Senin, 27 Juni 22

Menakar Ahok, Melawan Ahok

Pilgub DKI 2017

Sekali lagi, Ahok!

Diantara sekian figur yang sedang menakar kepantasan untuk nyagub pada pilkada gubernur DKI Jakarta 2017 mendatang, nama Ahok tetap menjulang. Dalam rezim elektoral, pengamat cum surveyor politik lazim mengukurnya lewat sejumlah indikator yang dianggap signifikan mempengaruhi kandidat di proses pemilihan, yaitu popularitas, personalitas, elektabilitas. Prestasi? Belakangan masuk hitungan.

Dan entah serius atau seolah-olah, partai politik juga keranjingan memakai ukuran tadi sebagai acuan saat menimbang dan menetapkan kandidat yang akan diusungnya. Meski uang tetap jadi perkara yang akhirnya betul-betul paling diperhitungkan mereka. 

Untuk Pilgub DKI Jakarta nanti, sejumlah nama tenar kini mulai terdengar dan digadang-gadang jadi bakal calon (balon). Sosok yang disebut cukup menonjol dan potensial antara lain Ridwan Kamil (Walikota Bandung), Tri Rismahariani (Walikota Surabaya), Sandiaga Uno (pengusaha), Adhyaksa Dault (mantan Menpora), juga Yusril Ihza Mahendara (pengacara) yang belakangan muncul menyatakan kesiapannya. Bila mengacu hasil survey  awal, peluang beberapa balon itu terlihat tak begitu menjanjikan. Tapi, kalau mau sekedar menghibur diri atau atas nama demokrasi, silakan saja memproklamirkan sendiri.

Setidaknya, begitu yang terungkap dari survey lansiran Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Januari 2016 lalu. Sebagai petahana, Ahok untuk sementara jadi juaranya. Dengan tingkat popularitas sebesar 94% dan elektabilitas (43,25%), Ia unggul jauh dari balon lainnya. Termasuk dari Ridwal Kamil (17,4%) yang dipandang sebagai sosok terkuat penantangnya. Namun, sejauh yang kita dengar hingga saat ini, apa yang mungkin jadi handicap pencalonannya adalah “kewarasan”-nya untuk tidak tinggal glanggang colong playu dari jabatannya selaku Walikota Bandung, hingga 2018 mendatang. Jika begitu halnya, maka salut kita untuknya. Orang-orang baik dan berprestasi mestinya menyebar di seluruh pelosok negeri ini.

Maka, sekali lagi, Ahok!

Apakah Ahok akan menang (lagi)? Menyigi peluangnya tentu tak mudah. Dinamika sosial politik seringkali menyajikan ending yang sukar ditebak. Kekuatan figur, dana, dan kerja-kerja tim sukses, adalah faktor dari sekian faktor lain yang bisa menentukan hasil pemilihan. Yang pasti, tidak ada rumus menang. Rumus kalah jauh lebih jelas dan lebih mudah ditentukan.

Kembali ke Ahok, faktor idiosyncratic adalah salah satu sisi menarik ketika kita harus menakar peluangnya. Suka tak suka, Ia telah menjelma jadi fenomena tersendiri di jagad politik Indonesia. Kiprah kepemimpinannya semakin diperhitungkan. Jakarta menjadi panggung dirinya sedemikian rupa. Tidak terlalu luar biasa, memang. Tapi jelas, bahwa sejauh ini Ia berhasil tampil bukan sebagai pejabat biasa pada umumnya. Dan sepintas lalu Ahok sebetulnya begitu mudah dibaca.

Jadi, menakar siapa Ahok sebetulnya bukan pekerjaan sulit. Cukup dengan melihat segala keterbukaannya.  Karena Ia bukanlah sosok yang suka sembunyi atau tenggelam dalam dirinya. Melainkan figur yang hampir paripurna membuka dirinya. Baginya, atribut personalnya sebagai “PKC” (Pria, Kristen, Cina) bukan hal tabu yang perlu disembunyikan. Tentu untuk yang disebut pertama tak perlu lagi penegasan. Tapi tentang dua hal terakhir begitu sering ia ungkapkan di berbagai kesempatan. Baginya, itu bukan hambatan dalam interaksi sosial maupun dalam proses pembuatan kebijakan. Kecuali jika itu jadi masbuloh (masalah buat loh!)

Keterbukaan Ahok dalam segala hal acapkali membuat sebagian kalangan salah paham. Baik di internal gubernuran maupun di luar kalangan itu. Mungkin benar bahwa santun, diplomatis, atau sabar bukanlah asosiasi yang pas tentang dirinya. Sebaliknya, Ia cenderung blak-blakan, to the point, nggak sabaran, pemarah, dan lain sebagainya.  Sejak didapuk jadi orang nomor dua, dan sekarang nomor satu di Balaikota Jakarta, Ia tampil beda dari “kenormalan” tokoh atau pejabat yang umumnya terlihat repot membangun citra diri untuk nampak seolah-olah baik di mata publik, meski faktanya adalah kebalikannya. Santun tapi korup. Manis tapi bengis. Nah!

Hasilnya,  pelan tapi pasti rimba persoalan Jakarta berhasil diurai dan diselesaikannya. Satu per satu desain grafis tentang Jakarta yang jadi impiannya berhasil dituangkan dalam bentuk nyata. Caranya tidak canggih-canggih amat. Logika Ahok sederhana saja, bahwa Jakarta harus manusiawi untuk menjamin harkat kemanusiaan seluruh warganya. Bahwa ada yang tidak suka caranya, itu soal biasa dan lain perkara. Tiap kebijakan tak mungkin membuat bahagia semua orang.

Tentu diantara sekian kelebihannya, Ahok juga punya banyak kelemahan. Yang paling telak adalah ketika atribusi dirinya yang “berbeda” dari kebanyakan dianggap persoalan, atau bila faktor idiosyncratic dirinya dilihat sebagai di luar batas kenormalan, atau jika keragaman masih dilihat sebagai hal yang harus dinafikan, atau jika soal keyakinan seorang pemimpin dinilai jauh lebih penting ketimbang kompetensi, kapasitas, dan integritasnya. Di situlah (mungkin) kelemahan Ahok.

Dengan demikian, menakar dirinya jauh lebih pas dalam konteks yang lebih luas. Ia boleh jadi merepresentasi gambar besar tentang ke-Indonesia-an yang sesungguhnya, atau yang seharusnya. Bahwa kebhinnekaan meniscayakan siapapun untuk mengaktualisasikan dirinya dalam ruang dan waktu apapun. Sebaliknya, seharusnya berlaku “toleransi nol” untuk segala bentuk pikiran dan tindakan apapun yang mendaku paling benar dan dalam satu tarikan nafas mentakrifkan kebhinnekaan itu sebagai sebuah persoalan kebangsaan.

Begitulah. Maka jika kembali ke hasil survey tadi, ketika kecenderungan mayoritas warga Jakarta terlihat lebih menimbang Ahok (untuk sementara), maka itu pasti bukan karena atribusi personalnya, melainkan karena capaian kinerjanya selama ini.

Namun, adalah hukum besi dalam politik bahwa apa yang tertera di atas kertas dan tersaji di atas meja tidak selalu jadi berarti apa-apa. Bila niatnya baik, dan orangnya benar-benar baik, siapapun mestinya percaya diri untuk berlaga di pilgub nanti. Bila perlu tak usah melihat hasil survey dulu. Karena, begitu mudah untuk kalah. Walau untuk menang pun tidaklah mudah. Jadi, bagi siapapun yang mau jadi gubernur DKI mendatang, syaratnya  cuma satu, lawan dan kalahkan Ahok dulu!

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait