Sabtu, 10 Desember 22

Menhan AS Meminta Maaf Atas Penolakan Terhadap Kedatangan Panglima TNI ke AS

Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu, Senin (23/10) melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) James Mattis di sela-sela Sidang ke 11 Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN atau atau ASEAN Defence Ministry Meeting (ADMM) dan Sidang ke 4 ADMM PLUS yang diikuti oleh Menteri Pertahanan kedua negara tersebut di Clark, Pampanga, Filipina. Dalam kesempatan tersebut, James Mattis meminta maaf atas penolakan terhadap kedatangan Panglima TNI ke AS.

Dalam pertemuan ini juga dibicarakan mengenai ancaman terorisme secara global, selain permintaan maaf atas insiden penolakan kedatangan Panglima TNI ke AS oleh pihak imigrasi dan kepabeanan AS kemarin.

Menurut Menhan AS, hal itu diharapkan tidak akan terulang kembali mengingat hubungan kerjasama pertahanan yang telah terjalin baik selama ini. Menhan Ryamizard Ryacudu berharap apapun masalah yang melatarbelakanginya dapat segera diselesaikan oleh Pemerintah AS dan hal ini tidak akan mengganggu hubungan baik kedua negara, terutama dalam bidang pertahanan.

Sebelumnya Duta Besar AS telah meminta maaf kepada Pemerintah RI. Dalam halaman resmi Kedutaan Besar Amerika Serikat diberitakan bahwa Duta Besar Joseph Donovan, telah meminta maaf pada Menteri Luar Negeri, atas ketidaknyamanan yang dialami Gatot Nurmantyo

“Duta Besar Amerika Serikat Joseph Donovan telah meminta maaf kepada Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi atas ketidaknyamanan yang dialami Jenderal Gatot,” demikian pernyataan tertulis Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia yang dimuat di laman resmi Kedutaan Besar Amerika Serikat, Minggu (22/10/2017)

Penolakan terhadap kedatangan Panglima TNI ke AS, menimbulkan tanda tanya, sekaligus kegusaran berbagai pihak di dalam negeri atas kejadian ini. Pemerintah melalui Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, meminta klarifikasi atas penolakan kedatangan Panglima TNI, padahal kedatangan Panglima justru untuk memenuhi undangan Pihak AS.

Berbagai kelompok masyarakat sipil juga menuntut pemerintah untuk meminta klarifikasi kepada pemerintah AS. Seperti yang dinyataka Inisiator Garuda Nusantara Center, Andrianto. Menurutnya, masyarakat perlu tahu dasar pencekalan ini supaya tidak menjadi preseden di kemudian hari.

“Apalagi Gatot diundang secara resmi oleh Institusi Pertahanan AS. Ada misleading yang terjadi di negeri Paman Sam itu,” ujarnya kepada indeksberita.com

Seperti diketahui, Panglima TNI Gatot Nurmantyo dilarang masuk ke wilayah AS pada Sabtu (21/10/2017). Saat itu Panglima TNI beserta delegasi masih berada di Bandara Soekarno-Hatta hendak menuju AS menggunakan maskapai penerbangan Emirates. Namun beberapa saat sebelum berangkat, ada pemberitahuan dari maskapai penerbangan bahwa Panglima TNI beserta delegasi tidak boleh memasuki wilayah AS

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait