Senin, 27 Juni 22

Mengenal Razan Asraf, Perawat Muda Palestina Yang Gugur Ditembak Tentara Israel

Kematian Razan Asraf di hari Jumat 1 Juni 2018 bukan hanya menjadi duka bagi warga Palestina. Namun kepergian Perawat muda tersebut juga mengundang perhatian dunia khusunya aktivis-aktivis medis dan pemerhati perdamaian. Ucapan duka cita terus mengalir kepada gadis berusia 21 tahun tersebut.

Tak hanya ribuan warga Palestina yang mengiringi jenazah Razan ke pemakaman. Tetapi aktivis-aktivis anti perang,aktivis medis dan insan pers dari berbagai negara turut mengantarkan wanita yang dijuluki ‘Angel of Mercy’ Paramedic’ itu ke peristirahatanya yang terahir, Sabtu 2 Juni 2018 di Gaza.

Kantor Berita Palestina WAFA bahkan menuliskan ucapan yang membuat dunia terharu. WAFA menyebut Razan sebagai Perempuan yang tak gentar bertugas di garis depan. Wajahnya yang cantik dan kinerjanya yang cekatan membuatnya bagaikan malaikat di tengah situasi penuh gejolak di perbatasan Gaza dan Israel.

Kematian Razan sendiri menurut para saksi mata terjadi saat Razan berusaha menolong seorang demonstran yang berusia lanjut dari serangan gas air mata tentara Israel. Ketika itulah tiba-tiba, menurut keterangan salah satu saksi mata, tentara Israel yang diyakini adalah penembak jitu (sniper) melepaskan dua atau tiga tembakan dari seberang pagar pembatas. Raza pun terjatuh, terkena tembakan di bagian atas tubuhnya. Hingga, tak lama kemudian setelah sempat dirawat, nyawanya tak tertolong lagi.

Kecaman terhadap pembunuh Razan terus mengalir. Banyak pihak yang menyebut penembakan yang dilakukan terhadap Razan Asraf sebagai sebuah kebiadaban mengingat pada saat itu Razan nampak jelas memakai seragam medis. Diantara ucapan duka cita yang terus mengalir, terbesit pertanyaan siapa seperti apa sebenarnya sosok Razan Asraf ini.

Ribuan pelayat (2/6) mengantarkan jenazah Razan Asraf ke Pemakaman. (Reuter)
Ribuan pelayat (2/6) mengantarkan jenazah Razan Asraf ke Pemakaman. (Reuter)

Dilansir New York Times, Minggu (3/6/2018), walaupun masih terbilang muda,Razan Asraf bukan sosok yang asing bagi rakyat Palestina. Razan dikenal sebagai sukarelawan untuk mendobrak budaya konservatif masyarakat Palestina. Razan juga kerap dikenal dalam kampanyenya yang ingin menunjukkan paramedis bukan hanya tugas seorang laki-laki.

Menempati sebuah rumah di Khuzaa, sebuah desa yang terletak di bagian perbatasan dengan Israel, timur Khan Younis dan wilayah selatan Gaza, Razan tinggal bersama Ayahnya, Ashraf al-Najjar, dia tinggal bersama kelima adiknya. Ayahnya dulu dikenal memiliki toko yang menjual onderdil motor namun akibat serangan udara Israel pada 2014 lalu,membuat toko tersebut ikut luluh lantak.

Sebelum menjadi anggota Palestinian Medical Relief Society, Razan terlebih dulu berlatih menjadi paramedis selama 2 tahun di Rumah Sakit Nasser di daerah Khan Younis. Keinginanya menjadi paramedis begitu kuat, hal itu ia katakan saat diwawancarai awak media semasa hidup.

“Kita memiliki satu tujuan. untuk menyelamatkan nyawa dan mengevakuasi orang-orang. Dan mengirimkan pesan ke dunia: tanpa senjata dan kita bisa melakukan apa saja,” itulah ucapan Razan yang kemudian menjadi inspirasi para wanita Palestina untuk turun langsung membantu para korban yang terluka dalam demonstrasi.

Menyikapi kematian Razan dan warga Palestina yang tewas sebelumnya saat bentrokan terjadi, para pejabat Palestina dan kelompok-kelompok pembela hak asasi manusia serta aktivis anti perang melancarkan kritik ke militer Israel karena menggunakan kekuatan mematikan terhadap para pengunjuk rasa yang sebagian besar tidak bersenjata.

Diketahui, pada peringatan 70 tahun Nakba yang dimulai sejak 30 Maret 2018, sedikitnya 120 warga Palestina yang tewas dan ribuan lainya luka-luka. Nakba adalah peristiwa tatkala hampir satu juta orang Palestina dipaksa meninggalkan kampung halamannya, untuk membuka jalan bagi berdirinya negara Israel.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait