Jumat, 2 Desember 22

Ladu: Ketika Memaknai Tuhan Tidak Melulu Nunjuk Ke Atas

Judul        : Ladu
Pengarang    : Tosca Santoso
Penerbit    : Kaliandra
Tahun terbit    : 2016
Tebal        : 321 halaman

Bagi Arti, hidup yang bermula dari Ladu akan kembali menjadi ladu. Cukup sudah, tidak ada keabadian baik di surga maupun neraka. Kegamblangan akan keabadian pun didapatkannya melalui perjalanan yang panjang, melalui observasi peradaban pascaletusan Gunung Merapi (2010), Kelud (2014) hingga tebaran debu vulkanik yang diakibatkan oleh letusan Gunung Tambora beberapa ratus tahun silam.

“Mereka yang mati tak pernah kembali. Kita yang masih hidup juga tak bisa bertanya: apa yang ada setelah kematian. Cuma, untuk diriku, aku ingin cukupkan dengan yang ada. Di depan amuk gunung api, semua manusia sama. Kita ladu, satu awal satu muara”, ucap.

Ladu yang berarti “endapan tanah merah”, merupakan Novel yang mengangkat kisah cinta pasangan yang baru saja menikah, mengikat cinta dan janji di tepi pagar jurang Kaliadem Gunung Merapi. Adalah pernikahan Yanis Kendahe seorang arkeolog yang hobi meneliti batu dan mengoleksi ladu, sedangkan Sunarti yang akrab dipanggil Arti adalah antropolog yang seringkali mengaitkan peradaban paskabencana dengan keberadaan sang Pencipta.

Pemaknaan rencana Tuhan kian memuncak ketika sahabat Yanis dan Arti, yaitu Maman suami dari Frida, meninggal karena kanker darah. Kepergian sang sahabat meninggalkan kekosongan yang begitu dalam. Hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke Hutan Lore Lidu di Sulawesi Tengah dengan menggunakan segala sumberdaya yang ada.

Kehampaan pun hilang menjadi secercah cahaya, ketika Arti menyadari bahwa Ia mengandung. Buah hati yang datang di tengah kegalauan sepasang suami istri ini mendatangkan harapan, harapan akan esok yang lebih cerah mengisi kekosongan yang ditinggalkan Maman.

Karena calon buah hatilah Arti dan Yanis memutuskan untuk menikah secara agama. Karena calon buah hatilah mereka memutuskan untuk pindah ke lereng Gunung Geulis, menjadi petani kopi dan memuliakannya. Mengingat bahwa passion Yanis tidak hanya untuk Ladu dan Arti, namun juga untuk kopi beserta sejarah dan filosofinya.

Tidak hanya menceritakan perbedaan pandangan sang suami yang beragama Kristen dan Istri yang memutuskan untuk menjadi agnostik. Begitu pula dengan pemaknaan maksud dan tujuanTuhan yang mendalam. Novel ini mengajarkan pembaca untuk terus mensyukuri apa yang diperoleh di masa sekarang, dengan tanpa melupakan sejarah dan mengabaikan masa depan.

Ladu juga dapat dikategorikan sebagai catatan perjalanan sang penulis mengelilingi beberapa daerah di Indonesia, yang dikemas menjadi novel yang apik. Dimana perjalanan dimulai dari Kaliadem Merapi, Yogyakarta menuju Lombok Timur, hingga Taman Nasional Lore Lidu di Sulawesi Tengah, dan kembali lagi ke Jakarta menuju Gunung Geulis Jawa Barat, rumah bagi Yanis, Arti dan calon buah hatinya “Ladu Gunung”.

Tidak melulu serius meski penulis juga tidak memberikan unsur humor dalam novelnya, dialog kekenesan pasangan kekasih ini dapat menjadi bahan cekikikan. Bagaimana tidak, baik Yanis dan Arti selalu saja beradu gombal. Bagi pembaca di usia 30 tahun ke bawah, gombalan yang ditawarkan oleh Santoso bisa disebut kekinian dan bagi yang sudah menikah, mungkin bisa mengingatkan mereka bagaimana ketika dahulu pernah pedekatean.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait