Selasa, 3 Oktober 23

Menikmati Kopi Sambil Diskusi Sejarah di Lodji Besar

Apa yang terlintas dalam benak, ketika kita berdiam di rumah kuno: betah berlama-lama kan? “Hommy, “ begitulah kira-kira celetukan terlintas. Itu bisa kita rasakan kalau datang ke kawasan Peneleh, Surabaya. Di situ kita akan menemukan sebuah bangunan kuno, peninggalan Kolonial Belanda. Bangunan yang berdiri tahun 1907 itu oleh pemiliknya kini dijadikan tempat kongkow.

Kuncarsono Prasetyo, pria yang dulu seorang jurnalis adalah pemilik rumah tersebut. Ia menyebut rumahnya itu Lodji Besar Koffie & Djamoe, sandangan yang dilekatkan dalam usaha kuliner dan wisatanya ini. Bukan warung atau kafe yang sekarang sedang ngetrend sebagai tempat kongkow warga Kota Surabaya. Sebutan itu dipertahankan, karena Kuncar punya alasan bahwa rumah tersebut lekat dengan nilai sejarah. Apalagi, kata Kuncar, rumah ini terletak di kampung Peneleh, sebuah kampung sejarah yang sudah dinisbatkan sebagai situs kebangsaan.

“Banyak situs-situs maupun manuskrip di kampung ini. Tetapi miskin wadah, semacam untuk kajian diskusi, kajian bahkan informasi, “ kata Kuncar, saat ditemui di Lodji Besar Koffie & Djamoe di Jalan Makam Peneleh 46 Surabaya, Rabu, (28/12/2016). “Padahal kalau kita sadari, wadah seperti ini akan membantu Pemerintah Kota Surabaya untuk melakukan revitalisasi kawasan bersejarah, yang sekarang rata-rata sudah hampir punah, “ lanjut Kuncar.

Sebagaimana tercatat dalam sejarah, kampung Peneleh dikenal sebagai kampung tempat tinggal para founding fathers Indonesia. Beberapa nama pernah bermukim di kampung ini. Guru bangsa, HOS Tjokroaminoto bersama anak didiknya seperti SM Kartosoewirjo, Soekarno, dan Munawar Muso atau lebih dikenal Musso pernah “mempergolakkan” ideologi kebangsaan mereka di rumah Jalan Peneleh VII. Selain mereka, Agus Salim, M. Natsir, Alimin, Semaun, Dharsono, hingga Tan Malaka, juga mengenyam pendidikan di rumah tersebut. Bahkan Proklamator Soekarno sendiri dilahirkan di Jalan Pandean IV, Peneleh.

Tidak bermaksud berlebihan, begitu mendatangi tempat ini dan memilih tempat duduk yang terbuat dari kayu. Biasa disebut kathil. Rona vintage akan terasa. Iringan musik yang pernah ngepop pada zamannya akan terdengar: Wieteke Van Dort, ““Geef Mij Maar Nasi Goreng” akan mengendap di alam pikiran, sehingga mempunyai keinginan untuk me-review pada masa itu. “Sayang kami tidak bisa menyajikan dalam bentuk piringan hitam atau Gramophone,“ ucap Kuncar.

Ide menghidupkan Lodji Besar Koffie & Djamoe ini, jelas Kuncar, juga berangkat dari guru besar sejarah asal Inggris, Prof Pieter Carry. “Rumah ini memang menjadi jujugan dia saat meneliti makam Belanda. Selain itu tak sedikit wisatawan luar negeri kesasar ke rumah ini saat keliling Peneleh,“ Kuncar menambahkan penjelasannya.

Meski disebut Lodji Besar Koffie & Djamoe yang identik dengan rumah kaum bangsawan sehingga sebagai tempat singgah mereka berduit, Kuncar menambahkan bahwa tempat ini diperuntukkan bagi semua strata dan latar belakang sosial. “Siapapun boleh datang ke tempat ini sambil belajar dan ngopi bareng. Ini kan zaman merdeka, masak masih berpikiran kelas,“ ucap Kuncar.

Sekadar diketahui, Peneleh lahir di zaman Kerajaan Singosari yang berada antara Sungai Pegirian dan Kalimas. Makam Peneleh, sebuah komplek pemakaman yang dibangun tahun 1814. Berada di atas areal seluas 4,5 hektare. Namun sayang, tak ada perhatian Pemerintah Kota Surabaya terhadap kondisi pemakaman saat ini terlihat kumuh. Namun masih tetap menyisakan eksotisme masa lalu, sebagai tempat belajar sejarah. Sebab detil ornamen yang berlanggam gothic dan doric, serta patung-patung berkarakter Romawi masih bisa menjadi cerita.

Maka tak salah, kali ini Kuncar, membuat tempat wisata mengesankan yang diberi nama, Peneleh Heritage Corner, belum lama diresmikan yaitu Rabu, 14 Desember 2016. “Dan belum lama banyak turis Belanda datang kemari. Ternyata mereka masih doyan rempah,“ tukas Kuncar.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait