Rabu, 6 Juli 22

Menhub Jonan: “Taxi Online” Harus Penuhi 3 Syarat

Persyaratan itu ditetapkan karena telah berakhirnya masa transisi penyesuaian bagi taksi berbasis aplikasi (online).  Menurut Jonan, pemerintah dengan pertimbangan keadilan akan bersikap tegas jika pemilik atau pengelola berbasis aplikasi ingin melanjutkan usahanya.

Jakarta – Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan mengatakan, ada tiga persyaratan yang harus dipenuhi bagi pengemudi taksi berbasis aplikasi (online). Bagi yang sudah memenuhi persyaratan dipersilakan jalan. Sementara untuk yang belum memenuhi syarat harus mengurus izin dan melengkapi persyaratan yang harus dipenuhi.

Persyaratan itu ditetapkan karena telah berakhirnya masa transisi penyesuaian bagi taksi berbasis aplikasi (online).  Menurut Jonan, pemerintah dengan pertimbangan keadilan akan bersikap tegas jika pemilik atau pengelola berbasis aplikasi ingin melanjutkan usahanya.

“Yang pertama, pengemudinya itu kalau sedan harus menggunakan SIM A umum. Ini enggak bisa ditawar, jadi tidak ada yang pakai SIM C, SIM C umum ya enggak ada, belum ada, kalau yang microbus yang tempat duduknya lebih dari tujuh ya pakai SIM B1 umum” ujar Menhub Jonan saat konferensi pers usai rapat koordinasi transportasi daring, di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (3/6).

Syarat kedua, kendaraan yang menjadi transportasi harus dilakukan uji kelayakan kendaraan atau KIR.

“Kendaraannya harus tetap di KIR, tadi Kadishub juga mengatakan yang sudah direkomendasikan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Darat harus di KIR, KIR-nya tidak harus di DKI, bisa di bengkel resmi. Saat ini sudah 3.300 lebih kendaraan, tapi yang sudah di KIR baru sekitar 300-an, hampir 400,” jelas Jonan.

Menhub menjelaskan, peraturan soal wajib uji kelayakan kendaraan atau KIR itu tidak hanya berlaku bagi transportasi berbasis aplikasi tapi untuk semua kendaraan angkutan umum.

“Ini sebenarnya bukan hanya berlaku pada Grab atau Uber Taxi, tapi ini berlaku untuk semua, termasuk Metromini termasuk Kopaja, dan juga semua transportasi umum yang diwadahi Organda,” tegasnya.

Adapun syarat ketiga yang terakhir adalah, persoalan STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan), bagi kendaraan yang berada di bawah perusahaan, STNK-nya harus atas nama perusahaan, sementara yang di bawah koperasi, harus merujuk pada UU Koperasi.

“Angkutan umum itu harus berbadan hukum, itu STNK-nya kalau dalam bentuk PT (Perusahaan Terbatas), STNK-nya harus nama PT. Kalau bentuknya koperasi coba lihat UU Koperasi,” kata Jonan.

Sementara itu, terkait masalah KIR, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan,  apabila ada angkutan yang tidak ber-KIR dan ditangkap tentu bisa kita telusuri siapa penyelenggara aplikasi online-nya. Tentu ada mekanisme peringatan berapa kali dan sebagainya.

“Kalau sampai itu dicabut karena melanggar aturan yang ada di Indonesia, itu akan di-block,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan, para menteri telah sepakat, jika asas keadilan memang utama, namun jika melanggar, aturan tetap harus ditegakkan.

“Kita sudah sepakat dan akan kita sosisalisasikan pada masyarakat, kita ingin disiplin. Oleh karena itu, peraturan yang telah kita buat ini,  kita akan awasi dengan ketat, dan akan ada sanksi-sanksi yang jelas tapi berkeadilan. Jadi artinya kita tidak ingin ada yang dirugikan,” kata Luhut.

Lebih lanjut, Luhut menjelaskan, ketiga menteri (Menko Polhukam, Menhub, dan Menkominfo) telah sepakat, jika kendaraan yang digunakan sebagai transportasi untuk publik tidak mengikuti tiga syarat di atas, maka akan segera ditindak. Jika beberapa kali diperingatkan maka izin akan dicabut dan aplikasi akan di-block.

Menurut Luhut, pemerintah telah memberi ruang bagi usaha tranportasi berbasis aplikasi online, maka disiplin juga harus ditegakan.

“Kita berikan ruang kepada aplikasi ini, tapi disiplin juga harus ditegakkan kalau melanggar,” tegasnya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait