Kamis, 16 September 21

Megawati dan Status Kelawai

Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin menulis ini, sejak 2004. Tapi waktu itu saya khawatir kalau pikiran-pikiran saya dianggap politis. Sekarang setelah Megawati bukan pejabat pemerintah dan bukan pula sebagai calon presiden/wakil presiden tentu hal itu akan menjadikan tulisan ini menjadi netral dan hendaknya dilihat dari kaca mata sosiologis-antropologis.

Mayoritas suku di Bengkulu misal, Serawai, Kaur, Lembak dan Pekal memiliki kesamaan dalam hal penyebutan kelawai, hanya suku Rejang yang sedikit berbeda dalam pengucapannya. Suku Rejang menyebutnya Kelawei.

Salah-satu penyebab terjadinya perang antara Bengkulu dengan Aceh abad XV adalah karena seorang gadis Bengkulu yang bernama Putri Gading Cempaka diminta secara paksa oleh pasukan Aceh untuk menjadi selir raja mereka.

Sikap pasukan Aceh ini ini dipandang sebagai penghinaan pada martabat dan kehormatan Putri Gading Cempaka dan lelaki Bengkulu.

Demikian pula cerita Putri Serindang Bulan dari Lebong, dia diselamatkan oleh Ki Karang Nio (saudara kandungnya) dari rencana pembunuhan karena Ki Karang Nio sangat menyayangi Kelawainya yaitu Putri Serindang Bulan itu.

Sebutan Kelawai akan membawa konsekuensi serius. Sebab si Lelaki akan mempertaruhkan apapun guna melindungi kehormatan Kelawainya.

Ketika seorang perempuan dilecehkan kehormatannya, maka masyarakat umum akan melontarkan ejekan sinis: apa di keluarga itu tidak ada yang lanang (laki-laki/jantan)?

Sebaliknya, seorang Kelawai juga harus mampu menjaga kehormatannya, harus mampu menjaga diri, ketika seorang Kelawai terjerumus pada perilaku buruk maka hal itu akan sangat ‘menampar muka’ saudara lelakinya.

Tanggung-jawab perwalian saat akan menikah bagi seorang Kelawai akan beralih kepada saudara kandung yang laki-laki jika bapak mereka meninggal.

Seiring waktu sebutan Kelawai bukan hanya untuk saudara perempuan kandung tapi juga termasuk sepupu perempuan.

Bahkan lama-kelamaan, makna Kelawai diperluas mencakup asal daerah.

Sebagai contoh seorang lelaki asal suku Pekal Bengkulu Utara ketika bertemu gadis Pekal di Kota Bengkulu walaupun mereka tidak ada hubungan darah maka si perempuan akan dianggap sebagai Kelawainya dari suku Pekal.

Oya kembali ke judul tulisan ini, tentu jika kita kaitkan dengan status Megawati sebagai anak kandung Fatmawati Putri Bengkulu yang namanya diabadikan sebagai nama bandara di Bengkulu, menjadi nama Universitas Islam di Bengkulu serta
patungnya yang sedang menjahit sang saka merah putih dibangun dijantung kota Bengkulu maka terang bahwa Megawati adalah Kelawai bagi lelaki Bengkulu maka tentu wajib di hormati dan dijaga martabatnya. Sekali lagi mohon ini dilihat dari perspektif adat- budaya.

‘Ngacuk Kelawai’ adalah umpatan bagi seorang lelaki yang dianggap melakukan kesalahan besar.

‘Ngacuk Kelawai’ bermakna merusak kehormatan saudara perempuan. Memang arti umpatan itu sangat kasar dan menjijikkan.

Tapi pesan dibalik umpatan itu adalah bahwa seorang lelaki wajib menjaga kehormatan saudara perempuannya bahkan lebih jauh lagi, dia wajib menjaga martabat dan kehormatan perempuan manapun.

Saya pribadi tidak mau menambah panjang daftar ‘Lelaki Ngacuk Kelawai’ di Bengkulu.

 

 

Penulis: Agustam Rachman pengamat sosial

Berita Terbaru
Berita Terkait