Rabu, 30 November 22

Mencari Pancasilais Sejati: Hoegeng dan Benny Moerdani

Presiden Jokowi baru saja meresmikan lembaga Unit Kerja Presiden  Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), pada Rabu pagi (8/6). Pembentukan lembaga ini merupakan respons cepat Presiden Jokowi atas situasi sosial-politik mutakhir yang berkembang demikian rumit, seolah seperti labirin tak berujung. Keberadaan lembaga tersebut diharapkan dapat sedikit meredakan potensi konflik pada masyarakat kita, baik konflik horizontal maupun vertikal.

Salah satu harapan publik adalah, kiranya lembaga ini tidak mengulangi kiprah lembaga sejenis di era Orde Baru, yang dikenal sebagai BP7. Salah satu “produk unggulan” BP7 adalah penataran P4, yang sangat verbal itu. Kalau masih memakai model penataran P4 seperti dulu, bisa dipastikan akan memperoleh resistensi dari masyarakat. Mengingat yang dibutuhkan masyarakat sekarang adalah, bagaimana ideologi Pancasila itu diimplementasikan, dan tak kalah penting juga, siapa tokoh nasional yang bisa dijadikan teladan dalam berperilaku sebagai insan Pancasilais sejati.

Hoegeng dan Benny

Dari sekian banyak figur nasional, dengan segala pertimbangan, saya mengajukan dua nama, yakni Jenderal (Pol) Hoegeng (mantan Kapolri) dan Jenderal TNI Leonardus Benyamin Moerdani (mantan Panglima ABRI dan Menhan). Pengajuan dua tersebut tentu akan mengundang perdebatan, namun ada hal lain yang lebih mendesak, bahwa rakyat butuh rujukan atau teladan. Kebutuhan ini yang harus segera kita isi.

Soal  Jenderal Hoegeng, tak ada seorang pun yang meragukan integritasnya, terutama perilaku hidupnya yang sangat bersih. Mantan Presiden RI Gus Dur, memberikan metafora yang unik soal sosok Hoegeng. Menurut Gus Dur, hanya ada dua polisi yang jujur. Pertama, polisi tidur, dan kedua, Jenderal Hoegeng.

Dalam  keteladanan bersikap, Hoegeng adalah contoh yang  ekstrem. Tentu kita juga harus realistis, dalam zaman seperti sekarang, di mana pangkat dan kekayaan dijadikan ukuran dalam menilai seseorang, apakah masih mungkin kita berharap, kelak akan muncul figur elite setangguh  Hoegeng, dalam arti keberaniannya menjalani hidup sederhana dan senantiasa lurus.

Sikap Hoegeng yang terlalu keras pada kehidupan pribadi (jadi termasuk pada keluarganya), bila diukur dengan zaman sekarang, sebenarnya sebuah anomali. Bahkan keluarganya seolah juga ikut tertekan atas perilaku keras Hoegeng sendiri. Rasanya tidak ada yang sanggup meniru sikap hidup beliau, bahkan “separuhnya” saja mungkin tidak ada yang sanggup. Karena itu perlu dicari model lain yang lebih moderat, yang lebih mudah untuk dipraktikkan bagi generasi sekarang, salah satunya adalah Jenderal Benny Moerdani (1932-2004).

Benny Moerdani Benny Moerdani

Saat menjabat Pangab (Panglima TNI 1983-1988), ada satu ciri Benny yang menonjol, yaitu sikap kesederhaannya. Saat memimpin ABRI, penggunaan anggaran dikeluarkan seefisien mungkin. Misalnya saat Upacara Hari TNI,  diselenggarakan dengan cara sederhana: tanpa manuver pesawat melintas (flypass), tidak perlu mendatangkan pasukan upacara dari luar Jakarta, dan hidangan sederhana bagi para undangan. Efisiensi juga terjadi pada tingkat satuan, di mana Benny melikuidasi Kowilhan, Kostranas, dan sejumlah Kodam.

Kemudian ketika sertijab Pangab (1988), dari Benny ke Jenderal Try Sutrisno. Begitu Komandan Upacara memberi aba-aba penghormatan pada Panglima yang baru, Benny yang juga berdiri di podium, langsung berputar menghadap Pangab (yang baru) dan memberi hormat. Kabarnya Try Sutrisno sendiri sempat terkejut, atas sikap Benny tersebut. Peristiwa ini akan selalu dikenang, sebagai peristiwa yang unik. Ini juga merupakan petunjuk, Benny adalah seorang prajurit yang berdisiplin tinggi dan sadar posisi.

Sosok Benny sebagai Pancasilais sangat terlihat, tatkala dilantik sebagai Pangab (1983), yaitu ketika mengucapkan sumpah jabatan. Kebetulan Benny adalah penganut  Katolik, maka prosesi sumpahnya adalah, tangan kiri diletakkan di atas Alkitab, sementara tangan kanan mengacungkan lima jari. Yang menarik adalah, tangan kanan Benny mengacungkan lima jari, bukan dua jari sebagaimana lazimnya. Ketika hal itu dikonfirmasikan, rupanya lima jari itu ia maksudkan sebagai Pancasila. Ini sebuah pertanda, kuatnya komitmen kebangsaan Benny.

Saat baru diangkat sebagai Menteri Pertahanan (1988-1993), Benny berkesempatan ceramah di kampus Universitas Udayana, Denpasar, pada 26 Oktober 1988. Dalam salah satu bagiannya, Benny mengatakan, bahwa Pancasila merupakan nilai yang fundamental bagi bangsa Indonesia. Konteks ceramah Benny saat itu adalah, bagaimana masyarakat Indonesia sedang mengalami transisi, dari sistem nilai agraris-tradisional ke sistem nilai modern-industrial. Dengan tetap berpedoman pada Pancasila, bangsa Indonesia selalu siap menghadapi gelombang peralihan zaman. Kira-kira begitulah yang dimaksud Benny.

Tokoh Lainnya

Pada berbagai sektor kehidupan sebenarnya bisa kita jumpai figur Pancasilais, hanya mungkin yang bersangkutan, maupun masyarakat di sekitarnya kurang menyadari hal itu. Di bidang kesenian misalnya, kita menemukan Teguh Srimulat (terlahir Kho Tjien Tiong), yang memberi pendekatan baru dalam gaya pentas komedi di Tanah Air.

Gaya pentas kelompok Srimulat yang dulu dikembangkan Teguh, masih terlihat jejaknya sampai sekarang, yang menjadi inspirasi kelompok sejenis dalam penampilan di televisi maupun di gedung pertunjukan. Sejak tahun 1960-an, sampai Teguh meninggal (1996), masyarakat menonton Srimulat, tanpa pernah mempersoalkan, apa agamanya, apa sukunya, apa orientasi politiknya, dan seterusnya. Tanpa mempersoalkan sentimen primordial, Teguh bersama kelompoknya (Srimulat) memberikan penghiburan murah bagi masyarakat, khususnya bagi masyarakat kelas bawah.

Tentu masih ada figur yang lain, seperti Tan Joe Hok (Hendra Kartenegara) misalnya, yang mengharumkan nama bangsa di pentas Dunia, saat menjadi putera Indonesia pertama yang menjuarai turnamen bulutangkis All England, tahun 1959. Atau dokter Handoko Tjondroputranto, ahli kedokteran forensik senior, yang pernah secara sukarela mendukung tim relawan dalam menyisir kuburan massal. Juga saat berpraktik di rumahnya di kawasan Cawang (Jakarta Timur), dokter Handoko dikenal murah hati, yang tidak memungut biaya pada warga yang kurang mampu.

Kiranya nama-nama tokoh tersebut bisa dijadikan rujukan bagi UKP-PIP dalam menyosialisasikan nilai-nilai Pancasila. Bahkan idealnya implementasi nilai Pancasila harusnya lebih dulu diterapkan di kalangan elite, bukan pada masyarakat biasa. Kalau elitenya saja tidak sanggup memberikan teladan, lalu mengapa pula masyarakat kebanyakan yang dijadikan “kuda beban” pengamalan Pancasila.

 

Penulis Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait