Rabu, 25 Mei 22

Mati Ketawa Cara Amerika

Amerika Serikat mempunyai presiden baru, Donald Trump. Dunia terkejut atas terpilihnya pengusaha properti tersebut yang mampu mengalahkan Hillary Clinton. Trump adalah tokoh penuh kontroversi, dari pernyataan yang rasis, anti Islam, anti Hispanik, hingga anti LGBT. Terpilihnya Trump sesungguhnya mencerminkan Amerika yang sedang berubah. Kini, sambil menunggu pelantikan awal 2017, mari kita menikmati lelucon sekitar pemilihan presiden di negara adidaya tersebut.

Di Amerika Serikat ada tradisi setelah berakhir musim kampanye pemilihan presiden selalu diadakan makan malam bersama yang diadakan oleh sebuah lembaga gereja Katholik. Hillary Clinton dan Donald Trump duduk di deretan yang sama, tapi dipisahkan oleh Kardinal New York Timothy Dolan. Dalam acara makan malam itu, setiap kandidat diberi waktu untuk berbicara di podium, dan biasanya saling melontarkan lelucon.

Trump mendapat giliran pertama, dia menyindir jumlah pendukung yang hadir dalam kampanye Hillary, disebutnya jauh lebih sedikit dari para tamu yang hadir dalam jamuan amal ini. “Sungguh senang bisa berada di sini bersama 1.000 orang luar biasa. Atau harus saya sebut, makan malam kecil dan intim bersama beberapa teman. Atau seperti disebut Hillary, kerumunan massa terbesarnya sepanjang musim,” ucap Trump yang disambut tawa hadirin termasuk Hillary.

Trump juga menyinggung soal skandal email Hillary dan skandal bocoran Wikileaks. “Saya sebenarnya tidak yakin apakah Hillary akan hadir malam ini karena, saya kira, Anda tidak mengirimkan undangan lewat email,” katanya yang disambut olokan hadirin. Trump melanjutkan leluconnya, “Itu oke, saya tidak tahu mereka marah pada siapa, Hillary, Anda, atau saya. Contohnya, dia ada di sini malam ini, di depan publik, berpura-pura tidak membenci warga Katholik.” Trump merujuk pada bocoran WikiLeaks yang salah satunya menyebut juru bicara Hillary bercanda soal Katholik dan golongan relijius Kristen di AS.

Hillary yang berbicara setelahnya, melontarkan lelucon yang merujuk pada komentar Trump soal penampilan wanita dalam wawancara radio tahun 2002. Saat itu, Trump menyebut wanita tidak lagi menarik setelah menginjak usia 35 tahun. “Donald melihat ke Patung Liberty dan melihat angka empat, mungkin lima, jika dia melepaskan obor dan buku dan mengubah gaya rambutnya. Coba dipikirkan, Anda tahu angka yang bagus untuk seorang wanita? 45,” sebut Hillary, merujuk pada Presiden AS selanjutnya yang akan menjadi Presiden ke-45.

Mengapa orang penuh kontroversi bisa terpilih menjadi presiden di negara yang mengaku paling demokrasi? Ada analisa, hal itu terjadi karena suksesnya organisasi koalisi Faith and Freedom yang kampanye jangan pilih Hillary karena sangat liberal. Trump vs Hillary digambarkan antara gila vs setan, maka orang Amerika lebih memilih orang gila. Di dunia maya kekalahan Hillary selain membuat orang sedih juga ada yang membuat lelucon untuk menghibur diri. Simak salah satu lelucon tentang Hillary.

Cita-cita Hillary untuk menutup Oval Office (oval room) di Gedung Putih, karena baper ingat ruang itu saat Bill jadi presiden, tak kesampaian. Kabarnya malah ibu negara baru – yang model itu – akan mengusulkan ke Donald Trump ganti nama Oval dengan nama lain: huruf V diganti R.

Kegagalan Hillary juga menimbulkan keraguan masa depan Amerika dan dunia. Hal ini tak seperti delapan tahun lalu ketika Barack Obama terpilih menjadi presiden. Seorang netizen menulis: Delapan tahun lalu Amerika Serikat punya presiden kulit hitam pertama. Tahun ini mungkin negeri itu akan punya presiden perempuan pertama. Tapi jika meleset, Amerika akan punya presiden orang gila pertama.

Masih soal kekalahan Hillary, ternyata ada yang menulis di media sosial lelucon terkait dengan julukan Amerika selama ini: Uncle Sam. Kenapa Hillary kalah ternyata:

Rakyat Amerika tidak siap dipimpin Presiden Perempuan? Karena tidak suka sebutan Amerika selama ini “Paman Sam” berubah jadi “Tante Sam”.

Gaung kemenangan Trump juga sampai di Indonesia. Media sosial di Indonesia tiba-tiba disesaki dengan foto-foto Trump dengan Fadli Zon atau Trump dengan Setya Novanto. Namun ada juga yang menulis lelucon dialog antara Fadli Zon dengan Trump.

Fadli Zon: “Selamat, Anda terpilih sebagai presiden Amerika Serikat”.
Donald Trump: “Saya juga berterima kasih, Anda ikut Demo 4 November. Tampaknya demo itu membuat sebagian orang Amerika memilih saya”.
Fadli Zon: “Really???”

Apa yang terjadi di Amerika Serikat bisa juga terjadi di Indonesia. Trump yang kontroversial bisa terpilih sebagai presiden di negeri biang demokrasi tersebut. Karena itu, tak ada salahnya seorang pemilik akun Facebook menulis: Jika Donald Trump bisa menjadi presiden Amerika Serikat (2016), Habib Riziq bisa menjadi presiden Indonesia (2019). Itulah demokrasi.

Benarkan menjadi presiden Amerika itu sangat berkuasa? Mari kita simak humor hari pertama Trump di Gedung Putih di bawah ini.

Briefing hari pertama Trump di Gedung Putih oleh CIA, Pentagon, dan FBI.

Trump: “Kita harus hancurkan ISIS segera. Jangan ditunda.”
CIA: “Kita tak bisa melakukan itu pak presiden. Kita yang menciptakan mereka bersama Turki, Saudi, Qatar dan lainnya.”
Trump: “Demokrat yang menciptakan mereka.”
CIA: “Kita yang membuat ISIS pak. Anda membutuhkan mereka, anda akan kehilangan funding dari lobi minyak.”
Trump: “Stop funding Pakistan. Biarkan India bersepakat dengan mereka.”
CIA: “Kita tak bisa melakukan itu.”
Trump: “Kenapa?”
CIA: “India akan memotong Balochistan dari Pakistan.”
Trump: “Saya tak peduli.”
CIA: “India akan damai di Kashmir. Mereka akan berhenti membeli senjata kita. Mereka akan menjadi superpower. Kita harus tetap mendanai Pakistan agar India sibuk di Kashmir.”
Trump: “Tapi kalian bisa menghancurkan Taliban.”
CIA: “Pak, kita tak bisa melakukan itu. Kita yang membuat Taliban untuk melawan Rusia pada 80an. Sekarang mereka membuat Pakistan sibuk dan mengesampingkan nuklir.”
Trump: “Kita harus hancurkan teroris yang disponsori Timur Tengah. Mari kita mulai dari Saudi.”
Pentagon: “Pak, kita tak bisa melakukan itu. Kita yang menciptakan rezim-rezim itu karena kita butuh minyak mereka. Kita tak butuh demokrasi di sana, jika tidak, rakyat akan mendapat minyak dan kita membiarkan rakyat memilikinya.”
Trump: “Lalu kita invasi Iran.”
Pentagon: “Kita juga tak bisa melakukan itu pak.”
Trump: “Kenapa tidak?”
CIA: “Kita sedang berunding dengan mereka pak.”
Trump: “Apa? Kenapa?”
CIA: “Kita ingin Stealth Drones kembali. Jika kita menyerang mereka, Rusia akan melenyapkan kita seperti mereka lakukan terhadap kawan kita ISIS di Suriah. Di samping kita butuh Iran untuk mengawasi Israel.”
Trump: “Lalu kita invasi Irak lagi.”
CIA: “Pak, kawan kita ISIS sudah menguasai 1/3 wilayah Irak.”
Trump: “Kenapa tidak seluruh Irak?”
CIA: “Kita butuh pemerintahan Shiah untuk mengawasi ISIS.”
Trump: “Saya akan melarang Muslim masuk Amerika.”
FBI: “Kita tak bisa melakukan itu pak.”.
Trump: “Kenapa tidak?”
FBI: “Nanti penduduk kita akan ketakutan.”
Trump: “Saya akan mengusir semua imigran ilegal ke perbatasan selatan.”
Border Patrol: “Jika mereka pergi, siapa yang akan membangun tembok?”
Trump: “Saya akan melarang visa H1B.”
USCIS: “Anda tak bisa melakukan itu pak.”
Trump: “Kenapa?”
Kepala Staf: “Jika anda melakukan itu, kita akan outsource operasional Gedung Putih ke Bangalore di India.”
Trump: “Gila! Jadi apa yang bisa saya lakukan sebagai presiden?”
CIA: “Nikmati saja Gedung putih pak. Kami akan menjaganya.”

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait