Selasa, 3 Oktober 23

Limbah B3 PT PRIA Lima Tahun Hantui Penduduk Desa Lakardowo

Mojokerto – Penduduk Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto Provinsi Jawa Timur, tertipu. Karena, perusahaan PT Putra Restu Ibu Abadi (PT PRIA) yang menurut informasi awal beraktivitas memproduksi bata merah atau paving, ternyata adalah pengelola limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Warga desa yang meliputi 5 dusun: Lakardowo, Kedung Palang, Sumber Wuluh, Sambi Gembol, dan Selang, sudah lima tahun ini terus berjuang menuntut supaya perusahaan tersebut ditutup.

Perusahaan yang mulai beroperasi tahun 2010 dan belum mengantongi Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), pada awalnya tidak menjadi masalah bagi penduduk Desa Lakardowo, meski tanpa ada sosialisasi dari kepala desa dan tokoh masyarakat yang sudah terlebih dulu diajak bicara pihak PT PRIA.

Seorang penduduk Desa Lakardowo Heru Siswoyo pada Rabu, (7 /9/2016) menceritakan, mengetahui persis aktivitas PT PRIA selama ini. Sebab, sejak perusahaan itu beroperasi, Heru  menjadi karyawan dan mengikuti peraturan kerja perusahan.

“Penduduk ketika itu memperoleh informasi bukan pabrik limbah, tetapi pabrik bata merah atau paving seperti di daerah Mojosari, “ kata Heru.

Menurutnya, mungkin saja akan ada tanggapan lain, jika penduduk memperoleh sosialisasi bahwa PT PRIA yang berdiri di atas lahan 3 hektar adalah pengelola limbah B3. Heru pun mengaku bahwa Ia sendiri mungkin tak akan menjadi karyawan PT PRIA kendati harus tetap bertahan sebagai kuli bangunan di Kota Surabaya yang berjarak 45 kilometer dari Desa Lakardowo.

“Ketika itu memang informasinya simpang siur. Tapi yang saya dengar dari tetangga akan ada pabrik bata merah seperti di Mojosari, “ kata Heru sambil menyebut keberadaan perusahan bata merah dan paving di Kecamatan Mojosari Mojokerto yang mampu menyerap tenaga kerja penduduk sekitar.

Heru pun mengakui, awal menjadi karyawan kurang begitu tahu dengan limbah B3. Setahu dia, tumpukan material yang berserakan di lahan, ketika itu masih berbentuk lahan terbuka: pasir dan batu. Namun, setelah beberapa hari bekerja, material tersebut ternyata limbah B3 berupa fly ash, bottom ash, gypsum, dust grinding, dust casting, sand foundry, dan sand blasting, yang kesemuanya merupakan subtitusi bahan baku pembuatan batako dan bata merah.

“Ketika itu memang saya tidak tahu limbah. Jadi menganggap itu pasir biasa atau batu. Ya saya bekerja saja sesuai bidang saya sebagai tenaga kasar, mencampur limbah itu untuk menjadi batako,“ kata Heru seraya menceritakan hanya ada 8 penduduk Desa Lakardowo yang menjadi karyawan dari 3.000 lebih penduduk sedesa yang berjarak 25 kilometer dengan kota Kabupaten Mojokerto.

Ditambahkan Heru, lambat laun bukan limbah B3 bersifat padat saja yang dikelola PT PRIA. Perusahaan yang baru mengantongi SIUP tahun 2015 itu, juga mengolah limbah cair dan limbah medis.

“Setahu saya limbah medis dipilah atau disortir. Yang masih layak pakai oleh PT PRIA dijual kembali. Dan yang sudah tidak bisa dipakai ditimbun,“ jelas Heru.

Limbah B3 yang didatangkan oleh PT PRIA dari 1.200 lebih industri, rumah sakit, dan klinik kesehatan se-Jawa Timur itu, ditimbun ke sumur dalam (deep well injection) dengan kedalaman 30 meter.

Heru adalah salah satu pekerja yang menggali deep well injection pertama. Ketika itu dia tidak melihat, setelah melakukan penggalian di lapisan bawah proses pengelolaan dengan cara landfill  itu. Dilengkapi alat monitoring limbah B3, seperti geomembrane yang berfungsi menahan mengalirnya lindi limbah B3 ke serapan tanah.

“Saya ingat betul. Limbah medis ditimbun begitu saja tanpa ada lapisan pengaman. Setelah kami (pekerja) melakukan penimbunan kemudian dicor dengan semen,“ kisahnya.

Heru melanjutkan, bukan hanya limbah medis, namun ada juga semacam butiran diterjen yang baunya wangi menyengat berwarna hijau dan merah.

“Barang-barang itu dibungkus sak (zak) putih ditimbun menjadi satu dengan tong-tong yang berisi limbah B3 lainnya,“ sambung Heru.

Akibat aktivitas PT PRIA, penduduk Desa Lakardowo mulai mengeluh. Mereka merasakan gatal-gatal, suara bising truk open dumping limbah B3, dan debu yang bertebaran mengganggu pernafasan. Diprotes penduduk, PT PRIA sempat menghentikan aktivitasnya.

“Itu terjadi pada tahun 2011, pertengahanlah. Tetapi pabrik tetap melakukan aktivitas lain yaitu mendirikan bangunan,“ ucap Heru.

Pria yang tinggal di Dusun Selang ini juga mengungkapkan, bangunan itu didirikan di atas deep well injection  yang dicor secara permanen. Material bangunan rata-rata menggunakan limbah B3. Bahan urug untuk kedalaman 15 meter menggunakan battom ash dan fly ash.

“Nah dari situ mulai PT PRIA ada kantor dan gudang pertama. Pagar belum ada, masih beberapa pondasi,“ terang Heru.

Sejak ada kantor dan bangunan gudang, PT PRIA kembali beroperasi pada akhir 2011. Aktivitas perusahaan, kata Heru, berjalan lagi. Beberapa armada truk melakukan open dumping siang-malam.

Melihat kondisi lingkungan Desa Lakardowo mulai mengkhawatirkan dengan menyebarnya limbah B3, pada awal 2014 Heru memutuskan keluar dari PT PRIA.

“Saya lupa tanggalnya ketika keluar. Tetapi yang jelas awal 2014 saya sudah tidak menjadi karyawan pabrik,“ kata Heru.

Di lahan yang dulunya bertebing dan curam itu kini sudah berdiri perusahan pengelola limbah B3, yang secara administratif  berada di Dusun Kedung Palang.  Ada 17 bangunan berbentuk gudang di lokasi ini. Di bawah ke-8 bangunan, ungkap Heru, terdapat timbunan limbah B3: batu bara dan potongan besi yang sekarang lindi limbahnya mencemari air tanah di Desa Lakardowo.

Beberapa penduduk lain juga menceritakan, sejak mengantongi izin pada 2015, aktivitas PT PRIA semakin tak terbendung dan cenderung ngawur. Limbah B3 berkarakter apa pun banyak berserakan di lingkungan Dusun Kedung Palang, Dusun Sambi Gembol dan Sumber Wuluh serta di Dusun Greol Desa Sidorejo. Masih dalam kawasan Kecamatan Jetis, Mojokerto.

Pencemaran limbah B3 itu tidak pernah dijadikan bukti oleh instansi terkait. Banyak ekosistem yang hidup di saluran irigasi pertanian sawah penduduk yang mati.

“Ikan, katak, dan belut, hewan-hewan itu boleh dibilang mati secara massal,“ kata Usman penduduk Dusun Kedung Palang.

1 (2)

Ketua Masyarakat Peduli Lakardowo (MPP) Nurasim mengatakan, pencemaran  bukan hanya terjadi pada air tanah. Penduduk juga merasakan pembakaran maupun bongkar limbah B3. Tanaman penduduk yang dekat perusahaan pun tertutup debu.

Bersama penduduk lain, Nurasim sempat mendatangi instansi terkait dengan berdemo maupun dengan cara perwakilan. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mojokerto dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Mojokerto adalah jujukan pertama yang pernah didatangi.

Bahkan warga sudah melakukan aksi demo ke DPRD Provinsi jawa Timur dan Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Jawa Timur.

“Aksi demo warga memang sempat mendapat perhatian mereka. Seperti anggota DPRD Mojokerto pernah melakukan sidak (inspeksi mendadak),“ tutur Nurasim.

MPL mencatat,  instansi yang pernah melakukan sidak adalah Komisi Bidang Hukum dan Pemerintahan DPRD Mojokerto bersama petugas dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Timur, dan BLH Kabupaten Mojokerto, pada Jumat (3/6/2016).

Ketika itu, sepanjang siang hingga sore, mereka bersama BLH Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Mojekerto melakukan pertemuan dengan pihak manajemen PT PRIA.

Anggota legislatif melakukan pengecekan kelengkapan perizinan operasional PT PRIA. Selanjutnya, petugas dari BLH Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Mojokerto mengambil sampel air dari sumur pantau yang ada di kawasan perusahaan untuk diteliti di laboratorium.

Disampaikan anggota Komisi Bidang Hukum dan Pemerintahan DPRD Kabupaten Mojokerto Agus Siswahyudi ketika itu dalam sidaknya, PT PRIA pernah mengajukan izin  penimbunan limbah B3. Namun, kata Agus, karena suatu hal izin tersebut tidak jadi diajukan.

“Memang mereka (PT PRIA) mengajukan izin landfill (penimbunan di dalam tanah). Berhubung ada sesuatu hal, manajemen PT PRIA menarik permohonan izin itu,” ucap Agus.

Sidak selanjutnya dilakukan Kepala BLH Provinsi Jatim Bambang Sadono pada Sabtu, (11/6/2016).  Kedatangan Bambang ke PT PRIA tak jauh beda dengan instansi lain, sebagai tindak lanjut demo penduduk yang belakangan kerap dilakukan penduduk Desa Lakardowo.

Bambang dalam sidaknya berjanji akan mengajak aparat Kepolisian Daerah Jawa Timur untuk kroscek limbah B3 PT PRIA. Namun, hingga kini janji itu hanya isapan jempol bagi penduduk Desa Lakardowo.

Baru-baru ini, sidak kembali dilakukan anggota komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur pada Jumat, (9/9/ 2016).  Dalam sidak terungkap, keberadaan PT PRIA sama sekali tidak diketahui para wakil rakyat tersebut.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jatim Hamy Wahjunianto mengungkapkan hal itu di depan petugas BLH Provinsi Jawa Timur, Direktur PT PRIA Luluk Wara Hidayati dan Head of Ofiice PT PRIA Christine.

Hamy terang-terangan menyorot BLH Jawa Timur dalam pertemuan di ruang meeting PT PRIA itu. Kata Hamy, ketika hearing pembahasan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) murni 2016, Kepala BLH Provinsi Jawa Timur Bambang Sadono mengatakan, di Jawa Timur belum ada perusahaan pengelolaan limbah satu pun, terutama limbah B3.

“Lalu PT PRIA ini apa. Ini sebenarnya BLH Jawa Timur sudah tahu ada perusahaan yang mengelola limbah B3, hanya saja mereka tidak memberitahukan ke kami  yang berada di komisi D. Padahal kami sudah mengalokasikan anggaran untuk ini (pembuatan pengelolaan limbah B3), “ tandas Hamy tanpa menyebut nilai anggaran yang dialokasikan untuk pembuatan pengelaan limbah B3 di Jawa Timur .

Bagi penduduk Desa Lakardowo, sidak merupakan tanggung jawab instansi terkait. Namun, Nurasim mengatakan jika setelah sidak PT PRIA terus menjalankan aktivitasnya, hal itu sangat menyakitkan masyarakat.

“Sama saja menyakiti hati penduduk Desa Lakardowo yang sudah lima tahun menghendaki lingkungan bersih kembali,“ kata Nurasim.

Oleh sebab, Nurasim bersama penduduk lainnya berharap, aspirasi masyarakat mendapat dukungan instansi terkait. Nurasim sendiri mengaku khawatir dengan integritas yang dimiliki para pejabat sekarang.

“Jika benar KLHK yang mempunyai kewenangan penutupan, segera lakukan, sekaligus memulihkan kondisi Lakardowo. Limbah harus direlokasi dan kembalikan kondisi lingkungan kami,” tandas Nurasim.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait