Kamis, 6 Oktober 22

Lukman Hakim Saifuddin: Keragaman Beragama adalah Sunatullah dan Bukan untuk Saling Menegasikan

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, keragaman agama merupakan Sunatullah yang tidak perlu dipersoalkan dan diseragamkan, serta menjadi bahan untuk saling menegasikan antar umatnya satu sama lain.

Hal itu disampaikan Menag saat membuka Simposium internasional bertema “Meneguhkan Indentitas Bangsa Indonesia” yang dihelat Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia di Al-Azhar University, Kairo, Mesir, Minggu (24/7).

Pada kesempatan itu, Menag juga menegaskan bahwa nilai-nilai agama dan religiusitas sebagai salah satu identitas bangsa Indonesia.

“Indonesia adalah bangsa yang sangat religius. Masyarakat Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai agama, dan itulah yang harus dijaga, dipelihara, dan dikembangkan,” kata Menag sebagaimana disiarkan laman Kemenag, Selasa (26/7/2016).

Menurutnya, Indonesia lahir melalui perjuangan panjang para pendahulu yang dilandasi spirit religiusitas dan nilai keagamaan. Secara arif, para pendiri bangsa bahkan menjadikan agama sebagai faktor perajut dan perangkai keragaman bangsa yang sangat plural sehingga keutuhan dan kesatuannya tetap terjaga.

“Nilai agama itulah sesungguhya yang berfungsi menjaga keutuhan kita. Apapun etnis dan suku bangsa kita, semua menjunjung tinggi nilai agama,” ujarnya.

Menag mengakui bahwa agama memiliki sisi dalam (esoterik/hakikat) dan sisi luar (eksoterik/syariat). Menurutnya, semua agama bertemu di titik yang sama pada sisi hakikat, yaitu agar manusia bisa hidup sesuai harkat dan martabatnya.

Agama juga memiliki sisi eksoterik yang beragam. Layaknya sebuah jalan, agama memiliki keragaman. Namun demikian, lanjut Menag, keragaman jalan adalah sesuatu yang sunnatullah dan tidak semestinya diseragamkan. Keragaman menjadi berkah manusia agar bisa saling melengkapi atas semua keterbatasan yang ada.

Untuk itu, Menag mengajak PPI untuk mengedepankan sisi dalam (hakikat) agama saat berbicara di tengah kemajemukan. Sebab, pada sisi esoterik, semua agama bertemu pada gelombang dan tujuan yang sama.

“Kalau bicara di tengah kemajemukan, maka bicara agama adalah bicara sisi dalamnya karena semua kita akan bertemu pada gelombang dan tujuan yang sama. Bukan mempertahankan sisi luar yang memang fitrahnya berbeda antara satu dengan yang lain. Dan perbedaan itu bukan untuk saling menegasikan antara kita,” tuturnya.

Kepada para diaspora pelajar Indonesia, Menag juga berpesan bahwa bangsa Indonesia patut bersyukur karena memiliki Pancasila yang seluruhnya merupakan nilai-nilai agama. Bahkan tidak hanya Pancasila, tapi konstitusi negara juga sarat dengan nilai-nilai agama.

“Konstitusi kita sarat dan kental dengan nilai agama. Karenanya, ketika mendalami ilmu pengetahuan di negara manapun, saya harap kalian tetap bisa menjaga bahwa religiusitas dan spiritualitas yang sudah menjadi identitas kita sebagai bangsa harus tetap dipelihara dan dikembangkan,” tandasnya.

Hadir mendampingi Menteri Agama dalam acara pembukaan antara lain Duta Besar RI untuk Mesir Helmy Fauzi, Direktur Pendidikan Tinggi Islam Amsal Bahtiar, Pgs. Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran Muchlis M Hanafi, dan Sekretaris Menteri Khoirul Huda Basyir.

Simposium yang dihadiri sekitar 300 perwakilan PPI dari 46 negara ini, mengundang sejumlah narasumber dari Indonesia, yakni Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, Yudi Latief, dan J. Kristiadi.

 

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait