Jumat, 1 Juli 22

Mendikbud Berkunjung ke SMP Pawytan Daha 1 Kota Kediri, Tinjau Pengintegrasian Pancasila dalam Pendidikan Karakter Siswa

Di tengah persiapan implementasi Kurikulum 2013 yang berisi pendidikan karakter oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), SMP Pawytan Daha 1 Kota Kediri sudah melaksanakan pengarusutamaan (mainstreaming) nilai-nilai Pancasila ke dalam kurikulum untuk tujuan pendidikan karakter siswa. Pengalaman tersebut mendorong Mendikbud berkunjung ke SMP Pawytan Daha 1 Kota Kediri untuk menyaksikan secara langsung pelaksanaan kurikulum di sekolah tersebut siang tadi, Minggu (16/7/17).

Kedatangan rombongan menteri yang didampingi Direktur Pendidikan SMP Kemendikbud, Supriono dan Walikota Kediri, Abdullah Abubakar disambut dengan  drumband, gamelan serta Tari Jiwaku Panji yang dimainkan oleh siswa-siswi sekolah tersebut.

Eva Sundari anggota DPR Dapil Jatim 6, sebelumnya pada tanggal (7/7/17) menyerahkan silabus lengkap SMP Pawyatan tersebut ke Mendikbud. Respon menteri positif dengan menyatakan bahwa hal tersebut merupakan best practice sekaligus bisa menjadi model implementasi Kurikulum 2013.

Dalam sambutannya, Mendikbud menegaskan, bahwa SMP Pawyatan sudah memberi contoh bagaimana karakter Nasionalisme ditanamkan melalui kurikulum. “Saya ini hanya melaksanakan Nawacita, khususnya perintah Presiden untuk menyelenggarakan pendidikan kepribadian, tapi saya melihat SMP Pawyatan memberi contoh bagaimana karakter Nasionalisme ditanamkan melalui kurikulum,” ujar Mendikbud.

Mendikbud mengingatkan bahwa selain nasionalisme maka karakter penting yang lain yg perlu ditanamkan ke siswa adalah religiusitas, kreatif-innovatif, integritas dan gotong royong.

Kontribusi SMP Pawytan Daha adalah pemakaian strategy mainstreaming nilai-nilai Pancasila kedalam mata pelajaran intra dan ektra kurikuler. Permainan-permainan juga dikembangkan, sehingga pengajaran Pancasila terlaksana secara gembira, demokratis dan responsif kebutuhan karena kontekstual dengan situasi lokal. Pada kesempatan itu, mendikbud dan walikota Kediri mencoba permainan monopoly raksasa bersama para siswa.

“Ini eksperimen yang saya dampingi selama setahun. Alhamdulillah, sudah ada 8 sekolah SMP yang akan mereplikasi program dengan ciri khas masing-masing. Beda dengan P4 yang indoktrinatif, kita pakai pendekatan bottom up sehingga penuh warna sebagaimana prinsip bhinneka tunggal ika,” jelas Eva Sundari. Dia menambahkan, bahwa pada tanggal 18 July yad akan ada rakor bersama Kemenko PMK tentang hal yang sama dengan SMP negeri dan swasta se Kota Kediri.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait