Rabu, 7 Desember 22

Mayjen Kunyuk dan Tujuh Kekonyolannya

Jika kita bisa menerawang apa yang sedang dilakukan Gus Dur di alam sana, mungkin presiden keempat Republik Indonesia itu sedang tertawa terbahak-bahak. Beliau terbahak-bahak menyaksikan kekonyolan negeri ini, terutama karena sepak terjang Mayjen K. Gus Dur pernah mempopulerkan Meyjen K. Gus Dur saat menjadi orang pertama di Istana pernah membuat Kivlan Zen yang saat itu berpangkat mayor jenderal menjadi perbincangan publik.

Bagi yang belum paham kisah tentang Mayjen Kunyuk, silakan cermati tulisan di bawah ini: Mayjen Kunyuk.

Pada pekan-pekan pertama kerusuhan meledak di Maluku (akhir 1999), Gus Dur menyatakan bahwa provokator kerusuhan itu adalah seorang petinggi tentara, bernama “Mayjen K”. Siapa pula orang ini? Seperti biasa Gus Dur tak menjelaskannya. Tapi Mayjen Kivlan Zen merasa terserempet, lalu segera menemui Gus Dur di rumahnya untuk minta penjelasan.

Setelah berbicara beberapa waktu, keduanya keluar dan menyampaikan keterangan kepada pers. Menurut Gus Dur, yang dia maksud “Mayjen K” itu bukanlah Kivlan Zen. Dan dia minta masalah tak usah diperpanjang lagi.

Tapi orang masih penasaran. Kalau begitu siapa yang dimaksud dengan “Mayjen K”?

Sambil terkekeh, Gus Dur menjawab: “Mayjen K itu maksudnya Mayjen Kunyuk (monyet). Habis apa namanya kalau kerjanya jadi dalang kerusuhan.

Kivlan Zen, kawan Letjen Prabowo, saat itu, merasa dituduh sebagai provokator kerusuhan di Ambon, Maluku.  Namun, banyak orang justru bertanya mengapa Kivlan merasa tersinggung atas tuduhan itu. Tuduhan Gus Dur pada seseorang tentu bukannya tanpa dasar, dan seringkali dinyatakan dalam inisial. Bahwa, Kivlan merasa tertuduh, sebenarnya itulah tujuan Gus Dur. Mengomentari pernyataan Gus Dur yang suka menyebut inisial seseorang, Kivlan menyebutnya sebagai ‘teroris kata-kata’. ”Dia  itu teroris kata-kata. Apa yang dia ucapkan selalu menimbulkan suasana tuduh-menuduh dan memanaskan situasi. Coba saja ini yang ke berapa kali? Dulu dia bilang ada ES, ada AS. Sebagai pimpinan umat, omongannya tak bisa dipegang,” katanya dengan  nada tinggi.

Kini,  marilah kita menikmati kekonyolan dan kelucuan yang lagi-lagi dilakukan oleh Mayjen K yang tentu telah punawirawan. Kivlan mengajak debat tentang komunisme dengan Goenawan Mohamad, wartawan senior Tempo. Tentu saja ajakan ini ditolak oleh Mas Gun, ga levellah.  Buat apa meladeni orang yang yang tak pernah membaca apalagi menulis buku. Pemimpin redaksi majalah Historia (Kivlan menyebut Historikah), sejarawan cum wartawan, Bonnie Triyana, juga menanggapi dengan enteng ketika majalahnya dituduh Kivlan sebagai penyebar komunisme.

Jika ada lomba stand up comedy antar purnawirawan, boleh jadi Kivlan Zein menjadi juaranya. Dia akan sering mendapat ‘kompor gas’, begitu istilah sangat lucu dari Indro Warkop di acara SUCI  (Stand Up Comedi Indonesia) Kompas TV. Berikut tujuh kekonyolan dan kelucuan ala Mayjen K. Mengapa musti tujuh kekonyolan Mayjen Kunyuk kok tidak lima atau sepuluh? Bakankan ini mengingatkan istilah Tujuh Setan Desa yang dipopulerkan PKI?

Kekonyolan pertama. Kivlan Zen menuduh Tempo dan Metro TV sebagai corong komunis. Tuduhan itu tak main-main karena menyangkut lembaga media massa yang sudah jelas aturannya. Mari sedikit kita buka kelucuan pernyataan Kivlan Zen. Tempo itu dedengkotnya Goenawan Mohamad, tokoh Manikebu (manifesto kebudayaan) yang dahulu musuh bebuyutan Lekra/PKI. Mungkinkah tokoh Manikebu membuat majalah sebagai corong PKI? Kemudian, soal tuduhan kepada Metro TV. Televisi berita pertama di Indonesia  itu milik Surya Paloh. Ia adalah tokoh Golkar dan teman dekat Bambang Trihatmojo sehingga tak heran sempat punya hubungan bisnis dengan keluarga Cendana. Metro TV corong PKI adalah sebuah lelucon yang kurang lucu.

Kekonyolan kedua. Kivlan Zen menuduh Universitas Islam Negeri (UIN) sebagai sarang komunis. Kita tentu semua mengetahui, UIN itu jelas-jelas perguruan tinggi negeri di bawah Kementerian Agama RI kok dituduh komunis dari mana ujung pangkalnya. Bisa jadi Kivlan Zen hanya mendengar guyonan mahasiswa tahun 1980an tentang UIN yang dulu IAIN. Era aktivis mahasiswa Imam Azis, kini KH. Imam Azis, Ketua PB NU dan Ahmad Suaedy  kini anggota Ombudsman RI ada guyonan seperti ini. Aktivis mahasiswa IAIN itu seperti buah semangka. Luarnya hijau dalamnya merah.

Kekonyolan ketiga. Kivlan Zen menuduh Budiman Sujatmiko membangkitkan PKI. Kivlan menyebut Budiman pro-PKI karena selama ini dikenal gigih memperjuangkan hak petani dalam RUU Desa. Ini benar-benar tuduhan konyol. Hebat sekali Budiman bisa membangkitkan PKI. Apa istimewanya mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) sehingga bisa membangkitkan PKI. Budiman menghidupkan partainya sendiri, PRD, saja gagal, bagaimana bisa menghidupkan PKI yang telah lama dilarang? Karena itu, Budiman tak mau menanggapi serius pernyataan Kivlan.  “Ya, pikiran-pikiran kunolah itu, enggak layak saya tanggapi. Saya santai saja,” ucapnya. Menurut Budiman kegigihannya memperjuangkan RUU Desa karena tugasnya sebagai anggota Komisi II Bidang Pemerintahan Dalam Negeri. Hanya kalimat pendek dari anggota DPR RI asal PDI Perjuangan ini, “Kasihan Kivlan Zen…”

Kekonyolan keempat. Kivlan Zen menuding PKI gaya baru bangkit melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Nah ini tuduhan serius ngawurnya. UU Desa itu produk pemerintah dan parlemen. Dirintis sejak lama dan baru disetujui pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kelompok Kerja (Pokja) Masyarakat Sipil Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi memprotes pernyataan Kivlan Zen. Menurut Pokja tersebut, “Tudingan UU Desa menjadi pintu masuk bangkitnya paham komunisme, sangat berlebihan dan tak berdasar.” Justru keberadaan UU Desa merupakan cerminan semangat Pancasila dan UU 1945 dalam upaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hampir dua tahun dana desa sangat membantu pembangunan infrastruktur, pertanian, pendidikan, kesehatan, dan lahirnya Badan Usaha Milik Desa.

Menurut Wawan, ucapan Kivlan yang disampaikan dalam Festival Jalan Lurus di Jakarta (23/5/16). Kivlan mengatakan saat ini PKI gaya baru lahir melalui UU Desa dan berbagai serikat tani. Kivlan beranggapan, UU Desa dan serikat tani justru akan membuat mereka sejahtera. Desa pun punya kekuatan. Hal ini akan memicu penolakan. Kivlan mungkin lupa saat kampanye pemilihan presiden 2014, Prabowo juga menjanjikan Rp 1 milyar per desa per tahun untuk kesejahteraan desa. Apakah Prabowo juga pendukung komunis? Apakah Prabowo PKI gaya baru?

Kekonyolan kelima. Kivlan Zen percaya pada Tahun 2017 PKI akan memproklamirkan Republik China Indonesia. Inilah pernyataan purnawirawan jendral yang kurang piknik dan tak pernah membaca buku. Saat dunia sudah berubah, Obama makin mesra dengan Kuba dan Vietnam. Ketika komunisme di Rusia dan China kian bertransformasi ke kapitalisme, apalagi yang ditakutkan dari “hantu” komunisme atau PKI? Dan  ketika Indonesia kebanjiran investasi dari China dan Rusia, serta kita membeli persejataan dari bekas negara komunis, alasan akal sehat mana yang masih menganggap komunisme sebagai ancaman?

Kekonyolan keenam. Kivlan Zen menuduh para pendukung PKI ada di pemerintahan. Memang PKI sudah bubar, kadernya pun sudah tidak ada, bukan berarti simpatisannya sudah tidak ada. Menurut Kivlan, saat ini ada sekelompok orang yang mengusung paham komunis, dan secara klandestin (diam-diam) berusaha membangkitkan gerakan komunisme Indonesia. Sungguh ini pernyataan yang melecehkan pemerintah yang dituding aparatnya sebagian pendukung PKI. Pemerintahan yang dimaksud mana? Kementerian apa? Siapa namanya? Sayang ini hanya “teroris kata-kata” meminjam istilah Kivlan Zen untuk Gus Dur. Namun karena ini hanya tuduhan tanpa bukti dan dituduhkan oleh seorang purnawirawan bernama Kivlan Zen, maka semua jadi maklum. “Biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu”.

Kekonyolan ketujuh. Kivlan Zen meyakini PKI memang bangkit! Kivlan menyebut sejumlah peristiwa perebutan atau pengambilalihan lahan oleh kelompok terorganisasi, misalnya, di Garut (Jawa Barat) dan Batang (Jawa Tengah). Peristiwa itu dianggap bagian dari program dan propaganda gerakan komunisme, seperti yang terjadi di masa sebelum tahun 1965.“PKI memang bangkit, kok. Betul-betul hantunya (komunisme) datang. Sudah merebut tanah-tanah di Garut, Batang. Salah satu buktinya lewat maraknya simbol-simbol komunisme yang dipakai anak-anak muda. Kivlan mungkin belum pernah ke Rusia, Jerman dan China, di sana simbol-simbol komunisme telah dijadikan souvenir dalam topi, kaos dan gantungan kunci. Semua orang bisa membeli barang barang itu. Simbol-simbol komunisme telah dikapitalisasi dan dikonsumsi oleh para wisatawan yang umumnya dari negara kapitalis. Kivlan juga memprotes pernyataan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Luhut Pandjaitan, yang menilai pemakaian kaos berlambang palu-arit hanya sebatas tren anak muda. “Polisi tegas, menteri pertahanan juga tegas. Tapi Jokowi dan Luhut bilang jangan berlebihan, malah dibilang baju trendi. Justru itu awal dari kebangkitan PKI,” ujar Kivlan.  “Kita masih negara berkembang dan masih ada kecurigaan paham komunis akan bangkit lagi,” ujar dia.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait