Rabu, 6 Juli 22

Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan Ditahan, Pengacara: Tak Seharusnya Dipidana

Akhirnya mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan ditahan oleh pihak Kejaksaan Agung kemarin (24/9), setelah sebelumnya, sejak 22 Maret 2018 telah ditetapkan sebagai tersangka. Karen mantan Dirut Pertamina Periode 2009-2014, menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi atas investasi Pertamina melalui anak perusahaannya PT Pertamina Hulu Energi (PHE), di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada tahun 2009.

Dalam kasus ini, Kejaksaan juga telah menetapkan Chief Legal Councel and Compliance PT Pertamina: Genades Panjaitan, dan mantan Direktur Keuangan PT Pertamina Frederik Siahaan, sebagai tersangka lainnya. Serta mantan Manager Merger dan Investasi (MNA) pada Direktorat Hulu PT Pertamina (Persero) Bayu Kristanto yang sudah ditetapkan sebagai tersangka lebih dulu, dan langsung ditahan selama 20 hari oleh tim penyidik.

Mereka ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan surat perintah penetapan tersangka, yang dikeluarkan oleh Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus. Mereka dikenakan Pasal 2 Ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999, sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Karen sangat kaget dengan keputusan atas penahananya. Kepada wartawan yang menemuinya saat ia hendak dibawa ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Pondok Bambu Jakarta Timur, ia menyatakan bahwa ia telah menjalani prosedur yang ada.

“Saya sebagai Dirut Pertamina saat itu sudah menjalani tugas sesuai prosedur yang ada”, ungkapnya kepada para wartawan, menjelang dibawa ke Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur

Pengacara Karen, Soesilo Aribowo kepada wartawan menyatakan bahwa kliennya tidak seharusnya dikenai sanksi pidana. Menurut Soesilo, kerugian negara yang terjadi dalam investasi Pertamina ini, tidak bisa semerta-merta dianggap sebagai perbuatan pidana korupsi. Apalagi lanjutnya, yang bersangkutan tidak punya niat korupsi dan tidak memperoleh keuntungan apapun dari proses investasi ini.

“Sampai sejauh ini tidak ada sesuatu yang diperoleh Bu Karen dalam investasi,” ujar Soesilo saat ditemui di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (25/9/2018).

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait