Selasa, 6 Desember 22

Lebaran dan Perekonomian di Bandung

Di minggu pertama puasa, biasanya sudah tampak kesibukan belanja khususnya bahan pangan, dan harga bahan bahan pokok mulai bergerak naik dipicu oleh tingginya permintaan pasar, Para ibu memburu pusat pusat perbelanjaan, pasar pasar tradisional, yang terkadang belanja tanpa terkendali,tanpa memikirkan prioritas kebutuhan. Ini yang membuat inflansi menjadi tinggi, masyarakat belum tersadar sampai kearah sana, karena memang seolah olah sudah menjadi budaya tersendiri.

Dua minggu jelang lebaran, biasanya masyarakat sudah mulai beralih perhatian, dari belanja kebutuhan pangan menjadi keperluan persiapan menyambut lebaran. Sudah barang tentu yang dicari bukan hanya kebutuhan untuk panganan di hari raya, juga baju lebaran ataupun parcel lebaran. Tapi di tahun ini, terlihat penurunan drastis. Mal dan toko toko baju lainnya,seputar daerah bandung selatan, bandung timur dan bandung tengah. pada hari libur masih sepi, tidak ada lonjakan keramaian orang berbelanja. yang seharusnya kesempataan ini dipakai untuk mecari dan membeli ataupun hanya sekedar melihat lihat saja. Perbedaan sangat mencolok di tahun tahun sebelumnya, pada minggu ke 2 jelang lebaran sudah terlihat menggeliatnya minat masyarakat. Yang menarik dari fenomena tersebut adalah pertanyaaan: apakah daya beli masyarakat terjadi penurunan ? Ataukah adanya kesadaran dan semakin cerdasnya pola pikir akan prioritas belanja sesuai kebutuhan?

Terdapat dua sisi yang saling bersinggungan ketika itu terjadi, yaitu omset dari mal mal atau toko toko baju tersebut dipastikan terjadi penurunan. Biasanya mereka dapat meraih untung besar pada hari hari tertentu menjelang lebaran, kemudian untungnya menjadi kecil. Dan perubahan ini akan lebih terasa untuk para pedagang kecil. Keluhan dari para penjual sudah mulai ramai terdengar, betapa tidak pada 2 minggu berjalan ini belum ada peningkatan pembelian bahkan cenderung sepi seperti hari hari biasanya saja. Dari survey sederhana yang saya lakukan pada para pedagang di sebuah mall tematik dikawasan bandung timur, para penjual menuturkan omset penjualan pada puasa sampai minggu kedua kali ini mengalami penurunan hampir mencapai 50% nya dari tahun tahun sebelumnya. Hal yang sama juga dituturkan oleh pengelola Yoga, salah satu pengelola pusat perbelanjaan tersebut, bahwa memang pada tahun ini terjadinya penurunan minat belanja masyarakat,
“Biasanya pada minggu kedua sudah mulai ramai oleh pengunjung dan akan mencapai puncaknya di minggu terakhir jelang lebaran, tapi di tahun kok terasa sepi. Padahal kami juga berusaha menaikan omset para pedagang dengan memberikan informasi seputar produk produk yang dipasarkan di kawasan belanja ini, dalam bentuk selebaran, pamflet, spanduk, bahkan dengan noucher belanja dan hadiah lain yang menarik” demikian penjelasan Yoga pada saya.

Kawasan pusat perbelanjaan di daerah Bandung tersebut memang biasanya ramai didatangi oleh masyarakat yang tinggal di daerah kabupaten Bandung, sehingga saat pusat belanja itu sepi maka kita perlu meneropongnya lebih dalam lagi. Secara umum kondisi ekonomi Kabupaten Bandung dipengaruhi oleh indikator ekonomi makro Indonesia dan Provinsi Jawa Barat. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bandung memang tumbuh, tapi pertumbuhannya menurun jika dibanding tahun lalu. Tahun lalu tingkat pertumbuhan sebesar 5.47% dan untuk kwartal I tahun 2016 pertumbuhan menurun, menjadi 5.08%, Adanya tekanan ekonomi global, mulai dari migas sampai penurunan harga komoditas lainnya, mengakibatkan pertumbuhan ekonomi secara nasional mengalami perlambatan. Terpaan ekonomi seperti kenaikan beberapa bahan pokok seperti beras, produk hortikultura, dan meningkatnya hargaTDL (tarif dasar listrik) secara nasional maupun regional berakibat pada melemahnya kinerja ekonomi wilayah. Pengaruh secara nasional tersebut ternyata masih mampu menciptakan pertumbuhan perekonominan di Kabupaten Bandung, tetapi mungkin telah memaksa masyarakat untuk lebih hati-hati dalam berbelanja. Faktor lainnya adalah dunia usaha yang masih terus berusaha survive, sehingga THR bagi para pegawai juga belum turun. Ini tentu memberikan pengaruh pada tertundanya keinginan masyarakat akan belanja kebutuhan baju lebaran. Mudah-mudahan jelang lebaran THR turun, ekonomi kembali bergulir

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait