Jumat, 24 September 21

Leonardo DiCaprio Kecam Deforestasi, Pengusaha Sawit dan Anggota DPR Malah Emosi

Jakarta – Peneliti Bisnis dan HAM Setara Institute M. Raziv Barokah mengatakan bahwa respon emosional pengusaha sawit asal Aceh, Asmar Arsyad, dan anggota Komisi IV DPR RI Firman Subagyo terhadap pernyataan aktor Hollywood Leonardo DiCaprio, merupakan tindakan keliru dan tidak produktif.

“Sikap itu tidak sesuai dengan agenda pembangunan pemerintahan Presiden Joko Widodo yang sedang fokus menata kembali tata kelola hutan dan sawit di Indonesia. Apalagi Dirjen Imigrasi yang mengancam akan mendeportasi  Leo jika terbukti mendiskreditkan negara Indonesia karena melakukan kampanye hitam (black campaign),” kata Raziv kepada indeksberita.com, di Jakarta, Kamis (31/3)

Sebagaimana diketahui Leonardo DiCaprio melakukan perjalanan ke Indonesia selama minggu terakhir Maret 2016, termasuk mengunjungi Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh, Minggu (27/3) lalu. Tujuan perjalanannya adalah dalam rangka kampanye melawan deforestasi global.

Catatan perjalanannya itu kemudian diunggah di akun instagramnya. Lewat media sosial itu, Leo menyatakan kekecewaannya terhadap sejumlah hewan yang terancam punah habibatnya, salah satunya gajah Sumatera.

Aktor peraih aktor film terbaik dari Academy Award dan Golden Globe Award 2016 itu,  menuding ekspansi perkebunan kelapa sawit menjadi penyebab rusaknya ekosistem hutan yang juga menjadi sumber rantai makanan hewan-hewan langka seperti Gajah Sumatera.

Berikut adalah postingan pernyataan Leonardo di akun istagramnya Leonardo DiCaprio (@leonardodicaprio), pada 28 Maret 2016.

The lowland #rainforest of the Leuser Ecosystem are considered the world’s best remaining habitat for the critically endangered Sumatran #elephant. In these forests, ancient elephant migratory paths are still used by some of the last #wild herds of Sumatran elephants. But the expansion of Palm Oil plantations is fragmenting the #forest and cutting off key elephant migratory corridors, making it more difficult for elephant families to find adequate sources of food and water. The Leonardo DiCaprio Foundation is supporting local partners to establish a mega-fauna sanctuary in the Leuser Ecosystem, last place on Earth where Sumatran orangutans, tigers, rhinos and elephants coexist in the wild. Click the link in the bio to stand with @haka_sumatra as they fight to protect the Leuser Ecosystem. #SaveLeuserEcosystem #Indonesia

Sontak, pernyataan Leonardo ini mendapat protes dari pengusaha sawit asal Aceh, Asmar Arsyad. “Leonardo salah sasaran. Mestinya dia kampanye pelestarian lingkungan di hutan Amazon yang habis untuk perkebunan minyak nabati kedelai,” kata Asmar.

Sementara itu, anggota Komisi IV DPR Firman Subagyo menyatakan bahwa kedatangan Leonardo DiCaprio ini ada maksud lain selain kepentingan kelestarian lingkungan.

“Sasarannya jelas. Pasti dia akan menembak perkebunan kelapa sawit dengan membungkusnya soal lingkungan,” ujar Firman.

Firman pun yakin apabila kedatangan Leonardo ini difasilitasi LSM-LSM berkedok lingkungan yang selama ini merongrong kedaulatan Indonesia.

“Oleh karena itu saya sampaikan kepada Kepala BIN dan Kapolri untuk menindak tegas terhadap kelompok-kelompok tersebut. Saya minta (Ditjen) Imigrasi untuk mendeportasi Leonardo apabila dia terbukti melakukan black campaign sawit kita,”

Menurut Raziv, tanpa informasi dari Leo, publik sudah mafhum bagaimana buruknya tata kelola hutan Indonesian yang nyaris gagal menjaga keseimbangan ekosistem.

“Kebakaran hutan yang selama ini terjadi, juga telah membuka mata dunia bagaimana hutan di Indonesia dieksploitasi tanpa batas, tanpa control dan tanpa akuntabilitas memadai,” kata Raziv.

COP21 di Paris beberapa bulan lalu menunjukkan bahwa menjaga keseimbangan ekosistem dan fungsi ekologis hutan adalah concern bangsa2 di dunia. Jokowi pun menyatakan komitmennya untuk menjaga hutan di forum tersebut.

“Jadi, (sebetulnya) tidak ada hal baru dari apa yang disampaikan Leo. Apalagi, Leo bersama LSM Indonesia dianggap mendiskreditkan Indonesia,” ujarnya.

“Reaksi pengusaha dan sejumlah pejabat Indonesia yang berlebihan justru menimbulkan tanda tanya baru. Sikap akomodatif harusnya ditujukan oleh pemerintah Indonesia atas kedatangan Leo yang masih peduli dengan ekosistem hutan Sumatera,” jelasnya.

Menurut Raziv, berbagai temuan multi pihak terkait kondisi ekosistem dan kehutanan semestinya menjadi aspirasi konstruktif yang menjadi basis penataan tata kelola. Mainstreaming prinsip HAM dalam bisnis telah menjadi komitmen internasional.

“Karena itu tata kelola hutan harus menyatukan tiga kepentingan masyarakat sipil, sektor bisnis, dan konservasi. Pemerintah bertindak sebagai fasilitator,” pungkas Raziv.

Berita Terbaru
Berita Terkait