Kamis, 28 September 23

Megawati Soekarnoputri: Uang Bukan Syarat Utama Mendapatkan Dukungan PDI Perjuangan

Dalam sambutannya di acara pembukaan Sekolah Partai di Wisma Kinasih, Depok, Selasa (6/9), yang dihelat bagi calon kepala daerah yang diusung oleh PDI Perjuangan pada Pilkada serentak 2017, Megawati Soekarnoputri meminta agar calon yang diusung partainya hanya memiliki satu visi dan misi dan satu cara untuk mewujudkannya.

“Visi dan Misi kita hanya satu yaitu Pancasila dan UUD 45. Dan cara mewujudkannya juga satu, yaitu Trisakti. Jika ada yang tidak setuju, sekarang boleh mundur, karena saya tidak akan mengusungnya,” tegas Megawati.

Megawati menyampaikan pula, bahwa saat PDI Perjuangan mengusung calonnya, maka seluruh elemen partainya akan kerja keras untuk memenangkannya. Tetapi sebaliknya calon yang diusung tidak boleh hanya mengandalkan partai. Dan untuk mencapai kemenangan, tergantung pula pada usaha dari calon yang diusungnya.

Menanggapi adanya uang mahar untuk mendapatkan dukungan PDI Perjuangan, Megawati menegaskan bahwa hal itu tidak ada dalam kebijakan partai. Bahkan partai akan memecat pengurusnya yang meminta uang atau mahar kepada calon yang akan diusung.

“Saya dari dulu tidak pernah menanamkan paham politik uang kepada kader di bawah. Karena itu bukan cara yang benar untuk memperoleh kemenangan. Apakah saya pernah minta uang kepada saudara-saudara?… Jika ada pengurus partai yang meminta uang, laporkan saja ke saya, maka kalau terbukti akan saya pecat,” tandas Megawati.

Megawati juga menjelaskan bahwa uang memang dibutuhkan, tetapi uang itu digunakan membiayai proses pemilihan termasuk biaya saksi yang akan mengawasi proses pencoblosan dan perhitungan suara.

“Uang bukan syarat utama untuk mendapatkan dukungan dari PDIP. Uang digunakan untuk membiayai saksi-saksi yang mengawasi tempat pemungutan suara. Jadi kalau ada yang menganggap ada mahar-maharan seperti yang pernah pak Ahok sampaikan, itu pernyataan menyakitkan…dibuka semua dong bagaimana pada saat itu ada 16 ribu saksi dibayarin partai. Setengah mati lho…,” kesalnya.

Dalam Sekolah Partai yang diselenggarakan tersebut tampak juga Wakil Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat sebagai peserta sekolah politik dan Risma sebagai pembicara.

Saat disinggung mengenai kehadiran Djarot, apakah datang mewakili Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang kabarnya jadi calon yang akan diusung PDI Perjuangan, Eva Sundari selaku Sekretaris Sekolah Partai menyatakan bahwa Djarot memang diundang sebagai peserta, bukan mewakili orang lain.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait