Selasa, 24 Mei 22

Menengok Pasar Papringan, Ekowisata Yang Fenomenal di Temanggung

Jika kita mendengar nama Hutan Bambu, maka yang terbesit dibenak kita adalah suasana rimbun, semak bahkan terkesan angker. Namun tidak demikian dengan kawasan Hutan Bambu di Dusun Banaran Kelingan, Desa Caruban, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Hutan Bambu yang biasanya rimbun disulap menjadi sebuah arena pekan yang sangat fenomenal. Ini mungkin hanya ada satu-satunya di Indonesia yang berkonsep pasar dengan nuansa kebun bambu, dalam tema Pasar Papringan atau Pasar Kebun Bambu.

Tak hanya di Dusun Banaran Kelingan, di Dusun Ngadiprono Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung, juga dibuat hal serupa. Alhasil Pasar Papringan yang digelar setiap hari Minggu Wage (35 hari sekali) ini bukan hanya memikat hati masyarakat setempat, namun hampir setiap pekan pasar tersebut digelar, selalu dibanjiri wisatawan baik dalam maupun mancanegara.

Di pasar yang digagas oleh Singggih S Kartono (Pendiri Komunitas Sepeda Pagi) dengan konsep Culinary, Crafts, dan Agriculture ini, para wisatawa dapat menikmati berbagai kuliner khas Temanggung Seperti getuk, cenil, cetot, endok gluduk, ketan cambah,entho cotot, bubur, ketan, klepon, cincau hingga kupat tahu.

IMG-20171130-WA0370

Makanan dan jajanan yang dijajakan di sini bebas dari MSG, pewarna, dan pemanis buatan. Bahkan, di pasar ini penggunaan plastik ditolak, para pedagang menggunakan bahan yang ramah lingkungan, seperti batok, piring lidi atau daun pisang, daun jati dan kertas.

Koin Sebagai Alat Pembayaran

Ketika mengunjungi Pasar Papringan, pengunjung harus menukarkan uang mereka dengan koin bambu atau pringyang berfungsi sebagai alat pembayaran selama di pasar ini.

Nominal uang kayu ini dimulai dari nominal 1 Pring hingga 50 Pring. 1 Pring = Rp 1.000. Koin bambu terbuat dari kayu yang dengan gambar logo Pasar Papringan dan nominal uang tersebut.

Disediakan beberapa tempat penukaran koin bambu. Koin bambu tersebut nanti bisa ditukarkan kembali dengan uang rupiah.

IMG-20171130-WA0368

Pasar Paringan Bisa Menjadi Ekowisata Di Daerah Lain

Konsep Pasar Papringan ini apabila dikembangkan, selain mampu memikat hati wisatawan,sebenarnya akan mampu mendongkrak perekonomian masyarakat setempat bukan hanya untuk wilayah Temanggung semata namun juga untuk daerah lain yang memunyai potensi alam serupa.

Aktivis Sosial dan Penggiat Pariwisata, Gisella Cik Hartanti, kepada indeksberita.com mengungkapkan bahwa banyak wilayah lain yang mempunyai potensi hampir sama apabila dikemas dalam konsep Pasar Papringan namun dalam tema yang berbeda.

Hal tersebut menurut wanita yang akrab dipanggil Uchi tersebut, disamping untuk memeratakan Desa Wisata, juga agar kontinyutas wisatawan dalam mengunjungi Indonesia khusunya Jawa Tengah terus terjadi.

IMG-20171130-WA0369

“Misalnya pekan ini di Temanggung,pekan depan di Magelang dan depanya lagi di daerah lainya. Misalnya ada orang ke Ketep, diarahkan ke Puthuk Setumbu, Gereja Ayam, Desa Bahasa dan lain-lain,” ungkap Uchi , Kamis (30/11/2017).

Uchi tak menampik jika kawasan Sekar Langit yang sangat eksotik dengan air terjun dan hutan bambunya serta kawasan hutan wisata lainya apabila dibuatkan konsep serupa tapi dalam tema yang berbeda. Uchi mencontohkan, di Boja ada kawasan Hutan Karet, mungkin bisa dibuat Pasar Karetan.

“Memang konsep dan ide wajib dihargai, tapi jika ada wilayah lain yang ingin mengembangkan hal serupa lantas ada yang tak sepakat karena idenya dicontek, itu kan namaya hanya ingin tempat itu doang yang maju sementara wilayah lain tak terpikir,” ujarnya.

Uchi berharap agar semua komunitas terutama komunitas pariwisata di Jawa Tengah khusunya di Temanggung dapat bersinergi satu sama lain agar sama-sama mengembangkan wilayah Temanggung yang memang bernuansa eksotik dapat diolah secara bersama menjadi destinasi wisata bertaraf internasional.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait