Senin, 26 September 22
Beranda Featured Membangun dari “Pinggiran” yang Bukan Pinggiran

Membangun dari “Pinggiran” yang Bukan Pinggiran

0

Salah satu program utama dari pemerintahan saat ini adalah membangun dari pinggiran. Pulau-pulau terluar.

Tetapi jika kembali kepada masa-masa silam sesungguhnya banyak sekali wilayah-wilayah yang disebut pinggiran sekarang pada waktu lampau adalah pusat dunia.

Peninggalan-peninggalan yang ada di wilayah itu menunjukkan budaya kosmopolit pada abad abad silam. Sebagai contoh Banda Naira.

Pulau penghasil Pala ini merupakah tempat persinggahan berbagai bangsa dari mulai abad 15. Pencarian rempah sampai ke Banda Naira membuat wilayah ini bisa menjadi contoh betapa kosmopolit-nya kehidupan persinggungan itu. Dari peninggalan-peninggalan yang terserak di Banda Naira mulai dari benteng sampai prasasti, kita bisa menelusuri antara lain kemakmuran itu. Bahkan terlihat dari kata-kata yang muncul di prasasti kubur para penguasa Belanda yang dikuburkan di Banda Naira.

Benteng Belgica, misalnya, jauh sebelum ada model gedung Pentagon Amerika, benteng yang dibangun oleh Portugis ini secara kokoh dengan ketebalan luar biasa dan diduduki Belanda pada abad ke 17. Secara lokasi benteng ini berada di atas perbukitan Tabaleku di sebelah barat daya Pulau Naira, Maluku Tengah, Maluku dan terletak pada ketinggian 30,01 meter dari permukaan laut. Kelebihan benteng ini dibangun pada tahun 1611 di bawah pimpinan Gubernur Booth ini apabila dilihat dari semua penjuru, hanya akan terlihat 4 buah sisi, tetapi kalau dilihat dari udara nampak seperti bintang persegi atau mirip dengan Gedung Pentagon di Amerika Serikat.

Alutsista yang dibangun pada masa lalu ini secara serius memperhitungkan lawan yang datang. Secara geopolitik adanya benteng ini juga menunjukkan bahwa wilayah yang saat ini jaraknya jauh dari pusat kekuasaan adalah pusat-pusat kekuasaan pada masa lalunya.

Pada masa penjajahan Belanda, Benteng Belgica beralih fungsi untuk memantau lalu lintas kapal dagang. Benteng ini kemudian diperbesar tahun 1622 oleh J.P. Coen. Kemudian, tahun 1667 diperbesar lagi oleh Komisaris Cornelis Speelman. Tahun 1911 Gubernur Jenderal Craft van Limburg Stirum memerintahkan agar benteng ini dipugar. Benteng ini menjadi markas militer Belanda hingga tahun 1860. Wilayah rempah yang sekarang kita perlakukan sebagai “pinggiran” dijaga dengan alusista yang “terkini” pada masa itu.

Selain itu mari kita lihat lagi tanda-tanda kemakmuran di wilayah “Pinggiran ini”.

Salah satu gereja tertua di Banda Naira yang dibangun pada abad 18 menunjukkan bahwa para petinggi Belanda yang mati di Banda Naira hidup dalam kebahagian dan kemakmuran luar biasa.

Gereja tua ini bernama “Hollandische Kerk” di Banda Neira, dibangun tahun 1600-an yang pada saat itu menjadi kebanggaan kota Neira. Akibat gempa bumi yang dahsyat, gereja “Hollandische Kerk” mengalami kehancuran dan sebagai gantinya pada tahun 1852 dibangunlah gereja yang ada sekarang ini. Pelayanan rohani selama kolonial Belanda pada abad ke-17 dilaksanakan dalam bahasa Belanda pada setiap minggu pagi dan dalam bahasa Melayu pada sore hari.

Lokasi gereja ini secara lanskap terdapat di dalam suatu taman yang pernah terpelihara dengan baik di abad ke-17, yaitu di sekitar benteng lain yang bernama benteng Nassau. Lantai gereja terbuat dari batu-batu Nisan granit yang berjumlah kurang lebih 22 buah yang di atasnya terpahat dengan indah nama pemuka/orang terpandang/pejabat Belanda maupun Perkenier Banda dari abad-abad sebelumnya, yang dimakamkan dibawah batu-batu granit tersebut.

Dengan pesan-pesan antara lain sebagai berikut :

Underneath is buried mister Willem Adriaan van Weely, in his life a merchant and ´secunde´ of this government, born 16 June 1694. Died 14 May 1727.

Underneath is buried the body of honorable Cornelis Stull, in his lifetime governor and director of this province Banda. Died on 6th of October 1704 at the age of 55 years, 9 months minus two days.

Perkenier sendiri semacam institusi perkebunan. Dalam hal ini perkebunan pala. Di gerbang-gerbang perkenier dalam kalimat kalimat bahasa Belanda yang buram tertulis disini kami hidup dalam kebahagiaan dan kesejahteraan.

Saya beruntung pada saat berkunjung ke Banda Naira kali kedua berangkat bersama ahli arkeologi lanskap Joella Van Donkersgoed dari Universitas Princeton, jadi saya cukup beruntung mendapatkan terjemahan dan konteks masa lalu.

Tanggal 5 April 1621 dianggap sebagai hari berdirinya Badan Perkenier. Dalam resoluitie ditetapkan bahwa di ketiga pulau di Kepulauan Banda didirikan 68 perkenier dan 1700 budak belian, jadi setiap perkenier dibantu 25 orang budak. Setelah panen setiap perkenier harus menyetorkan sekitar 4500 rijksdaalder (ringgit) setiap tahunnya. Antara tahun 1700-1750 adalah masa yang paling cemerlang karena perusahaan perkebunan ini banyak memberikan keuntungan.

Para perkenier terdiri dari warga bebas Eropa atau mantan pejabat VOC yang tidak mau meninggalkan Hindia. Mereka diwajibkan menjual hasil perkebunan pala dan fuli mereka hanya kepada Kompeni. Kompeni sangat rakus dan tamak dan sangat pelit dalam membeli hasil rempah-rempah tersebut. Misalnya saja mereka membeli untuk satu pond fuli dan biji pala di Banda seharga 7.5 ketip dan 5 sen dan mereka menjualnya di Amsterdam dengan harga f. 3.60 dan f. 2.90.

Dapat dibayangkan betapa besarnya keuntungan yang diraup oleh Kompeni dari para perkenier ini. Hal ini berlangsung selama lebih dari dua abad, yakni sampai masa Hindia-Belanda pada abad 19 dan awal abad 20. Peninggalan gerbang Perkenir di Banda Naira menjadi saksi bahwa apa yang di sebut pinggiran itu adalah pusat pusat wilayah kemakmuran dan menjadi tolok ukur dari segi budaya dan kosmopolitanisme.

Membangun dari Pinggiran yang menjadi seruan Presiden Jokowi, sebenarnya membalikkan lagi sejarah peradaban kita di mana pusat kemakmuran bangsa diambil dari wilayah geopolitik “pinggiran”.