Rabu, 25 Mei 22

Melawan Teror dengan Humor

Teror Bom Sarinah

Tri Agus S. Siswowiharjo
Tri Agus S. Siswowiharjo

Jakarta diteror. Beberapa bom meledak di kawasan Sarinah di jalan MH Thamrin, bahkan terjadi baku tembak dengan polisi. Tujuh orang tewas, lima orang dari terduga teroris, satu WNI dan satu warga Kanada. Polisi berhasil menguasai keadaan dalam waktu singkat. Presiden Joko Widodo menyatakan negara dan bangsa ini jangan sampai kalah dengan teroris dan masyarakat tak perlu takut.

Banyak cara dilakukan negara, masyarakat sipil dan individu untuk memerangi terorisme, termasuk menerapkan undang undang secara represif dan menjatuhkan hukuman maksimal, mati. Selain itu, ada cara lain untuk mendesakralisasi jihad ala bunuh diri, yaitu  melawan teror (isme), dengan humor.

Sepanjang hari ini, saat Jakarta diserang teror, pada saat yang sama masyarakat ramai mencemooh teroris dengan membuat lelucon dan disebar di media sosial. Simak misalnya, seorang warga memposting foto di Path, seorang pedagang sate  sedang asyik membakar sate tak jauh dari lokasi bom meledak dan tembak menembak teroris dan polisi. Sebuah akun mengomentari, “Pedagang sate ini tak takut sama teroris, takutnya sama Satpol PP”.

Ada juga yang menguploade gambar saat beberapa polisi berada di balik mobil saat baku tembak dengan teroris, di belakang mereka ada kerumunan warga santai melihat kejadian menegangkan itu seolah melihat pengambilan gambar sebuah film.

Ada yang menulis status Facebook begini. “Himbauan: Agar menghindari tempat makan dan minum American branded…disarankan mendekat ke lapo terdekat. Tertanda: Lapo tondongta”. Atau versi lain dari Rumah Makan Sederhana.

Ada juga yang menulis di twitter: Pelaku teror kemarin ternyata kupingnya budeg. Instruksinya disuruh ke Suriah malah ke Sarinah. Akun lain menulis, teroris dan koruptor itu mempunyai persamaan. Mereka suka menggunakan kata sandi untuk melancarkan aksinya. Koruptor menggunakan istilah apel Malang atau apel Washington. Teoris memakai istilah pengantin atau konser.

Menurut KH Abdurrahman Wahid, lelucon merupakan wahana ekspresi politis yang menyatukan bahasa rakyat dan mampu mengidentifikasikan masalah-masalah yang dikeluhkan dan diresahkan. Selain itu, lelucon juga memiliki kemampuan menggalang “musuh bersama”. Karena itu, fungsi perlawanan kulturalnya menunjuk kepada kesadaran yang tinggi untuk menyatakan apa yang benar sebagai kewajiban tak terelakkan.

Gus Dur pernah membuat pernyataan mengenai jihad. Saat sekelompok orang dari luar Ambon dengan dalih jihad ingin masuk Ambon, Gus Dur mengatakan: “Mau jihad kek mau jahit kek, pokoknya orang yang masuk Ambon membawa senjata harus ditangkap!” Dalam sejarah republik Indonesia, orang yang berani menyatakan sekaligus memlesetkan jihad dengan jahit hanya kyai presiden Gus Dur. Bagi Gus Dur tak ada yang sakral. Semua bisa dihumorkan.

Melawan terorisme tak cukup hanya mengandalkan senjata ayat. Ulama perlu mempunyai senjata tambahan bernama humor. Ya, mari kita melawan teror dengan humor. Mari kita mentertawakan para teroris yang nuraninya segaris.

Salah satu sebab teroris tetap eksis karena sebagian masyarakat kita menganggap teroris sebagai pahlawan. Sebagian masyarakat bangga memakai kaos bergambar Osama bin Laden, Imam Samudra atau bendera ISIS. Tanpa disadari masyarakat (dan media) mendukung terorisme atau setidaknya simpati dengan mereka. Saat eksekusi trio bomber bom Bali 1, Amrozi cs, media begitu antusias meliput peristiwa itu, sehingga banyak yang terpeleset mempahlawankan para teroris itu, sembari melupakan para korban pemboman.

Menurut Buya Syafi’i Ma’arif mantan Ketua PP Muhammadiyah para teroris yang meledakkan diri adalah orang-orang yang berani mati tetapi takut hidup. Lebih lucu lagi, Amrozi cs yang membunuh ratusan orang, minta dieksekusi secara manusiawi, dan terus-menerus minta PK (Peninjauan Kembali)!

Betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga? Tak satupun bisa membuktikan. Tentu saja karena ulama maupun teroris belum pernah ke surga. Namun yang jelas mereka bukan mati syahid tetapi mati sakit. Dan, kalaupun mereka masuk surga, mereka akan menyesal bertemu bidadari, karena kepalanya masih tertinggal di dunia dan ditahan oleh polisi. Lebih celaka lagi, saat berkencan dengan para bidadari setiap sepuluh menit sekali badan mereka terkoyak karena bom. Lelucon seperti ini beredar di masyarakat menjelang eksekusi Amrozi cs.

Mari kita segarkan kembali ingatan pada bom Bali 1 (2002) yang sekejap mengubah Bali dari pulau turis menjadi teroris. Dalam perjalanan menuju Jawa Timur, Gus Dur bertemu Wiranto dalam satu pesawat. Gus Dur bertanya, ”bisnis apakah yang menguntungkan saat ini?” Pertanyaan itu serius, namun, Ketua Umum Partai Hanura ini malah menjawabnya dengan kelakar. ”Yang lagi ramai, ya.. bisnis mercon dengan merek Amrozi,” ujar Wiranto.

Masih soal teroris murah senyum itu, rupanya sebelum menjadi teroris Amrozi memiliki bank bersama tokoh pengacara nasional Adnan Buyung Nasution. Nama bank itu, ABN-Amrozi! Saat Amrozi di Bali sang istri sebenarnya berpesan ”ngebon kutang” alias utang membeli BH. Humor tentang teroris yang menjurus berbau porno juga banyak beredar. Setelah kejadian bom di hotel JW Marriot beredar isu bahwa yang meledakkan adalah pria yang gagal berobat memanjangkan penisnya. Pria itu menyangka JW Marriot adalah hotel milik Mak Erot! Usai penangkapan dan tewasnya dalang teroris Azahari beredar melalui SMS (surat menyurat singkat) di telpon seluler seperti ini: “Awas masih ada keluarga Azahari yaitu Ayu, Sarah dan Rahma, yang kemana-mana membawa ‘bom’”.

Kata orang bijak, seseorang bisa disebut waras, lebih pintar dan lebih maju jika sudah bisa menertawakan (dalam arti menganggap sebagai kebodohan, kekonyolan) sikap dan perbuatannya masa lalu. Terorisme, teroris, teror belum kita tertawakan, masih banyak masyarakat menganggap mereka pahlawan. Karena itu, mulai sekarang mari kita mentertawakan terorisme.

Karena terorisme adalah kebodohan dan kekonyolan, tak cukup hanya dengan pendekatan hukum, sosiologi, psikologi, ekonomi dan agama. Masyarakat harus mulai menertawakan teroris dan simpatisannya karena mereka adalah musuh bersama. Para pelaku bom bunuh diri bukan mati syahid tapi sakit! Mereka berani mati tapi takut hidup. Tindakan mereka bukan jihad tapi jahat. Berkunjung ke Bali bukan jadi turis tapi teroris. Mengaku anti-asing, nyatanya berperilaku ala Timur Tengah dan seterusnya. Mari kita melawan teror (is/me) dengan humor!

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait