Jumat, 9 Desember 22

Ladu: Ketika Memaknai Tuhan Tidak Melulu Keatas

Judul               : Ladu

Pengarang       : Tosca Santoso

Penerbit           : Kaliandra

Tahunterbit      : 2016

Tebal               : 321 halaman

Bagi Arti, hidup yang bermula dari ladu akan kembali menjadi ladu. Cukup sudah, tidak ada keabadian baik di surge maupun neraka. Kegamblangan akan keabadian pun didapatkannya melalui perjalanan yang panjang, melalui observasi peradaban paska letusan Gunung Merapi (2010), Kelud (2014) hingga tebaran debu vulkanik yang diakibatkan oleh letusan Gunung Tambora beberapa ratus tahun silam.

Mereka yang mati tak pernah kembali. Kita yang masih hidup juga tak bias bertanya: apa yang ada setelah kematian. Cuma, untuk diriku, aku ingin cukupkan dengan yang ada. Di depan amuk gunung api, semua manusia sama. Kita ladu, satu awal satu muara”, ucapnya.

Konsep pemaknaan tersebut dituangkan dalam situs pribadi Arti dan suaminya, Yanis Kendahe, berjudul Ladu.com/. Apa yang Arti tulis cenderung kontroversial, bahkan salah seorang komentator beranggapan bahwa Arti danYanis lebih memandang keabadian sebagai suatu proses materialistik. Itu masih mending, beberapa ada yang mengatakan murtad dan kafir.

Ladu yang berarti “endapan tanah merah”, merupakan Novel yang mengangkat kisah cinta pasangan yang baru saja menikah, mengikat cinta dan janji di tepi pager jurang Kaliadem Gunung Merapi. Adalah pernikahan Yanis Kendahe seorang arkeolog yang hobi meneliti batu dan mengoleksi ladu, sedangkan Sunarti yang akrab dipanggil Arti adalah antropolog yang seringkali mengaitkan peradaban paskabencana dengan keberadaan sang Pencipta.

Pemaknaan rencana Tuhan kian memuncak ketika sahabat Yanis dan Arti, yaitu Maman suami dari Frida, meninggal karena kanker darah, Leukimia. Kepergian sang sahaba tmeninggalkan kekosongan yang begitu dalam. Hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke Hutan Lore Lidu di Sulawesi Tengah dengan menggunakan segala sumber daya yang ada.

Kehampaan pun hilang menjadi secercak cahaya, ketika Arti menyadari bahwa Ia mengandung. Buah hati yang datang di tengah kegalauan sepasang suami istri ini mendatangkan harapan, harapan akan esok yang lebih cerah mengisi kekosongan yang ditinggalkan Maman.

Karena calon buah hatilah Arti dan Yanis memutuskan untuk menikah secara agama. Karena calon buah hatilah mereka memutuskan untuk pindah kelereng Gunung Geulis, menjadi petani kopi dan memuliakannya. Mengingat bahwa passion Yanis tidak hanya untuk Ladu dan Arti, namun juga untuk kopi beserta sejarah dan filosofinya.

Tidak hanya menceritakan perbedaanpan dangan sang suami yang beragama Kristen dan Istri yang memutuskan untuk menjadi agnostik. Begitu pula dengan pemaknaan maksud dan tujuan Tuhan yang mendalam. Novel ini mengajarkan pembaca untuk terus mensyukuri apa yang diperoleh di masa sekarang, dengan tanpa melupakan sejarah dan mengabaikan masa depan.

Ladu juga dapat dikategorikan sebagai catatan perjalanan sang penulis mengelilingi beberapa daerah di Indonesia, Tosca Santoso, yang dikemas menjadi novel yang apik. Di mana perjalanan dimulai dari Kaliadem Merapi Yogyakarta menuju Lombok Timur, hingga Taman Nasional Lore Lidu di Sulawesi Tengah dan kembali lagi ke Jakarta menuju Gunung Geulis Jawa Barat, rumah bagiYanis, Arti dan calon buah hatinya “LaduGunung”.

Tidak melulu serius meski penulis juga tidak memberikan unsur humor dalam novelnya, dialog kekenesan pasangan kekasih ini dapat menjadi bahan cekikikan. Bagaimana tidak, baik Yanis dan Arti selalu saja beradu gombal. Bagi pembaca diusia 30 tahun ke bawah, gombalan yang ditawarkan oleh Santoso bisa disebut kekinian dan bagi yang sudah menikah, mungkin bias mengingatkan mereka bagaimana ketika dahulu pernah pedekatean.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait