan diri kepada pendidikan anak-anak perempuan kepala-kepala Bumpiputera. Aduhai, ingin sekali, benar-benar saya ingin mendapat kesempatan memimpin hati anak-anak, membentuk watak, mencerdaskan otak muda, mendidik perempuan untuk masa depan, yang dengan baik akan dapat mengembangkannya dan menyebarkannya lagi. – R.A Kartini

Haruslah ada yang memekikkan api, untuk mengobarkan nilai perjuangan. Pendar api yang kecil, sungguh pulalah itu tak akan masalah. Dunia gulita, jika semua terkubur bersama gelap. Kartini muda diam dalam resah, bersama secarik kertas dan pena yang akan menjadi senjata. Ia memilih hidup menjadi lilin, seperti pesannya yang terus berpendar-pendar dalam urat andi zaman, Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kartini adalah sebuah perayaan, atas mimpi kehidupan yang lebih adil untuk perempuan dan laki-laki di negeri ini. Perayaan ini adalah momentum simbolik yang rutin dan diikuti perempuan Indonesia dengan penuh gairah, semangat, seraya mengusung mimpi baru bagi arti  dan peran keberadaan mereka untuk Indonesia. Di banyak tempat, di sudut kota, gelaran gelaran tajuk budaya, membawa spirit perjuangan Kartini pada berbagai helatan. Ada yang baca puisi, membaca surat Kartini, hingga diskusi publik. Sejauh yang bisa diingat, perayaan ini semakin membumi dengan berbagai silang kreasi setelah reformasi.

21 April dan Kartini, setelah era reformasi mulai dimaknai ulang melawan stigma Orde Baru. Kartini, bagi para perempuan pembaharu, bukan hanya seputar  kebaya dan konde, bukan hanya perempuan yang berjuang untuk emansipasi, namun Kartini telah melampui semua simbolisasi itu. Kartini kini menemukan wajah-wajahnya yang  baru sebagai pusat wacana. Suratnya dibaca dengan pesan pembebasan yang lebih bergaung, kebayanya dipakai menunjukkan kegemulaian perempuan Indonesia yang tak akan melupakan budaya dan khas  di tengah himpitan modernitas zaman. Memang, perempuan Indonesia bukan hanya kebaya, namun juga kain ulos, batik, baju bodo, dan banyak lagi. Kini, dengan semangat revolusi mental yang lebih terbuka pada perempuan, kita menyaksikan perayaan Kartini telah melampaui simbol kebaya dan konde tadi, melainkan arus deras perempuan Indonesia  menapak daya nalar seorang Kartini, melalui penelusuran makna atas surat-suratnya.

Ramainya tafsir untuk Kartini adalah hal yang patut disyukuri, bukankah itu berarti bahwa Kartini sebagai simbol “kemajuan perempuan Indonesia” telah menjadi titik sentral wacana di banyak narasi di negeri ini? Sebagai sosok yang melahirkan banyak tafsir dari nalar kritis beliau sebagai Perempuan Jawa pingitan apakah artinya ini bagi kehidupan perempuan Indonesia sekarang? Bukankah itu berarti, Kartini adalah peluang kita, para perempuan Indonesia untuk kembali menawarkan posisi baru untuk kehidupan yang lebih adil dan peningkatan kualitas hidup perempuan pada berbagai aspek, politik, sosial budaya dan kesempatan lainnya?.

INSPIRASI KARTINI ADALAH  MENULIS

“Kami akan goncangkan dia, Bunda,  dengan seluruh kekuatan kami, sekalipun hanya sebuah batu saja yang runtuh dan dengan demikian kami tak bakal menganggap hidup kami sia-sia “ R.A Kartini..

Tahun 1911 di Semarang, Surabaya dan Den Haag, adalah saat pertama kali Surat Surat Kartini diterbitkan oleh prakarsa Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, Mr. J.H. Abendanon. Buku yang terbit dalam bahsa belanda itu diberi judul Door Duisternis tot Licht (DDTL) : Gedachten Over en Voor Het Javaansche Volk van Raden Ajeng Kartini, sayangnya saat itu hanya masih dibaca kalangan terbatas, yakni priyayi dan bangsa Belanda.

Sekitar tahun 1920-an seiring dengan majunya pergolakan perjuangan kaum perempuan, terdapat permintaan tingi untuk penerbitan buku DDTL. Oleh Balai Pustaka dan diterjemahkan oleh Armijn Pane yang melewati beberapa tahap penyuntingan dan pemilihan surat Kartini, DDTL diterbitkan menjadi buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Bagi kita perempuan Indonesia, banyak pilihan melanjutkan perjuangan seorang Ibu kita Kartini. Ada perempuan yang memilih menjadi pendidik, membangun sekolah untuk anak bangsa, ada perempuan yang menjadi Insinyur dan berbagai profesi lainnya, namun tak kalah penting pula, bahwa saat ini banyak perempuan yang telah memilih mengangkat pena sebagai senjata, seperti halnya Kartini. Melalui tulisan dan surat-suratnya, Kartini memilih jalan menulis sebagai jalan utama perjuangannya untuk mengantarkan ide iden nya menjadi muara sungai yang terus mengaliri ide ide anak bangsa sepanjang sejarah.

Sebagai perempuan yang menulis, sisi perjuangan Kartini malalui dunia tulisan tidak boleh dinafikkan begitu saja. Kartini muda dalah seniman, seorang perempuan yang mencintai sastra dengan luar biasa. Hal ini tergambar jelas pada surat-suratnya yang ia tulis untuk Stella. Kartini menulis dengan meramukan kata kata yang indah  namun sarat nuansa perlawanan, contohnya sebagai berikut:

“Kau tanyakan kepadaku, bagaiman keadaanku di antara empat dinding tebal itu. Kau tentu pikir tentang sebuah sel atau semacamnya. Tidak, Stella, penjaraku adalah sebuah rumah besar, dengan pekarangan luas, mengurung aku. Betapa luasnya pekarangan itu, kalau orang harus terus tinggal di situ,  menjadi sesak juga rasanya. Aku masih ingat, bagaiman dalam putus asa yang gelap-gulita itu badanku selalu kulemparkan pada pintu-pintu yang terkunci dan pada tembok dingin. Arah manapun yang kutempuh, akhir dari perjalanan itu selalu saja tembok batu atau pintu terkunci.”

Bagi kita, perempuan Indonesia di zaman milineal yang terpaut jauh rentang jarak dan kondisi sosialogis masyarakat Indonesia dengan generasi Kartini, tetap perlu menjaga nilai-nilai perjuangan dan gagasan Kartini. Adalah sebuah kewajiban untuk tak mengungkung sosok Kartini menjadi puing puing perayaan yang hanya kita coba hidupkan sekali setahun. Sebagai tokoh simbolis perempuan Indonesia, Kartini sebagai inspirasi adaah niscaya menjadi ruh bagi arah kemajuan perempuan Indonesia. Perjuangan belum selesai dan Kartini memerlukan sosok kartini-kartini muda, wajah-wajah baru yang terus mengisi kemerdekaan dengan cita-cita luhur bagi keadilan pembangunan untuk perempuan dan laki-laki.

Adalah hal yang musykil bagi perempuan Indonesia, jika tak mengenal Kartini. Dalam teks lagu nasional, kita telah dicokokkan dengan kalimat “ Ibu kita Kartini, putri yang mulia, putri Indonesia, harum namanya.” Teks ini mendekatkan kita dengan sosok perempuan kecil Indonesia dengan Kartini yang hidup dalam rentang waktu yang jauh. Selain itu, S. Takdir Alisjahbana, dengan menarik sekali, berbicara tentang Kartini sebagai tokoh yang terlibat dan terbelah oleh hipokrisi Belanda dengan politik etis dan konsep Timur-Barat-nya. Sedangkan, biographi Kartini di tulis pula oleh sastrawan besar Indonesia, Pramudya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja menuliskan ini dengan baik.  Pramoedya akhirnya memoderasi polemik penokohan Kartini yang sangat ramai, di antara kubu yang menempatkan Kartni hanya sebagai perempuan biasa yang hanya mampu bersurat dengan narasi bahwa kartini adalah sosok yang dibangun belanda terkait politik etis untuk mempengaruhi banyak kalangan pribumi saat itu.

Mengutip Gunawan Muhamad, ramainya perbincangan dan tafsir atas Kartini, membuat Kenyataan itu membuktikan bagaimana kita memang layak berbangga tentang Kartini. Sungguh tak akan keliru, jika kita mengatakan bahwa Kartini adalah sumbangsih Indonesia pada dunia. Karena itu, momentum  21 April yang juga perayaan Hari Kartini adalah peluang kita, perempuan Indonesia. Pekikkanlah itu pada dunia dengan segenap daya kritis kita.

 

raw-5Opini ditulis oleh Nursidah Abdullah, Sekretaris Umum Forum HMI- wati Nunukan (FORHATI Nunukan), Lulusan  English International Program, University of California, Amerika Serikat, 2008 )

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait