Kamis, 11 Agustus 22

Menikmati Kafe Apung di Tengah Ganasnya Samudera Hindia di Nias Selatan

Perjalanan melewati gelombang Samudera Hindia dengan menggunakan KMP Simeulue memang tidak pernah mudah. Perut akan dikocok-kocok selama paling cepat 6 jam perjalanan. Bila badai dan laut bergolak, kapal ini akan melambat hingga 9 jam dari waktu tempuh yang harus dilaluinya dari pelabuhan Pulau Tello menuju pelabuhan Teluk Dalam.

KMP Simeulue beroperasi dengan rute Sibolga-Teluk Dalam-Pulau Tello sejak 30 Juni 2016. Meski membawa penumpang namun kapal ini juga mengangkut motor dan mobil. Kehadirannya seminggu tiga kali di Pulau Tello  yang berada di wilayah Pulau-Pulau Batu, Kab. Nias Selatan, telah membuka wilayah tersebut, menjadi tidak terisolir. Dan ini tentunya sangat membantu masyarakat dalam meningkatkan perekonomiannya.

Kapal ini meninggalkan pelabuhan Pulau Tello kurang lebih pukul 10.00 pagi. Sejak 45 menit pertama, kita akan mulai merasakan goyangannya. Bau minyak angin segera tercium di sana-sini. Beberapa penumpang mulai mencari tempat untuk meluruskan badan. Kursi-kursi kosong berderet-deret mulai terisi. Sederet kursi bisa ditiduri oleh dua orang.

Seringnya saya travelling melalui darat, laut dan udara, membuat saya terbiasa dengan situasi seperti itu. Saya memilih tetap duduk di kursi sambil memperbaiki posisi ransel dan satu karung jengkol yang saya letakkan di dekat kaki. Setelah itu perhatian saya tertuju pada sebuah kamar di tengah ruangan penumpang. Jendela kamar itu baru saja dibuka lebar. Diatas jendela tertulis Kafe Simeulue. Dua orang pemuda terlihat mulai sibuk mengeluarkan beberapa lembar tikar. Kemudian beberapa penumpang mulai menghampiri.

raw-4

Jangan bayangkan sebuah kafe dengan deretan kursi cozy dan waitters wara-wiri sambil membawa nampan dan menyodorkan daftar menu. Atau penampilan musik live yang menyajikan lagu-lagu top’40 dan anda bisa ‘request’ lagu kesayangan anda. Tampilan kafe Simeulue lebih mirip kantin sekolah atau kafetaria. Suara musik berasal dari speaker raksasa yang diputar sangat kencang sampai telinga ini rasanya mau pecah. Anda bebas berkaraoke di sana. Meski pun dengan suara pas-pasan.

Saya sudah empat kali mengunjungi pulau Tello dengan menggunakan kapal. Pulau Tello bisa dijangkau dengan pesawat perintis Susi Air dari Bandar Binaka kota Gunungsitoli, lebih cepat sampai. Tapi terus terang, saya lebih menikmati perjalanan dengan kapal laut. Salah satu yang membuat saya enjoy ya ini. Keberadaan Kafe Simeulue yang selalu siap sedia menyediakan semua kebutuhan anda selama di perjalanan. Anda mau sewa tikar, mi rebus, kopi panas, susu hangat, snack ataupun sekedar ngobrol dengan pelayannya juga tidak masalah. Semua tersedia. Harganya pun terjangkau.

Saya tau, pada jam ke 3 atau ke 4 nantinya, kapal pasti akan bergolak lebih kencang. Dan berjalan dalam situasi seperti itu, yang biasa ikut senam lantai pun akan cepat kehilangan keseimbangannya. Sebelum hal itu terjadi, lebih baik saya cepat-cepat berdiri dan memesan kopi panas dan membeli beberapa buah roti untuk mengganjal perut.

Salah seorang penumpang juga memesan kopi. Seorang pria berpenampilan rapi, kepada saya dia berkata, bahwa dia dan beberapa temannya adalah karyawan bank yang sedang jalan-jalan ke pulau Tello. Dia tidak benar-benar bercerita tujuannya ke pulau Tello selain menceritakan bahwa pulau Tello indah sekali.

Sambil menyeruput kopi panas, saya menyembunyikan sebuah harapan. Pulau-Pulau Batu yang  termasuk dalam gugusan pulau terluar bagian barat Sumatera Utara itu memang sangat terisolir. Akses perbankan dan transportasi menjadi kendala utama bagi wilayah ini untuk maju. Gugusan 101 pulau yang terhampar dengan luas 121.05 km2, sesungguhnya menyimpan potensi untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. Ini cukup potensial bagi kabupaten Nias Selatan, bila pemerintah daerahnya benar-benar fokus.

Keindahan laut dan spot surfingnya telah mencuri perhatian wisatawan mancanegara. Beberapa resort yang dikelola orang asing menjawab itu semua. Selain itu, hasil lautnya melimpah, mulai dari ikan, tripang, udang dan lain-lain. Terbukti wilayah ini sering jadi sasaran kapal pukat harimau dari luar wilayah perairan Pulau-Pulau Batu.

Sejak Indonesia merdeka 71 tahun yang lalu, belum ada satupun bank yang berani membuka cabang di sana. Pulau Tello yang menjadi ibukota wilayah itu, luasnya hanya 77 km. Memiliki jalan sepanjang 14 km, yang mengelilingi pulau, menjadi jantung kehidupan bagi pulau-pulau lain disekitarnya.

Mudah-mudahan hasil jalan-jalan teman ngopi saya itu bisa membawa angin segar bagi wilayah Pulau-pulau Batu. Lucu rasanya melihat kenyataan bahwa masyarakat harus menyeberangi lautan selama 6 jam hanya untuk mengirim, mengambil tunai atau menabung.

Gelombang Samudera Hindia semakin meninggi. Beberapa penumpang terlihat tumbang dan diserang mual. Saya memutuskan kembali menuju tempat duduk. Teman saya tadi sudah duluan masuk ke ruang VVIP. Angin berembus kencang. Ini dia, ujar saya dalam hati. Melihat penumpang mulai kehilangan fokus dan suara musik yang menghibur tak mempan lagi, kafe Simeulue mulai mengganti hiburannya.

Film Warkop DKI, Maju Kena Mundur Kena, lalu diputar. Kasino tokoh yang anti perempuan, Indro yang suka curi-curi kesempatan, dan Dono yang pelupa, mampu memancing tawa penumpang. Entah berapa kali saya sudah nonton film itu, baik di darat maupun saat di laut. Tapi saya selalu ikut tertawa bersama dengan mereka. Buat saya adegan demi adegan tidak penting lagi. Ada satu hal yang lebih penting: Selalu ada kegembiraan yang mampu dijaga disini.

Membangun suasana kebersamaan meskipun dalam kondisi perjalanan yang tidak selalu ramah. Antara pasrah dan berpikir tetap optimis, saya menyimpan harapan. Semoga KMP Simeulue bisa membuka keterisoliran wilayah kepulauan di Nias Selatan ini. Semoga bank segera dibuka untuk masyarakat wilayah Pulau-Pulau Batu. Sekali lagi harapan saya dibuyarkan oleh suara tawa penumpang-penumpang lain. Semoga kafe Simelue selalu ada dan tetap buka saat saya berkunjung ke pulau Tello lagi

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait