Kamis, 1 Desember 22

Menjadi Korban Pencemaran Limbah B3, Warga Desa Lakardowo Keluarkan Tujuh Tuntututan

Meski upayanya untuk ketemu Gubernur Jawa Timur, Soekarwo tidak terpenuhi.  Warga Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, yang diduga menjadi korban pencemaran limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), dari PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) tetap melakukan tuntutan.

Hal itu disampaikan Koodinator lapangan, Prigi Arisandi di depan kantor gubernur Jawa Timur Jalan Pahlawan Surabaya, Rabu, (26/4/2017).

Prigi juga menyampaikan, bahwa pihaknya sudah mengupayakan berbagai hal, seperti melapor ke Polsek Jetis, Polres Mojokerto, hingga Polda Jawa Timur.

“Di Pemerintahan kami juga melapor ke Kecamatan hingga Pemerintah Kabupaten (Pemkab), tapi tidak juga membuahkan hasil. Bahkan jajaran pemerintah pusat, sama saja,” ujar Prigi, setelah melakukan jalan kaki bersama warga lain dari Jalan Diponegoro ke kantor gubernur Jawa Timur yang berjarak enam kilometer.

Ada tujuh poin yang disampaikan Prigi, di antaranya :

Pertama : Melakukan Kajian Pemetaan yang bersifat fisika dan kimia air yang berada di wilayah Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Ke dua : Membuat sumur pantau untuk mengetahui kualitas air tanah pada zona rentan. Tujuannya untuk  mengantisipasi sekaligus me-monitoring pencemaran air  tanah.

Ke tiga. Melakukan uji kesehatan secara menyeluruh dan sungguh yang dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Tujuannya untuk menganalisis dan menentukan faktor penyebab terjadinya gangguan kesehatan seperti dermatitis dan ISPA yang kini sudah menjangkit di Desa Lakardowo.

Ke empat : Segera melakukan inventarisasi timbunan limbah B3 yang ada di Desa Lakardowo dan memulihkan lahan yang rusak akibat limbah tersebut.

Ke lima : Perlu adanya pemulihan kualitas air tanah dan air sumur dengan menutup sumber pencemar. Sehingga air warga dapat digunakan sebagaimana selayaknya untuk kebutuhan warga sehari-hari.

Ke enam : Memberikan rekomendasi pada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Segera untuk melakukan penutupan perusahaan terkait yang diduga melakukan pencemaran.

Ke tujuh, Melibatkan partisipasi dan melakukan sosialisasi pada warga Desa Lakardowo.

Selanjutnya Prigi menambahkan, selama tiga tahun dari enam tahun berlangsungnya protes warga ini. Sudah melakukan berbagai upaya mendatangai instansi terkait. Namun hingga kini tidak ada solusi.

“Kami hanya diberi janji dan janji saja, tapi tidak ada bukti nyata. Bahkan dulu Gus Ipul (Wakil Gubernur Jatim, Syaifullah Yusuf) katanya mau mengunjungi desa kami, tapi buktinya mana?,” terang Prigi.

Mayoritas warga tersebut menuntut, menghentikan segala kegiatan dari PT PRIA yang dirasa telah merusak ekosistem di desanya.  Desa yang meliputi Dusun Kedung Palang, Sambi Gembol, Sumber Wuluh, Lakardowo, dan Selang. Berjanji tak akan behenti melakukan protes, meski pada hari Rabu itu menjalani berjalan kaki, merasa letih.

Seorang warga Rumiyati mengatakan, sudah dua tahun ini ratusan warga Desa harus membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Ia mengaku, sudah merasakan mengalami kebutuhan hidup berat.

“Bagimana tidak berat, biasanya kita mengkonsumsi air dari sumur sendiri. Kini harus menguras uang untuk beli air. Air sudah tidak dapat diminumkarena mengandung limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), “ ujar Rumiyati.

Rumiyati juga mengaku penghasilan suaminya hanya Rp 70.000 per bulan bahkan tidak pasti, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Tambahan pengeluaran dengan beli air membuat tanggungan saya semakin berat, “ kata Rumiyati yang terlihat matanya berkaca-kaca.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait