Minggu, 26 Juni 22

Kompetensi dan Inovasi yang Dibutuhkan Dalam Pengelolaan GBK Pasca Asian Paragames

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono bersama Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Selasa (16/10/2018), mendampingi Presiden Joko Widodo, meninjau fasilitas ramah disabilitas di komplek Gelora Bung Karno (GBK). Sementara Menteri Basuki mengingatkan tentang pengelolaan GBK pasca Asian Paragames.

Dalam kunjungan tersebut, Presiden menilai fasilitas bagi penyandang disabilitas di GBK sudah baik. Namun menurut presiden ada beberapa hal yang perlu perbaikan, misalnya wastafel yang menurutnya terlalu tinggi khususnya bagi mereka yang menggunakan kursi roda, dan perbaikan pada pintu toilet yang seharusnya pintu geser.

“Kita ingin mendorong agar semua provinsi, kota, kabupaten itu juga ramah terhadap disabilitas. Ini yang ke depan ingin terus kita dorong sehingga yang kurang apa, nanti secara detail saya diberi masukan oleh Pak Menteri PU. Pak Gubernur juga beri masukan,” urai Presiden.

Sementara, Menteri Basuki melalui rilis dari Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR menjelaskan, GBK saat dibangun oleh Kementerian PUPR untuk Asian Paragames 2018, telah dilengkapi fasilitas untuk penyandang disabilitas. Kelengkapan tersebut dibangun, menurut Menteri Basuki, selain untuk kebutuhan Asian Paragames, juga disesuaikan dengan standar dan persyaratan yang berlaku, seperti UU No.28/2002 tentang Bangunan Gedung, UU No.8/2016 tentang Penyandang Disabilitas dan Peraturan Menteri PUPR No. 14 tahun 2017 tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan.

Fasilitas ramah penyandang disabilitas di GBK (Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)
Fasilitas ramah penyandang disabilitas di GBK (Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)

Menteri Basuki kemudian mengingatkan, Kompleks GBK sebagai venue olahraga berstandar Internasional memerlukan perawatan yang baik. Untuk itu menurutnya, perlu orang yang kompeten dan inovatif, dalam pengelolaannya.

“Pertama adalah perawatan lansekap/taman di Kompleks GBK lebih efektif menggunakan sprinkler dibandingkan mobil tangki. Kedua aspek kebersihan kawasan. Ini tidak mudah, sehingga perlu orang yang kompeten dalam manajemen ‘sport and leisure’. Ketiga biaya perawatan. Pihak pengelola harus inovatif, karena venue yang dibangun berciri multifungsi sehingga dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan non keolahragaan,” ujar Menteri Basuki.

Sebanyak 20 venues yang digunakan untuk pertandingan & latihan serta non venue yang dibangun Kementerian PUPR melalui Ditjen Cipta Karya digunakan untuk pertandingan Asian Paragames ke-3 seperti Venue Panahan, Stadion Utama, Istora, Hockey, Aquatic Center, Basket, dan Tenis Indoor. Fasilitas difable yang disediakan yakni seperti di Aquatic Center dan stadion utama telah dilengkapi jalur landai (ramps), tribun khusus difabel berkapasitas masing-masing dan 100 dan 264 kursi, serta toilet difable seluas 10,6 m2 di akuatik dan toilet difabel seluas 66,65 m2 di GBK.

Selain itu Kementerian PUPR melalui Ditjen Penyediaan Perumahan telah melakukan renovasi sebanyak 1.000 kamar di Wisma Atlet Kemayoran yang digunakan para atlet Asian Para Games juga telah dilengkapi fasilitas difabel. Diantaranya penambahan ramp grab bar kamar mandi pada 200 unit hunian kursi roda, lift untuk akses kursi roda, ramp & treshold pada lantai beda elevasi, tactile pada lantai untuk penuntun arah, railing , signage dan directory pada area publik.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait