Senin, 3 Oktober 22

Mati Ketawa ala Reshuffle

Presiden Joko Widodo telah merombak kabinet pada 27 Juli 2016. Jokowi mencopot sembilan menteri dan menggeser posisi tiga menteri, plus satu kepala lembaga. Ada empat (eks) menteri yang namanya banyak menghiasi media sosial, yaitu Anies Baswedan, Ignasius Jonan, dan Rizal Ramli yang dicopot. Dan seorang menteri baru tapi lama Wiranto dan Sri Mulyani.

Harus diakui perombakan kabinet kali ini Jokowi sangat PD. Saking percaya dirinya sehingga ia berani mengambil menteri yang telah usang. Coba simak anekdot di bawah ini yang banyak menyebar di media sosial.

3 R :
Jangan meragukan sedikit pun kemampuan Jokowi membentuk kabinet dan mengatur kursi. Dia seorang pengusaha mebel. Hebatnya lagi, Jokowi kali ini memakai falsafah 3 R : Reuse, Reduce, dan Recycle.

Tak ada orang yang tahu apa alasan persisnya Jokowi mengganti menteri. Publik tentu ingat Anekdot: “Kemana Bajaj akan belok? Hanya Tuhan dan sopirnya yang tahu”. Ya, tentang pergantian menteri kapan, siapa orangnya dan apa alasannya hanya sopir bajaj eh Jokowi yang tahu. Mari kita menduga mengapa Anies, Jonan, dan Rizal Ramli diganti.

Anies Baswesan pernah satu bajaj dengan Jokowi saat pendaftaran capres dari markas tim sukses Jokowi-JK ke KPU pada 2014. Celakanya kini Anies tak tahu sama sekali mengapa ia diganti saat Jokowi sebagai presiden yang laiknya sopir bajaj. Tentang ketidaktahuan Anies mengapa dirinya diresafel simak lelucon di bawah ini:

Penyanyi dangdut dan Anies Baswedan:
Wartawan : “Mas Anies kira2 apa kesalahan Anda sehingga diresafel?”
Anies Baswedan :”Persisnya saya tak tahu. Tapi saya menduga himbauan mengantar anak hari pertama sekolah itu bermasalah.
Wartawan :”Kok bisa?”
Anies Baswedan : “Ya. Saya lupa sekalian menghimbau orang tua menjemput anak mereka. Itu seperti penyanyi dangdut yang bilang ‘ayo tangannya di atas’ tapi lupa ngajak menurunkan, sehingga ada penonton yg sampai rumah tangannya di atas”.
Wartawan :”Ah mas Anies bisa aja….”

Sekarang Jonan. Mantan Direktur PT Kereta Apai Indonesia ini pernah dipuji Jokowi karena sukses mengangkat PT KAI dan mengubah budaya masyarakat Indonesia konsumen kereta api. Banyak yang menduga Jokowi mulai tak suka Jonan karena ia terlalu kaku dalam kebijakannya. Misalnya soal Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung yang kurang setuju. Lalu soal Tol Laut, dan tentu saja kurangnya koordinasi antara Kemenhub dengan Kemen PU dan Pepera terkait jalan tol (kasus Brexit). Jonan bahkan pernah sesumbar hanya orang tolol yang menyuruh dirinya mundur.

Siapa yang Tolol?:
Wartawan : “Bapak pernah menyatakan hanya orang tolol yang menyuruh saya mundur. Berarti pak Jokowi tolol dong?”
Jonan : “Lho kalian ini gimana sih. Pak Jokowi tidak menyuruh saya mundur. Dia memecat saya…”
Wartawan : “….oh…”

Rizal Ramli si tukang kepret itu akhirnya dikepret Jokowi. Banyak orang menduga RR (singkatan ini susah diucapkan sendiri oleh siempunya nama) sebagai menteri koordinator tak bisa berkoordinasi dengan menteri lainnya. Malah lebih banyak membuat kegaduhan. Bahkan dengan Wapres JK ia menantang debat terbuka. Sungguh ia seorang menteri yang masih menganggap seolah berada di luar pemerintahan. Ia juga berseteru dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Kita semua tahu bagaimana kedekatan Jokowi dengan Ahok. Karena itu publik tak heran dalam rivalitas RR vs Ahok, seolah Jokowi mendukung Ahok.

Jokowi dukung Ahok?:
Chemistry antara Jokowi dan Ahok sangat cocok. Mereka sudah satu hati meski kantornya tak seatap lagi. Saat Presiden Jokowi pada awal pemerintahan berkunjung ke Brunei Darussalam dan meninjau “Kampung Air”, ia berkata, “Kita juga akan membangun kampung air di Indonesia. Saat itu musim hujan, di Jakarta Ahok sedang pusing dengan banjir pertamanya sebagai gubernur. Seorang pengamat kota mengatakan betapa hebatnya kedekatan Jokowi dan Ahok, “Jokowi berkata akan membangun Kampung Air di Indonesia, belum pulang ke Tanah Air, Ahok sudah membuat “kampung air” di Jakarta!”

Pengangkatan paling kontroversial adalah kembalinya Jenderal (purn) Wiranto ke dalam kabinet sebagai Menkopolhukam menggantika Luhut Binsar Panjaitan. Tak hanya disorot di dalam negeri munculnya Wiranto, yang pernah dicopot Presiden Gus Dur, juga dipermasalahkan publik mancanegara, terutama oleh para pegiat Hak Asasi Manusia (HAM). Soal ramainya orang membicarakan kembalinya Wiranro ke kabinet, salah satunya anekdot di bawah ini:

Takut ke Luar Negeri:
Jokowi : “Pak Wir nanti ikut saya kunjungan ke Belanda, Amerika Serikat dan Timor Leste. Siap ya pak”
Wiranto: “Maaf pak, saya masih konsolidasi internal di menkopolhukam.”
Jokowi : “Baik saya kasih waktu seminggu ya”
Wiranto : “Maksud saya, sebaiknya saya tak perlu ikut ke negara-negara itu, cukup bu menlu”.
Jokowi : “Pak Wir takut ditangkap ya……Kalau takut keluar negeri singkatan kam dalam menkopolhukam kita ganti kampung aja ya…..”

Terakhir Sri Mulyani. Tampaknya hanya nama ini yang mendapat sambutan positif dari publik. Ada sebuah media online yang membandingkan antara gaji Sri Mulyani sebagai direktur di Bank Dunia dengan gaji sebagai menteri keuangan di Indonesia. Bagai langit dan bumi. Ia tak mengejar gaji ia ingin kembali mengabdi kepada republik ini. Jua, ia sesuai janjinya saat ia meninggalkan Indonesia enam tahun lalu. “I’ll be back” Ya Sri Mulyani telah kembali. Orang jadi ingat lagu Jawa Didi Kemput “Sri kowe wis bali….”

Kembalinya Sri Mulyani kemudian menyebabkan aktivis Fadjroel Rachman dibully di media massa. Para netizen mengunggah apa yang dilakukan Fadjroel enam tahun lalu, menyuruh Sri Mulyani mundur, sementara kini ia meyambut gembira kedatangannya.

Namun kehadiran Sri Mulyani bukan berarti sama-sekali sepi kritik. Adalah Yudi Latif, aktivis dan akademisi, menulis status di Facebooknya: “Apa sebutan bagi pemimpin yg pada awal mengemudi menyalakan lampu sen sebelah kiri, namun di persimpangan malah berbelok ke kanan?”

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait