Jumat, 2 Desember 22
Beranda Featured Korea Utara Kembali Luncurkan Rudal, Semenanjung Korea Memanas

Korea Utara Kembali Luncurkan Rudal, Semenanjung Korea Memanas

0
Korea Utara Kembali Luncurkan Rudal, Semenanjung Korea Memanas

Seoul – Korea Utara kembali berulah. Satuan militer Negara komunis tersebut meluncurkan sedikitnya satu rudal balistik yang terbang sekitar 800 km (500 mil), Jumat pagi (18/3/2016), di lepas pantai timur Semenanjung Korea. Demikian pernyataan Kepala Staf Gabungan Korea Selatan sebagaimana dilansir Reuters.

Peluncuran itu dilakukan di tengah ketegangan yang meningkat di semenanjung Korea setelah Korea Utara menolak sanksi Dewan Keamanan PBB yang dikenakan bulan lalu sebagai tanggapan atas uji coba nuklir Negara komunis itu pada Januari 2016, dan setelah Amerika Serikat mengeluarkan sanksi baru minggu ini.

Kantor Berita Korea Selatan, Yonhap melaporkan, jenis misil tersebut kemungkinan adalah rudal jarak menengah, Rodong. Menurut Kementerian Pertahanan Korea Selatan, Rodong diperkirakan punya jangkauan maksimum 1.300 km, yang mampu menjangkau hingga daratan Jepang.

Pejabat resmi Amerika Serikat di Washington mengatakan, bahwa kelihatannya rudal jarak menengah ini diluncurkan dari peluncur yang bergerak.

Peluncuran rudal ini tercatat bukan yang pertama kali dilakukan Korea Utara pada tahun ini. Kamis pagi (10/3) lalu, negara ini menembakkan dua rudal balistik jarak pendek ke laut lepas.

Sebelumnya, Korea Utara juga melakukan uji coba nuklir keempat di bulan Januari dan meluncurkan roket jarak jauh pada Februari lalu. Saat itu, militer Negara berpaham komunis tersebut, menembakkan enam roket ke laut lepas, dengan menggunakan sistem multi peluncuran roket (Multiple Launch Rocket System-MLRS) dari Kota Wonsan.

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, yang mengawasi langsung peluncuran saat itu, memerintahkan militernya untuk siap untuk melancarkan serangan preemptive terhadap musuh negaranya.

Rabu (9/3), Kim mengatakan, negaranya telah membuat miniatur hulu ledak nuklir yang dapat dipasang pada rudal balistik. Dia juga telah memerintahkan untuk meningkatkan kekuatan dan ketepatan senjata tersebut. Ini merupakan pernyataan Kim langsung pertama mengenai miniaturisasi huku ledak nuklir milik Korea Utara.

Menueurt sejumlah analis militer Korea Utara diduga memiliki cadangan rudal jarak pendek dalam jumlah besar. Selain itu, negera ini juga sudah sejak lama terus mengembangkan jarak jauh atau rudal antar benua (Inter Continental Ballistic Missile-ICBM).

Sebagaimana diketahui, Korea Utara dan Korea Selatan secara teknis masih dalam kondisi perang hingga saat ini. Perang Korea yang berlangsung selama tiga tahun pada 1950-1953, hanya berakhir melalui gencatan senjata yang ditandatangani pada 27 Juli 1953.

Proposal gencatan senjata dari India disetujui oleh Korea Utara, China, dan tentara PBB pimpinan Amerika Serikat. Akhirnya, mereka sepakat untuk melakukan gencatan senjata dengan batas di garis paralel 380. Dalam persetujuan tersebut tertulis bahwa pihak-pihak yang terlibat menciptakan sebuah zona demiliterisasi (DMZ).

Sementara, Presiden Korea Selatan saat itu, Syngman Rhee, menolak untuk menandatangani. Karena itu, Korea Selatan dianggap tidak berpartisipasi dalam perjanjian.