Rabu, 25 Mei 22

Melihat Gereja Ayam, Rumah Doa Bukit Rhema Yang Eksotik di Magelang

Buat para penggemar Film Nasional, tentu Film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2) sudah bukan judul yang asing lagi. Bahkan AADC2 tersebut merupakan salah satu Film bergenre percintaan yang digandrungi kaum remaja. Salah satu pemandangan yang banyak mengundang decak kagum penontonya adalah salah sebuah bangunan dalam Film tersebut yakni Rumah Doa Bukit Rhema.

Sebenarnya Rumah Doa Bukit Rhema atau oleh penduduk setempat disebut sebagai Gereja Ayam sudah terkenal sebelum tempat itu dijadikan syuting Film AADC2. Tempat ini juga menjadi salah satu list wisata di Kabupaten Magelang. Ketenaran dari bangunan ini selain dari keunikan bentuk fisiknya,juga ditopang oleh panorama keindahan perbukitan yang indah tempat bangunan itu berdiri.

Adalah Daniel Alamsyah, lelaki asal Jakarta yang memprakarsai pembangunan Rumah Doa tersebut. Sekitar tahun 1994, Daniel ingin membangun tempat berdoa ditengah nuansa Alam. Dan setelah melihat perbukitan di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Magelang, Jawa Tengah, ia merasa sangat cocok dengan tempat tersebut. Dengan dana Rp. 2.000.000 ia membeli lahan seluas 2,5 hektar diatas Bukit Rhema dan mulailah ia membangun Rumah Doa yang diimpikanya.

Rumah Doa Bukit Rhema atau oleh penduduk setempat disebut sebagai Gereja Ayam
Rumah Doa Bukit Rhema atau oleh penduduk setempat disebut sebagai Gereja Ayam

Daniel juga selalu meluruskan persepsi masyarakat yang menganggap bahwa Bangunan itu sebagai Gereja Berbentuk Ayam. Padahal menurut Daniel, pada mulanya ia membangun bangunan itu sebagai miniatur Merpati. Tapi karena anggapan masyarakat yang sudah menyebut Rumah Doa itu sebagai Gereja Ayam, Daniel pun hanya memgaminkan.

Dan tentang bangunan tersebut,walau masyarakat lebih akrab menyebutnya sebagai Gereja, namun sebenarnya tempat tersebut adalah rumah doa buat semua agama. Tempat ini juga pernah digunakan sebagai pusat rehabilitasi para pecandu narkoba.

Pada tahun 2000, karena kekurangan dana, pembuatan bangunan ini resmi ia hentikan sehingga pembangunan baru selesai sekitar 60%. Akibatnya sebagian dinding nampak yang belum diplaster sehingga meninggalkan kesan tua dan angker. Namun siapa sangka, dari bangunan yang nampak tak terawat itu menimbulkan kesan artistik yang menawan sehingga banyak wisatawan tak hanya dari sekitar Magelang tapi juga dari mancanegara yang sengaja datang untuk mengunjungi tempat ini.

sebagian dinding Rumah Doa Bukit Rhema nampak yang belum diplaster, meninggalkan kesan tua dan angker namun indah
sebagian dinding Rumah Doa Bukit Rhema nampak yang belum diplaster, meninggalkan kesan tua dan angker namun indah

Walaupun secara fisik bangunan ini terlihat hanya memiliki 4 lantai namun sebenarnya bangunan ini terdiri dari 7 lantai dan menurut Supervisor rumah doa Borobudur, Edward Nugroho setiap lantainya memiliki makna dan filosofi tersendiri. Lantai pertama menurut Edward menggambarkan kelahiran manusia sejak dimulai dari bayi yang polos, kemudian belajar tumbuh menjadi seorang anak.

Lantai kedua adalah filosofi dari perjalanan manusia yang sudah beranjak dewasa. Adapun untuk lantai tiga, difokuskan kepada hal negatif yang berkaitan dengan penggunaan obat-obatan terlarang/narkoba. Di sekeliling dinding lantai tiga, terdapat beragam lukisan yang menggambarkan hal itu.

Kemudian di lantai empat, menggambarkan keragaman budaya di Indonesia. Serupa dengan lantai tiga, di setiap inci dinding terdapat lukisan, hasil karya para seniman sekitar Borobudur dan rehabilitan narkoba yang sempat dirawat di rumah doa.

Sedangkan di lantai enam, persis di posisi mulut burung merpati, merupakan filosofi sebuah pengharapan hidup yang baru dan lebih baik. Hal itu ditunjukkan dengan posisi desain bangun berupa mulut merpati yang menghadap ke arah Timur dan lantai ketujuh tepatnya di mahkota burung merpati, adalah wujud dari rasa syukur atas keindahan, kebahagiaan, dan lainnya.

Rumah doa Bukit Rhema pernah menjadi tempat Rehabilitasi Narkoba
Rumah doa Bukit Rhema pernah menjadi tempat Rehabilitasi Narkoba

Namun terlepas dari filosofi tersebut,disetiap lantainya kita dapat menikmati suasana artistik yang sangat kental dan apabila kita sampai di lantai ketujuh atau diatas mahkota burung tersebut,kita akan menyaksikan hamparan keindahan perbukitan Meoreh yang luar biasa eksotik. Sehingga tak jarang di lantai ini sering dijadikan tempat foto preweding atau tempat para wisatawan untuk berselfie.

Untuk mencapai Rumah Doa atau bangunan Gereja Ayam ini juga tergolong mudah. Dari Kota Magelang,kita mengambil jalur ke Puthuk Setumbu dan dalam perjalanan ke Puthuk Setumbu, kita akan temui banyak petunjuk jalan. Sebenarnya ada banyak jalan setapak menuju Gereja Ayam tersebut,namun jika kita menggunakan kendaraan roda empat, alangkah lebih baik kita menggunakan rute jalan yang sudah di beton hingga sampai ke parkiran Gereja Ayam.

Setelah sampai di pelataran Gereja Ayam, kita tak perlu takut akan lapar dan haus karena saat ini sudah banyak makanan maupun minuman yang dijajakan oleh warga setempat. Untuk memasuki Rumah Doa-Gereja Ayam, kita harus membayar restribusi Rp.10.000. Namun harga tersebut terbilang sangat murah dibanding dengan kepuasan saat kita menikmati keindahan panorama alam yang disuguhkan oleh tempat tersebut.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait